kang Fu@d Nur' Blog

goResan sederhana,,,ku harap membekas dalam hatiku,,juga hatimu

“Sekeping Hati”

Di sebalik tabir ragawi

ada rahasia agung tersembunyi dalam diri

“sekeping hati”

kupercayakan hati ini kepada-MU,
ku kembalikan rasa ini kepada-MU,
kuleburkan, keresahanku, gelisahku, rindu dan tangisku..

Dalam munajat cinta kepada-MU..

smoga KAU anugerahi kepingan ini

menjadi sekeping hati yang takut pada “ILLAHI”

Amin :)

 

Brebes, 17412

17 April 2012 Posted by | Tak Berkategori | | 2 Komentar

Akhir Senja

Terkenang teriakan ombak,…

saat jemari bercengkerama dengan lembut pasir pantai

kala kicauan burung dan lembut belaian sang bayu membawa jiwaku ke alam mimpi

duduk termenung dibawah langit senja

menggenggam dunia seisinya

hingga pekikkan halilintar memekakkan genderang telingaku, mengembalikan nalarku

membawaku pada wujudku

Pria di Akhir Senja

 

 

9 Februari 2012 Posted by | Tak Berkategori | 2 Komentar

maya, nyata Cinta suciku untukmu

cinta adalah ungkapan hati,

jika kasih tulus telah diberikan ,

cinta suci telah diikrarkan ,

ia adalah benar-benar nyata

meski maya namun ia perasaan yg nyata,

dan nama yang telah tersemat dalam kalbu takkan pernah hilang

meski hanya bermula maya namun rasa itu benar-benar nyata.

dan akan tetap terukir dan terkenang selamanya,

4 Mei 2011 Posted by | Rasa Hati | 5 Komentar

when I need yoU

Ketika aku membutuhkanmu
Aku hanya menutup mataku
dan aku ingin merasakan detak jantungmu, meski dari jauh

Ketika aku membutuhkan cinta
Aku mengulurkan tanganku dan aku menyentuh cinta
Aku tidak pernah tahu ada begitu banyak cinta
kasih tulus yang kau berikan untukku

Ketika aku membutuhkanmu
Aku hanya memejamkan mata
Dan kau benar di sisiku

Kau berikan dekap hangatmu

Membuatku tetap hangat dalam dingin, sepi sunyi senyap di malam hari

when I need yoU

1 April 2011 Posted by | Rasa Hati | | 1 Komentar

Sepenggal Do’a

Saat aku menulis ini di luar terdengar merdu rinai hujan, sama seperti hari pertama bersama dirimu di malam pertengahan Nopember silam. Meski hanya bertemankan dengan kegaguan dan walau hanya sebentar aku tak akan pernah lupa, malam pertengahan Nopember itu mungkin diriku sangat menjemukan dengan segenap kebisuannya mungkin karena menahan getar di dada, berjalan menapaki langkah bersama Perempuan aneh dengan kaos oblong yang  terpampang wajah garang Suekarno, tanpa make-up, justru itu yang membuat berbeda, amnesia lah, salah kostum  candanya,…

 

Hari ini (18 Februari) merupakan hari ia pertama terlahir di dunia, aku tidak bisa memberikan apa-apa hanya sepenggal do’a yang bisa kupanjatkan kepada-NYA semoga dirimu memperoleh masa penuh kebahagiaan dengan segala sesuatu yang engkau dambakan dan layak dapatkan, dan entah suatu sa’at nanti jika IA berkenan menemukan kita kembali, aku ingin melihat lekukan senyum dalam manis wajahmu, namun apabila tiada pernah lagi kita dipertemukan kembali oleh-NYA, aku hanya bisa berharap di akhir senja ada angin atau burung yang sudi membawakan kabar berita bahwa gadis manis itu telah bahagia di sana.

 

Selamat milad ke 23 semoga senantiasa dalam kebahagiaan, naungan Rahmat dan Ridho-NYA. Amin :)

 

 

 

 

Kudus,  18  Februari 2011

 

 

 

Pria di Akhir Senja

19 Februari 2011 Posted by | Tak Berkategori | , , , | 4 Komentar

Takkan Pernah Menyalahkanmu

berjuta cerita tercipta sa’at aku mengenalmu

yang kunikmati sa’at perkelanaanku bersama sang waktu

canda

tawa

rindu

selalu setia menemani

meski terkadang terasa sakit dalam hati,

namun akan selalu aku nikmati

mereka senantiasa berjalan beriringan mendampingi pengembaraanku

aku sangat bersyukur telah mengenal dirimu

telah ku cicipi cita rasa yang selama ini belum pernah aku rasa

meski tikaman demi tikaman belati yang dilumuri racun rindu selalu menghujam dan menyayat jantung dan hatiku

kuterima dan kursakan dengan tegar

takkan pernah aku menyalahkanmu

telah kuputuskan sendiri

untuk mengenal dan mencintaimu

 

 

Desember 10

Kang Fuad

30 Desember 2010 Posted by | Rasa Hati | 1 Komentar

Syukurku

Harusnya tak ku temukan alasan utk mengeluh.

Apalagi berputus asa dari rahmat-MU.

Tapi entah ada apa dg cara berfikirku sekarang?

Semua terasa berat.

Mungkinkah ini pertanda lemahnya sikap syukur hamba pada Engkau?

Atau mungkinkah ini isyarat rendahnya keimanan hamba.

Ya Alloh Tuhan yang memiliki segala maha.

La khaulawalakuata ila billah.

Mohon antarkan jiwa yg lemah ini dalam rahmat-MU.

Dalam pelukan syukur yg sbenar-benarnya.

Agar nafas yang masih Engkau ijinkan berteman dg waktu ini mengukir nama-MU di ruang-ruang kalbu yg telah Engkau ciptakan.

Jauhkan segala samar yg pernah menyeret hamba pada rayuan nafsu dan syahwat.

Agar ketika perceraianku dg waktu berakhir dg khusnul khotimah.

Amin.,..:)

 

Desember 10

Kang Fuad

30 Desember 2010 Posted by | Goresan | Tinggalkan komentar

Tak mampu Aku Mencernanya

tak ada lg kehirauan yg mampu ku cerna

tidak jarak ini

tak juga waktu yg mulai mengajariku untuk merindu

aku suka caranya mengguruiku

ada getaran

ada ketakutan

ada senyum

dan ada rindu yg selalu melamarkan senyum untuk_ku

kau tahu

saat jiwa yg ada dalam diriku ditikami ketidak hadiranmu

aku igin tersiksa

namun aku bingung mendefinisikan rasa tersiksa jka mengingatmu

gadis manis

Aku mencintaimu

dan igin ku kenalkan cintaku pada hatimu

lalu biarkan mereka saling memeluk hingga senja terakhir yg di ijinkan Tuhan

 

Desember 10

Kang Fuad

30 Desember 2010 Posted by | Rasa Hati | | Tinggalkan komentar

Senja yang Berbeda

Sudah 3 x ini saya berkunjung dan sengaja datang ke tempat ini.meski saya belum tahu benar nama dari tempat ini. yang jelas, tempat ini berada di salah satu desa di Kab. Jepara desa “semat” sebuah desa yang berada di pesisir pantai selatan teluk awur, mungkin tidak perlu terlalu detail meski saya sendiri benar-benar ingin mengetahuinya. yang jelas, saya datang ke tempat ini untuk melepas penat, lelah, kerinduan, dan seambrek tetek bengek lainnya.

duduk termenung di tempat mirip dermaga yang berdiri di pantai lepas membuat saya menjadi lebih nyaman menikmati indahnya langit senja yang menjingga, terutama dua kali kedatangan saya di tempat ini sebelumnya

nyanyian ombak senantiasa setia menemani kesendirian saya, indah panorama senja melepas semua beban dan kerinduan dalam dada.

namun tidak di sore ini…..

wajah langit gelap yang tertutup oleh awan kelabu menjadi salah satu penyebabnya, ah……. sore ini tiada senja,,,,,,dengan indah langit jingganya..

sore yang hujan, angin, kilat yang menyambar-nyambar menjadikan laut yang biasanya kalem kian membuncah,,, tinggi gelombang tiada terkira, omak yang kian menggulung menghantam tepi pantai…

air yang tadinya kemerling dengan warna hiru “biru” nya menjadi keruh….

timbul kengerian di hati ini melihat fenomena itu,, sedetik kemudian saya terhenyak….!!!!

saya lihat 3 orang bocah yang sedang memungut dan mengais sesuatu entah apa dengan tangan-tangan lembutnya…. sesuatu yang terbawa gulungan-gulungan gelombang, saya lihat masih tetap saja mata mereka bergerak ke sana dan kemari mencari-cari sesuatu entah apa..

mereka tetap berdiri di tengah-tengah terjangan gelombang, sesekali tangan-tangan kecilnya mengais-ngais dan memasukkan barang yang mereka gapai itu ke dalam sebuah karung…….

gila…!!! edan……!!! benar-benar gila…!!!

apa yang sedang mereka cari…..

apa yang sedang mereka kumpulkan…

hingga nyawa mereka pertaruhkan….!!!

kegilaan itu membuat saya benar-benar semakin penasaran

saya semakin mendekat, berjalan menuju ke tiga bocah gila itu…

tapi saya berhenti sejenak di tepi, sebentar mengamati kegilaan dan kenekatan mereka

bergumul di antara tumpukan sampah-sampah dan bertarung melawan terjangan gelombang yang saya anggap ngeri itu…

setelah karung yang mereka isi dengan barang yang entah apa itu hampir penuh, sesaat kemudian mereka menepi, berjalan menyusuri pantai, sambil sesekali mata mereka jelalatan…

saya ikut berjalan mengiringi langkah kecil ke tiga bocah itu,,,,

sampailah mereka di tempat yang biasa saya gunakan untuk duduk tepekur,,, tempat yang saya rasa mirip dermaga itu

mereka meletakkan karung yang mereka bawa….

mereka bertiga terjun dan tertawa riang bermain-main dengan ombak laut

isi otak saya serasa terus ingin menelisik apa sebenarnya isi dalam karung itu, hingga mereka rela mempertaruhkan nyawa mereka…..

diam-diam, mengendap-endap… saya membuka karung itu…..

astaga…….!!!!!

hati saya seakan terhantam bertubi-tubi pukulan telak,, bug….dak…plakkk

hingga timbul rasa yang begitu sakit…!!!!

sejenak saya terdiam…

ingin menangis,,,, tapi saya tahan,,, namun rasanya di dalam dada telah melelehkan berliter air mata

kaleng bekas,,,,, aqua bekas,,,,, puing-puing atom,,, serta beberapa barang rongsokan lainnya yang memenuhi karung itu

sedetik kemudian saya mendekati ke 3 bocah tadi,,, mereka agak malu ketika saya mendekat,,, namun langsung jawaban keramahan yang terucap dari mulut-mulut ciut mereka saat saya menyapa..

mereka berhenti sejenak dari permainan mereka,,, kami berkumpul dan duduk di tempat yang saya kira menyerupai dermaga tadi…

kami berkenalan,, mereka memanggil saya “OM” he…he…

yang paling kecil namanya Shidiq (kelas 3 SD), Faiq (Kelas 5 SD) dan Hasan (Kelas 5 SD)

saya bertanya, dan mereka banyak bercerita tentang sekolah mereka, dan lainnya….

mereka sering menyebut tempat ini “dermaga londo” dermaga milik seorang berkewarganegaraan belanda, namun sudah tiada difungsikan lagi

mereka mempertaruhkan nyawa demi keinginan untuk tetap sekolah dan memiliki uang jajan seperti teman-teman lainnya.

namun mereka menjalaninya dengan hati yang gembira, sambil tetap bermain-main selayaknya seusia mereka, dengan permainan seadaanya dan sekedarnya,,

namun tawa lepas, senyum indah  begitu terpancar menghiasi wajah mereka

saya kagum kepada mereka,,

sore ini saya banyak belajar kepada mereka

kebahagiaan bukan hanya berasal dari harta, namun dari dalam hati

(Foto : Tawa Shiddiq/kelas 3 SD)

takkan pernah merasa tenang dan bahagia mereka yang bergelimang harta, serba tercukupi kebutuhan bahkan keinginan mereka jika hatinya tidak bersih dan ikhlas menerima kehendak-NYA.

mari tata pikiran, jiwa dan hati kita

saya tidak merasa kecewa jika sore ini tiada menemukan indahnya langit senja yang menjingga…

bahkan sore ini saya menemukan mentari yang bersinar begitu cerahnya di saat mendng dan hujan dalam semangat mereka

saya juga menemukan indah senja di balik tawa ceria mereka…

Shiddiq,

Faiq

Hasan

mungkin kita akan kembali bersua,,,,

duduk bersama menikmati indahnya langit senja :)

Oleh : Kang Fuad

Jum’at senja, Desember 2010

21 Desember 2010 Posted by | Menikmati Senja | Tinggalkan komentar

Menikmati Senja with Mr. Phillips

sore itu rasa penasaran seakan membawa saya pada tempat-tempat yang betul-betul asing buat saya. tempat-tempat yang belum pernah saya menjamahnya. rasa penasaran ingin mendapatkan cara baru pada tempat yang baru dalam rangka menikmati indahnya senja.

hampir seluruh sudut desa di timur kota ini saya singgahi gang demi gang menuju pantai saya telusuri…. sampailah di sebuah gang yang pikiran saya sendiri mengiranya buntu, namun keelokan pemanangan sekitar mengesampingkan pikiran waras saya, hijau pohon palem yang dengan rapih berdiri berjajar diselingi lampu-lampu hias yang kerlap-kerlip bersinar.

tapi rasa penasaran saya terus membawa kaki ini berjalan, keingin tahuan ada apa sebenarnya di ujung sana…..

sejurus kemudian, mata saya lagi-lagi dimanjakan dengan keindahan pemandangan di ujung belokan, rumah-rumah joglo yang kokoh berdiri, dengan gazebo-gazebo di kir dan kanannya, digunakan untuk bersanai atau sekedar menikmati secangkir kopi, galeri-galeri kerajinan ukir khas Jepara, ada juga restoran mini yang tertata dengan menarik, indah dan rapih.

 

 

 

 

tapak kaki ini kian melanjutkan langkah, rasa penasaran untuk menikmati indahnya senja yang menjingga belum terjawab hingga sampailah pada taman mini yang dihiasi aneka warna dan wangi bunga-bunga, beberapa meja dan kursi-kursi kecl yang tertata rapih serta gazebo yang berdiri menatap indahnya pantai dan sang mentari, saya rasa ini tempat yang tepat untuk menjawab rasa penasaran yang bergumul di otak saya.

sebelum saya duduk di gazebo itu, datang seorang yang bersahaja menyapa saya

X         =  maaf, apa bapak teman Mr. Phillips, beliau sedang keluar, silahkan kalau

bapak menunggu

Saya  = Saya duduk di sini saja pak (cakap saya tanpa mengiyakan)

X         = Tidak apa-apa pak, saya tinggal dulu membereskan tugas

(membersihkan sisa-sisa sampah yang ada di taman)

sayapun duduk di gazebo itu menghadap pantai dan sang mentari, jam lusuh di tangan kiri saya menunjuk pukul 17.25 WIB, mataharipun mulai terbenam, indahnya langit senja yang kian menjingga benar-benar memanjakan mata, pikiran, hati dan menimbulkan imajinasi saya, seakan tak memiliki beban, melayang, meski kadang teringat dengan seseorang…ho..ho…

memang tempat yang nyaman untuk menikmati langit senja,,, setelah sang mentari kian terbenam, tiba-tiba imajinasi saya terbangunkan oleh suara seorang yang berbaju dinas, berbadan besar dan tegap yang tertulis “scurity” di atas salah satu saku bajunya:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

scurity = ma’af mas ini bukan tempat umum. apa masnya ini ada perlu??

(dengan suara lantangnya)

saya      = ma’af pak, apa Mr. Phillips tidak ada di rumah? (saya balik bertanya)

Scurity = 0h…. ada janji sama Mr. Phillips?

saya       = “…….” (diam membisu)

scurity = Mr, Phillips baru keluar, mungkin nanti malam baru pulang

saya       = ya sudah pak, saya permisi dulu

scurity = ya pak,…ya… silahkan, terima kasih

 

saya segera mungkin beranjak dan pergi dari tempat itu, sebenarnya saya tidak kenal siapa Mr. Phillips itu, tetapi saya tidak berbohong kepada Bapak tukang kebun ataupun scurity tadi, saya hanya memilih diam saat mereka berbicara

setelah saya keluar dari tempat itu, sebelum melewati pos satpam terdapat papan bertuliskan “PRIVATE AREA” yang entah apa artinya, saya tidak memahaminya,,

tetapi plang besar yang terlihat saat saya keluar dari tempat itu yang tiada terlihat saat memasukinya sedikit membantu pemahaman saya

 

“KAMPUNG JOGLO”

Joglo Putu Inten (Resort and Galery)

Je’paradise (Resto and Lounge)

Pantai Karang Kebagusan Km.5 Jl. Kampung Joglo Jepara Jawa Tengah

 

sambil berjalan saya tersenyum sendiri, entah itu kebodohan, ketololan, atau kenekatan serta rasa penasaran saya..jiannn….wkwkwkwk

yang pasti terima kasih “Mr. Phillips” sore itu saya benar-benar menikmati indahnya langit senja di tempat anda.:)

 

 

Oleh : Kang Fuad

September 10

21 Desember 2010 Posted by | Menikmati Senja | Tinggalkan komentar

Perempuan Abu-Abu

Cerpen Lan Fang Silakan Simak!
Dimuat di Jawa Pos Silakan Kunjungi  Situsnya! 10/10/2004 Telah Disimak 960 kali

 

Sesosok perempuan muncul seperti bayangan, sehalus angin dan tanpa suara di sampingku. Perempuan itu mendadak muncul dan duduk di sampingku ketika aku sedang benar-benar tidak tahu apa lagi yang harus kutulis. Padahal aku sudah menghabiskan lima gelas kopi, sebungkus rokok kretek, dan tiga kaleng guiness beer. Tetapi aku tidak memusingkan perempuan itu. Aku tetap menghisap rokok kretekku dan menghembuskan asapnya kuat-kuat dengan harapan mendapat imajinasi dari gumpalan asap itu.

“Apakah aku pelacur?” Perempuan itu bicara kepadaku.
“Kamu pelacur bukan?” Aku balik bertanya tanpa menoleh kepadanya. Itu pertanyaan klise yang tidak perlu kujawab.

“Menurutmu definisi pelacur itu bagaimana?” Ia bertanya lagi.
“Tidur dengan lebih dari satu laki-laki,” sahutku asal saja. Lagi-lagi tanpa menoleh.

“Tidur? Hanya tidur? Masa tidur saja tidak boleh?” Ia masih mendebat. “Dan katamu lebih dari satu laki-laki. Hm bagaimana dengan laki-laki yang tidur dengan lebih dari satu perempuan? Apakah dia juga bisa disebut pelacur laki-laki?” Ia nyerocos tanpa jeda.

Aku menoleh dengan perasaan mulai kesal dan terganggu. Saat ini aku sedang tidak ingin diajak berdebat. Aku justru perlu seseorang yang bisa memberikan imajinasi untuk meneruskan tulisanku yang terhenti di tengah jalan.

Tetapi, alamak !
Aku terkejut ketika bersirobok pandang dengan bola mata perempuan itu. Matanya berwarna abu-abu! Tidak ada hitam. Dan tidak ada putih.

“Bagaimana?” Ia mengejarku dengan pertanyaannya.
“Apanya yang bagaimana?” Aku tergagap sembari masih berusaha menguasai diri.

“Apakah aku pelacur?” Ia mengulangi pertanyaannya.
Kali ini, di matanya yang abu-abu tampak tergenang butiran-butiran berlian yang ditahannya tidak runtuh bila ia mengerjapkan kelopak matanya.

Aku menarik napas panjang. Membenarkan posisi dudukku.
“Kamu sedang butuh bahan cerita bukan? Tulislah aku ” Ia bertanya dan menjawab sendiri seakan-akan tahu apa yang kurasakan.

“Ya,” sahutku dengan nada berat dan sangsi.
Tetapi, bukan soal pelacur atau perempuan bermata abu-abu, tambahku dalam hati. Aku penulis roman cinta. Aku butuh cerita cinta.

“Sebenarnya kamu siapa?” tanyaku pada akhirnya.
“Apakah itu perlu buat kamu?” Ia balik bertanya.

Ah! Aku bukan pengacara yang siap diajak berdebat kata dan bersilat lidah setiap saat. Aku pengarang yang sedang mati kata.
“Baik. Panggil saja aku Maya.” Ia berkata seakan-akan bisa membaca pikiranku.

“Maya? Nama kamu Maya?”
Perempuan itu tertawa. “Kamu pengarang kan? Apalah arti sebuah nama untuk pengarang? Shakespeare juga berkata begitu kan? Dan “Maya” artinya bisa tidak bisa ya, bisa mimpi bisa nyata, bisa .”

“Ya ya ya, Maya atau siapa pun kamu, sekarang berceritalah!” tukasku kesal. Aku memang tidak butuh namamu. Aku butuh ceritamu. Butuh imajinasimu.

Tetapi perempuan itu bukan membuka kata. Ia justru membuka blouse-nya, menampakkan payudaranya yang indah ditopang bra berwarna kulit. Aku terperangah. Tetapi ia tidak peduli. Ia berdiri. Melucuti pakaiannya satu per satu. Sampai ia telanjang bulat di depanku. Ia polos tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Seperti patung-patung Yunani atau patung-patung Bali yang kulihat di pameran. Aku meneguk air liur sampai jakunku turun naik.

“Apa yang kau lihat?” Suaranya bertanya setengah mendesah.
“Warna tubuhmu ” Kudengar suaraku seperti datang dari alam lain.

“Apa yang kamu lihat dari warna tubuhku?”
Kuhisap rokokku dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat. Perempuan ini sekarang mulai mengasyikkan. Ia sudah tidak membosankan dan menganggu seperti tadi. Ia mulai memberikan sensasi. Apakah begitu perasaan setiap laki-laki bila berhadapan dengan perempuan telanjang di depannya?

“Abu-abu ,” gumamku.
Perempuan itu tertawa. Suaranya merdu. “Kenapa tidak kau tulis?”

Astaga!
Ia kemudian mendekat. Begitu dekat. Sehingga aku bisa mencium aroma tubuhnya yang wangi dan merasakan sentuhan kulitnya yang lembab dan dingin. Ia mendekatkan dadanya ke wajahku. Napasku mulai terasa sesak. Aku menutup mataku karena tidak kuat menahan gejolak birahi.

“Buka matamu Kenapa harus menutup mata bila kau ingin melihat sampai ke dalam?” Suaranya mesra merayu.
Aku masih menutup mata. Aku bingung, ragu, malu, tetapi juga ingin. Selama ini, aku memang suka menulis tentang perempuan. Tetapi belum pernah menulis tentang perempuan telanjang bermata dan bertubuh abu-abu.

Dengan satu gerakan lembut tetapi kuat, ia mengangkat wajahku. Kemudian, dengan sebuah usapan tanpa rasa sakit, kurasakan tangannya menjelajahi rongga mataku lalu mencungkil bola mataku. Ia membawa bola mataku ke dadanya. Meletakkan di atas payudaranya yang sebelah kiri.

“Kata dokter, di sebelah kiri adalah jantung hati. Coba kau lihat ada apa di jantung hatiku?” ia berbisik pelan di telingaku. Napasnya menghangati daun telingaku.

Bola mataku masuk ke dalam payudaranya, masuk ke dalam dadanya, masuk ke dalam tulangnya, sampai menemukan jantung hatinya.

Astaga!
“Apa yang kau lihat?” Ia masih berbisik seperti angin.

“Jantungmu, hatimu, paru-parumu, darahmu .”
“Ya, kenapa?”

“Berwarna abu-abu,” sahutku gamang.
Ia tertawa lembut sambil mengambil kembali bola mataku dari atas dadanya dan mengembalikannya ke dalam rongga mataku. Ia lalu memberikan sebuah kecupan mesra di pelupuk mataku. Sekarang aku baru berani membuka mataku. Dan lagi-lagi aku bersirobok pandang dengan sepasang mata berwarna abu-abu yang menumpahkan berlian-berlian. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku sehingga aku bisa menghirup napasnya yang segar. Dan ketika berlian-berlian jatuh bergulir menetes pula di pipiku lalu mengalir ke bawah, kutadah dengan tanganku.

“Air matamu juga abu-abu,” kataku sambil melihat butiran-butiran berlian di tanganku.
Ia tersenyum antara tawa dan tangis.

“Kenapa semua berwarna abu-abu?” tanyaku pada akhirnya.
“Karena semua mulut mengatakan aku hitam. Walaupun aku tidak putih tetapi aku tidak sehitam yang mereka katakan. Bukankah abu-abu lebih baik daripada hitam? Bukankah abu-abu tidak semunafik warna putih? Apakah mulut yang mengatakan aku hitam semuanya berwarna putih?” Berlian-berlian abu-abu bercucuran di pipinya yang kelabu.

“Kenapa mulut-mulut mengatakan kamu hitam? Apakah kamu pelacur? Apakah kamu tidur dengan lebih dari satu laki-laki?” Kali ini aku mengejarnya.

Sekarang dia menarik badannya dari wajahku. Lalu duduk sambil bersidekap dada. Tetapi masih telanjang bulat di depanku. Sekarang aku rasa, lebih baik ia tidak usah mengenakan pakaiannya. Lebih baik ia telanjang bulat di depanku walaupun dengan seluruh warna abu-abu.

“Menurutmu, siapakah Yudistira?” Ia bertanya sambil mengambil rokok di tanganku. Lalu dengan sebuah gerakan yang sensual ia mengisap rokokku dan menghembuskannya membentuk sebuah bulatan-bulatan kecil. Ah, lagi-lagi berwarna abu-abu.

“Yudistira? Hm ia pandawa tertua. Ia paling bijaksana,” sahutku.
Kali ini aku merasa bertanya jawab dengan perempuan telanjang bulat walaupun dia berwarna abu-abu menjadi lebih mengasyikkan.

“Oh, begitu menurutmu?!” Ia membelalakkan matanya yang abu-abu dan dari suaranya kudengar nada sumbang.
“Ya. Cuma Yudistira yang mencapai nirwana,” sahutku. “Cuma Yudistira dan seekor anjing,” tambahku cepat.

“Kalau begitu, Yudistira, pandawa tertua yang bijaksana itu sama dengan anjing!” Ia memotong cepat dan ketus.
“Lho?!” Aku terperangah.

“Apa bukan anjing namanya, kalau Yudistira mempertaruhkan Drupadi, istrinya di atas meja dadu hanya untuk sebuah Astinapura?! Apa bukan anjing namanya, kalau Yudistira hanya duduk terpana ketika Drupadi, istrinya, ditelanjangi Duryudana?! Apa bukan anjing namanya, kalau harga diri Yudistira lebih mahal daripada harga Drupadi, belahan jiwanya?!” Ia kembali nyerocos dengan berapi-api.

Aku terdiam tidak mampu menjawab.
Perempuan itu tertawa sinis. Sekarang ia mengambil sekaleng guiness di dekat laptopku. Dengan sekali tegak, sekaleng guiness meluncur melewati bibirnya, lidahnya, tenggorokannya, perutnya, ususnya, kandung kemihnya, dan mungkin akan berakhir di toilet. Ia menjilati busa guiness yang tersisa di bibirnya yang indah.

Astaga! Lidahnya juga abu-abu!
“Lalu, menurutmu, siapakah Drupadi?” Ia bertanya dengan lidah abu-abunya.

“Ng Drupadi, istri yang setia. Ia mengikuti Pandawa menjalani hukuman kalah judi dibuang ke dalam hutan berpuluh-puluh tahun lamanya tanpa berkeluh kesah. Ia bahkan bersumpah tidak akan menyanggul rambutnya sebelum keramas darah Duryudana ,” jawabanku terdengar gamang. Entah benar atau tidak menurut perempuan itu.

Perempuan itu mendengus. “O , begitu menurutmu. Drupadi begitu putih,” ujarnya dengan nada sinis. “Lalu, kalau menurutmu, dia begitu setia dan putih, kenapa ia tidak bisa mencapai nirwana?” sambungnya lagi-lagi dengan membelalakkan matanya yang abu-abu.

Ah, orang bilang, mata adalah jendela jiwa. Tetapi mata perempuan ini semua abu-abu. Aku tidak bisa membaca apa yang ada di dalam jiwanya. Orang bilang, lidah adalah senjata kata. Tetapi lidah perempuan ini juga abu-abu. Aku tidak tahu ia bicara putih atau hitam. Orang bilang, jantung hati adalah naluri jiwa yang paling jujur. Tetapi jantung hati perempuan ini juga abu-abu. Aku tidak tahu apakah dia bohong atau jujur. Orang bilang, tubuh adalah bahasa. Tetapi tubuh perempuan ini semua abu-abu. Aku tidak tahu ia benar atau salah.

“Menurutmu, apakah Drupadi tidak bisa mencapai nirwana karena ia berselingkuh dan tidur dengan lima pandawa: Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa, sekaligus? Karena ia kotor? Karena ia hitam?” Ada luka menganga di mata abu-abunya.

“Atau, menurutmu, apakah Drupadi tidak bisa mencapai nirwana karena ternyata ia berselingkuh batin dengan lebih mencintai Arjuna daripada Yudistira, suaminya?” Ada darah menetes dari lidahnya yang abu-abu.

“Lalu, menurutmu, apakah Drupadi itu pelacur?” Ada luka dan darah membanjir dari jantung hatinya.
Aku terdiam seribu kata. Tidak mampu menjawab. Karena setelah sekian lama melihat perempuan itu dalam bungkusan warna abu-abu, mendadak saja begitu banyak warna merah mengucur dari matanya, dari lidahnya, mulutnya, tubuhnya, jantung hatinya, air matanya. Darah!

“Apakah aku pelacur?” Untuk kesekian kalinya ia mengulangi kata-katanya.
Aku merasakan dadaku sesak.

“Apakah kamu Drupadi?” tanyaku sengau.
“Apa perlu untukmu siapa aku? Apakah aku Drupadi, apakah aku Maya, apakah aku pelacur? Kau hanya perlu cerita, tulis apa yang kau rasa, mungkin apa yang tertulis lebih jujur dari kata yang terucap.”

Masih dengan tubuh telanjangnya, ia mendekat padaku, menciumiku dengan lidahnya yang berdarah, melekatkan wajahku pada air mata darah, membiarkan mataku mengembara ke dalam jantung hatinya yang berdarah, merapatkan tubuhku dengan tubuhnya yang berdarah.

Malam merapat pagi, ketika aku bersetubuh dengan perempuan abu-abu itu di atas darah .
(Surabaya : 21.03.2004 : 22.52 PM)
(Biarkan Drupadi tetap abu-abu, please

13 Desember 2010 Posted by | Cerpen | Tinggalkan komentar

Biarlah Poriku yang Berkeringat

anyaman bambu pelindung mahkota kemulianmu telah usang

itu yang selalu kau gunakan berteduh penutup kepala muliamu dari sengatan sang mentari…
bapak, otot yang dlu kau gunakan menyambung nafasku mulai mengendur

meski Sesekali kau menipuku dg berpura2 tetap kuat dan tegar,

Tapi….tetap saja usiamu tak mampu kau manipulasi

mataku melihat jelas kerut di keningmu dan cahaya lelah dalam indah dua matamu

namun tetap saja kau ayunkan cangkul berkaratmu

sepenuh tenaga dalam ragamu,,,

lagi…lagi…dan lagi….. masih tetap saja kau ayunkan cangkul berkaratmu itu

ibu…… semakin tercabik hatiku….. kau juga begitu,,

sunggingan senyum yang selalu kau lempar saat menyambut kedatanganku

meski tersimpan berton-ton beban dan rasa lelah dalam rapuh ragamu

ibu… kau selalu setia menemani bapakku…

apa saja yang bisa kau kerjakan dengan tulus kau kerjakan

demi meringankan beban sejolimu, menyambung nafas-nafas kami

Kalian tahu???…..

Saat kalian lakukan semua itu…..

aku benar-benar ingin menangis…..

akupun rindu saat sesekali meremas-remas kaki mulia kalian,,

meski itu tak cukup menjadi penawar rasa lelah yang kalian rasakan..

Bapak,, kau tahu???

saat berkali-kali kembali kau ayunkan,,, cangkul berkarat itu….

aku benar-benar ingin menangis sekeras-kerasnya….

bapak,… Kau pernah berucap ”seriuslah dalam belajar, jangan terlalu memikirkan kami, bergantunglah di pundakku, bapak masih kuat”

Bapak….

Berhentilah seperti itu….

Aku tak sanggup lagi melihat tangan dan kakimu gemetaran mengayunkan cangkul usang dan berkarat itu.

bapak, ibu…….

duduklah di sampingku

jika perlu bergelantunglah di pundakku

biarlah kakiku yang berlari menjemput impian kalian

biarlah pori-pori yg pernah kalian hidupi ini berkeringat,

sampai kita duduk bersama,

tersenyum bersama…

saat sekali lagi kalian mengajariku cara menikmati indahnya senja.

Oleh : Kang Fuad

Desember 10

insp: pengorbanan, ketulusan kalian (ayah, ibu) pa’e/ma’e

kalian tahu,, dengan bangga akan aku katakan ayah ibuku seorang petani

ayah,,, ibu…. malam ini aku pulang,,,,, ingin sekali kupeluk erat kalian,

ijinkan aku mencium kedua tangan-tangan mulia kalian,

memegang kaki-kaki mulia kalian

aku datang…. ma’afkan aku jika tak mampu membendung air mata kerinduan ini.

sabtu, 04 Des 10

4 Desember 2010 Posted by | Goresan | Tinggalkan komentar

Untuk Ibu

 

kau tertidur,

di tikar pandan yg ujungnya telah robek

di balik bilik-bilik bambu gubug kita yang kian rapuh
saat mengigau….

kau memanggil TUHAN sembari mengikutkan namaku,

terasa baluran doa menyelundup di pori2 nuraniku

menggerakkan jiwa2 yg lama terpanggang dosa

ibu…..
telah bnyak luka yg kau sembunyikan dariku

tetes darahmu kala menghalangi rasa laparku dulu..

jerih payahmu,,, kucuran keringat dari renta tubuhmu, demi menyambung nafasku,,,

belai lembutmu sa’at meredam semua amarahku

dg apa bisa ku balas?

ah,,, mungkin takkan pernah mampu aku membalas ketulusan kasih dan sayangmu.

Ibu..,.
masih terngiang….

nyanyian cerewetmu yg dlu sering ku balas dg melukis kemarahan d wajahku, tp itulah yg membuatku rindu

ibu…. kau pernah mengajariku cara menggenggam mimpi,

kau bilang

”genggamlah mimpi itu walau akan meremuk redamkan jiwamu”

“yakinlah pada dirimu bahwa engkau mampu” itu lecutan cambuk semangatmu untukku,,
ibu…kau jg yg pertama menamparkan rindu tepat d sini

di hati yg dipenuhi kehausan akan sebuah arti kehidupan.

oleh : kang Fuad

Desember 10

insp: ibu,,ibu

tapi sering aku memanggilmu “ma’e”……he21

4 Desember 2010 Posted by | Cerpen | 3 Komentar

Kuteguk Arak rinduku

”Dan tidak diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”

”Lalu?” kata seorang pria sambil menyodorkan arak padaku

Aku menggeleng ”tidak”

pria itu meneggak arak dari gelas kecil

”aku ingin mabuk” ucapnya

”Bukanya kau sudah mabuk” jawabku

”Belum, aku belum semabuk para juragan yang menegak ratusan meter kubik arak harta

aku belum semabuk para penguasa yg menuangkan ribuan meter kubik arak keserakahan dalam perutnya

Dan aku belum semabuk para ahli riya’ yang mengelap tenggorokan mereka dengan arak peribadahan”

Matanya memerah, lalu memainkan tatapan yang menyebalkan

”kenapa? Kau ingin bilang tak mau mabuk?

Bukankah kau juga telah meminum arakmu sendiri?

Arak angan-angan dan tipu daya yang kau tuangkan di gelas2 syair yang bertuliskan ”goresan” itu.,,, arak kerinduan yang kamu rasakan,,,

arak kerinduan yang senantiasa kau teguk

yang sering kau tuang dalam gelas-gelas kaca hatimu,,,

Ayolah, berbohong padaku dengan mengatakan ‘tidak’.

Barangkali dg begitu aku akan sadar.

Atau kau ingin tetap seperti ini?

Menunggu syair2mu itu terdampar di loteng menyedihkan yg kau anggap indah”

Pria itu terus merancau menerangkan semua jenis arak yg ia kenal.

”Arak rindu kelas nafsu, khomr cinta berbumbu asmara buta”

”plak…” Tanganku tepat berlabuh di pipi kirinya.

”ini tamparan terakhirku. Jika kau mengerti bawalah sajadahmu di shaf plg dpan,

”Tak mau, aku trlanjur tau cra menikmati arak2 kerinduan ini.
Jika tak kau temani aku masih bsa merayu dan bepura2 menelan arak kbhagiaan.”

tetap kau harus menggelar sajadahmu di shaf yang paling depan.

oleh : Kang Fuad

Akhir Nopember 10

4 Desember 2010 Posted by | Goresan | 1 Komentar

Setahuku Aku Merindukanmu

tulislah satu saja huruf kehidupan yg bisa kau gores dg pena ksungguhanmu,
tp jgn tanyakan cerita rindu yg tlah trbungkus rapi oleh masa lalu itu,
lalu biarkan benang2 harapan itu menjahit luka2 jiwa
wahai yang kurindukan,,,gadis manis,
tulislah….
Huruf-huruf yg bisa mengajarimu trsenyum.
Agar akupun bisa mengejanya dg bibir trbuka,saat kau dan aku dijamu sbg jiwa yg tengah membebaskan diri dari perbudakan rindu d masalalu.

dan Akan tetap ku tulis huruf itu

huruf yang kau bilang sudah tak perlu

Karena darinya aku mendapatkan gemulai gerak tawa

Darinya berulang ku teguk arak-arak asmara

Walau pada akhirnya aku mabuk

Merancau seperti keledai yg terpasung di antara warna biru yg di tinggal badai

Dan….

Sekali lagi semua berlangsung begitu saja

aku kembali berada di ruang2 ketakutan yang mau tidak mau harus ku telan

karena mau tak mau juga aku terlanjur mencintaimu

Sampai aku ada di titik ini
Sekedar mencari tahu

apakah aku masih boleh melewati pagar dan dinding depan rumahmu.?

 

oleh : Kang Fuad

Desember 10

insp;… rasa,,,dalam dada

4 Desember 2010 Posted by | Goresan | 1 Komentar

“Secangkir Kopi Kehidupan” (Kopi = pahit atau manis????)

kawan, hari ini saya kembali teringat tentang kopi, setelah kemarin banyak berbicara tentang kopi. saya kembali teringat saat menyeduh secangkir kopi, saat-saat minum kopi, saat-saat sendiri, maupun saat bersama teman-teman, ngumpul bareng, bercanda, ketawa sambil sesekali menikmati secangkir kopi.  minuman yang paling digemari banyak orang. nikmat jika diminum baik pagi hari, atau saat malam hari ketika pekerjaan menumpuk, ketika sendiri, ketka penat, kopi merupakan teman yang paling setia menemani kesendirian kita. saat kesendirian saya, tapi jangan terlalu banyak juga minum kopi,, selain memberikan beberapa manfaat bagi kesehatan, kopi juga tidak baik bagi kesehatan,,, kata seorang yang saya kenal seperti itu,, kopi juga sangat tidak baik bagi mata kita apalagi saat masih panas,,,ckckckck

tapi jangan takut, kopi juga memiliki banyak manfaat kok, untuk lebih jelasnya tentang efek positiP dan negatiP minum kopi coba di lihat halaman ini:

- http://rusyd.web.id/2010/02/efek-kopi-bagi-kesehatan

- http://www.zonakesehatan.com/manfaat-dan-efek-negatif-kopi-untuk-kesehatan.html

Asal jangan terlalu sering dan terlalu banyak minum kopi ajah…

tapi mengapa Kopi merupakan salah satu minuman yang paling dinikmati banyak orang, yang tidak sekadar diteguk saja, namun juga dinikmati.
kenapa yawww banyak orang yang suka minum kopi?????

padahal kopi itu PAHIT bukan????

upsss…… tapi siapa bilang kopi itu pahit??? dan apa benar, kopi yang mereka minum itu pahit??? bisa saja tooo mereka mencampurnya dengan gula, sehingga kopi itu menjadi manis????

kalau begitu sama dunk dengan hidup saya,,, memang benar, banyak kisah sedih yang terjadi dalam hidup saya, kadang ada hal yang menyakitkan, ada luka yang saya dapatkan,,, sakit hati, patah hati, remuk hati, hancur hati,,,ckckckck tapi dengan gigih dan dengan secepatya segera saya tata kembali patahan itu, remukan itu, kepingan itu menjadi hati yang kembali utuh….tidak sim salabim tentunya…xixixi

tapi kata siapa hidup saya sedih melulu, menyakitkan melulu, kata siapa hidup saya pahit????? saya selalu mencampurnya dengan gula kok. jadi hidup saya selalu terasa manis.

memang benar, tidak sedikit kisah sedih dalam setiap derap langkah yang saya lalui, banyak hal yang menyesakkan aliran nafas saya sehingga membuat tenggorokan saya terasa sempit, tapi nyatanya saya masih tetap bisa tersenyum indah :), saya tidak melulu mengurai air mata saya seperti sebagian orang yang sedang bersedih hati. kenapa bisa begitu????

yupsssss……weh anda memang top cerrr,,, sipPP, saya selalu mencampur dan memberi gula dalam secangkir kopi kehidupan saya…. saya berpendapat apa yang saya pikirkan itu yang akan saya rasakan dan kemungkinan besar akan saya dapatkan (ini hanya pendapat saya) wkwkkwk

tapi kalo itu memang benar, kenapa kita tidak berpikir yang baik-baik saja, tentang diri sendiri juga orang lain??? kalo kita berpikir yang baik-baik, yang baik-baik pula yang akan kita rasakan….syukur mendapat yg terbaik.

ya itu,,, benar kata anda, tambahkan saja gula agar tidak pahit, agar senantiasa manis,,, berusahalah berpikir positiP, berlapang hati, berusaha memetik setiap hikmah dari setiap kejadian yang terjadi dan Alhamdulillah itu membantu saya untuk membuat “secangkir kopi kehidupan” saya sendiri yang saya campur dengan gula hikmah sehingga menghasilkan rasa yang manis dan bisa dirasakan dengan penuh nikmat.

jadi kata siapa kopi itu pahit?????

kuncinyakan ada pada diri kita sendiri, kita mau membuat kopi itu pahit, atau manis, semua ada di tangan kita,,, tinggal kita mau meletakkan gula atau tidak pada secangkir kopi itu, semua kembali pada diri kita….

kopi saya “MANIS”……..

bagaimana dengan kopi anda?????

anda suka kopi yang bagaimana????

terserah anda bukan?? lhawong itu kopi anda….ckckckckckckck

atau saya bantu agar menjadi lebih manis???? hahahahahaha

Desember 2010

Oleh : Kang Fuad

Insp: Kopi,,kopi,,,kopi,,kopi…. dan seseorang yg pernah memberi saya segelas kopi

untuk teman-teman semuanya,, my broww, my sis, kakang, mbakyu, semuanya, aku kangen pada kalian,,,kebersamaan dengan kalian, semoga kalian dalam suasana hati yang bahagia saat membaca coretan ini,, terberai senyum simpul di pipi-pipi kalian :)

masakan takkan terasa begitu sedap tanpa asinnya garam, pedasnya cabai,

“masalah adalah bumbu dalam kehidupan”

“tinggal bagaimana kita menghadapi dan menyelesaikannya”

teruntuk sahabatku semua,, selalu semangat!!!!… smoga senantiasa dlm Ridho-NYA. Amin

jgn sungkan berbagi pada kami,,, mungkin sepatah kata yang engkau anggap tidak ada apa-apanya..tdk ada harganya,  akan sangat berharga bagi saya, bagi kami….. tak tgg kabarnya…..:)

2 Desember 2010 Posted by | Goresan | 4 Komentar

Mbok Yem

Oleh: A. Mustofa Bisri

Alhamdulillah, sebelum wukuf di Arafah aku bisa menemukan ibu dan adikku di pondokan mereka di Mekkah. Mereka tinggal di kamar yang sempit bersama 4 pasang suami-istri. Masing-masing menempati kapling semuat dua orang yang hanya diberi sekat kopor-kopor. Di tengah-tengah ada sedikit ruang kosong yang dipenuhi bermacam-macam makanan dan peralatan makan. Ibu memperkenalkan saya kepada kawan-kawan kelompoknya.

Ini anak saya yang belajar di Mesir;” katanya bangga. “Sudah empat tahun tidak pulang.”

Malu-malu saya menyalami mereka satu per satu. Di antara mereka itu ada dua sejoli yang sudah sangat tua. Lebih tua dari ibu. Yang laki-laki dan dipanggil Mbah Joyo lebih tua lagi. Beberapa tahun lebih tua dari Mbok Yem, istrinya. Berbeda dengan Mbah Joyo yang agak pendiam, Mbok Yem orangnya ramah dan banyak bicara, mendekati ceriwis.

Yang kemudian menarik perhatian, sekaligus membuatku agak geli, adalah kemesraan kedua sejoli itu. Mereka laiknya pengantin baru saja. Seperti tidak menghiraukan senyum-senyum dan lirikan-lirikan menggoda kawan-kawannya yang memperhatikan mereka, Mbok Yem menggelendot manja di pundak Mbah Joyo.

“Pak, kita beruntung ya,” katanya sambil mengelus rambut suaminya yang putih bagai kapas. “Nak Mus ini belajar agama di Mesir, dia bisa menjadi muthawwif kita dan membimbing manasik kita.” Lalu ditujukan kepadaku, “Bukan begitu, Nak Mus?”

Aku mengangguk saja sambil tersenyum.

“Kalau perlu Nak Mus pasti tidak keberatan mengantar kita ke mana-mana,” katanya lagi. “Nanti Mbok Yem bikinkan sayur asem kesukaan Mbah Joyo. Mbok Yem paling ahli bikin sayur asem. Tanyakan Mbah Joyo ini, lidahnya sampai njoget jika Mbok Yem masak sayur asem.”

“Tapi dia juga baru sekarang ini ke Mekkah,” tukas ibuku. “Jadi di sini pengalamannya tidak lebih banyak dari kita-kita ini.”

“Ya, tapi Nak Mus kan pasti pandai bahasa Arab; jadi tak akan kesasar dan bisa menolong kita jika belanja. Kita tak perlu lagi menawar-nawar pakai bahasa isyarat, kaya orang bisu.”

Orang-orang pada ketawa.

“Tapi, Nak Mus ini kan tidak tinggal di sini bersama kita,” kata salah seorang jamaah sambil menyodorkan segelas teh. “Terima kasih!” aku menyambut teh panas yang disodorkan.

“Ya, Nak Mus tinggalnya di mana?” tanya yang lain.

“Saya tinggal bersama kawan-kawan mahasiswa yang lain,” kataku, “tapi tidak jauh dari sini kok. Saya bisa sering kemari.”

“Nah, Pak, nanti kita bisa jalan-jalan ke mana saja tanpa khawatir,” kata Mbok Yem lagi sambil memijit-mijit lengan Mbah Joyo. “Kita punya pengawal yang masih muda dan bisa berbahasa Arab.”

“Kamu ini bagaimana,” Mbah Joyo yang dari tadi hanya diam dan senyum-senyum tiba-tiba angkat bicara. “Nak Mus ke sini ini kan bukan untuk kamu saja. Tapi terutama untuk ibu dan adiknya yang sudah lama tidak bertemu. Mereka pasti ingin berkangen-kangenan.”

“Ya, saya tahu,” sahut Mbok Yem sambil mleroki suaminya. “Saya juga tidak bermaksud menguasai Nak Mus sendiri. Maksud saya kita bisa nginthil, ikut bersama-sama ibu dan mbak bila mereka ke masjid atau ke mana saja.”

“Enak saja!”

“Sudah, sudah,” kata ibuku memotong. “Sudah jam setengah sebelas. Ayo kita siap-siap ke masjid!”
***

Alhamdulillah, sejak di Arafah saya bisa bergabung bersama rombongan ibu. Malam menjelang wukuf, kami sudah sampai ke padang luas yang menjadi seperti lautan tenda itu. Beberapa orang tampak letih. Justru Mbok Yem dan Mbah Joyo –anggota rombongan yang paling tua– sedikit pun tidak memperlihatkan tanda-tanda kelelahan. Bahkan pancaran semangat dua sejoli ini tampak jelas seperti mempermuda usia mereka. Ketika paginya, saya ajak mereka keluar kemah untuk melihat suasana Arafah yang begitu luar biasa. Meski mentari belum begitu mengganggu dengan sengatan panasnya, dia telah memberikan cahayanya yang benderang pada hamparan putih Arafah. Sejauh mata memandang, putih-putih tenda dan putih-putih kain ihram mendominasi pemandangan. Di sana-sini bercuatan bendera-bendera negara atau sekadar tanda rombongan jamaah tertentu. Dari kejauhan tampak “bukit manusia” dengan puncak sebuah tugu yang juga berwarna putih. “Apakah itu Jabal Rahmah?”

“Ya, itulah Jabal Rahmah.”

“Apa betul itu tempat pertemuan pertama Bapa Adam dengan Ibu Hawa setelah mereka turun dari sorga?”

“Wallahu a’lam ya, tapi memang banyak yang percaya.”

“Apa kita akan ke sana?”

“Ah, tak perlu. Lagi pula itu jauh. Kelihatannya saja dekat. Wukuf yang penting di Arafah, beristighfar dan berdoa. Di sini saya kira kita bisa lebih khusyuk.”

Ketika kembali ke kemah, tampaknya kawan-kawan jamaah masih membawa kesan mereka dari melihat panorama yang belum pernah mereka saksikan itu.

“Orang kok sekian banyaknya itu dari mana saja ya?”

“Ya, ada yang hitam sekali, putih sekali, yang coklat, malah ada yang seperti tomat kemerah-merahan.”

“Sekian banyak orang kok pakaiannya putih-putih semua, masya Allah!”

Semua yang berbicara itu mengarahkan pandangannya kepadaku, seolah-olah komentarku memang mereka tunggu. Atau ini hanya perasaanku saja. Tapi aku bicara juga. “Kata guru saya, inilah gambaran mini nanti saat kita di padang Makhsyar, ketika semua orang dibangunkan dari alam kubur. Tak ada kaya tak ada miskin; tak ada orang besar tak ada orang kecil; tak ada bangsawan tak ada jelata; semuanya sama. Semuanya digiring di padang terbuka seperti di Arafah ini. Bedanya, di sini masih ada tenda dan naungan-naungan lain; di sana kelak, tidak. Masing-masing orang akan dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatannya selama hidup di dunia.”

Aku berhenti, karena kudengar ada isak tangis yang semakin lama semakin mengeras. Ternyata tangis Mbok Yem di pangkuan Mbah Joyo yang juga terlihat berkaca-kaca kedua matanya. Seisi kemah pun terdiam. Sampai datang seorang petugas kloter menyuruh semuanya bersiap-siap untuk acara salat bersama –Dhuhur dan Asar– dan melanjutkan ritual wukuf dengan berdzikir dan berdoa.

Aku perhatikan, sejak selesai acara salat dan berdoa bersama, hingga akhirnya masing-masing berdzikir dan berdoa sendiri-sendiri, Mbok Yem dan Mbah Joyo terus menangis dan hanya mengulang-ulang astaghfirullah, astaghfirullah… Memohon ampun kepada Allah. Tak terdengar kedua sejoli tua ini berdzikir atau berdoa yang lain.
***
Malam ketika arus air bah kendaraan dan manusia mengalir dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina, di atas bus kami sendiri, hanya terdengar talbiyah dan takbir. Kecuali sepasang mulut yang masih terus beristighfar. Mulut Mbok Yem dan Mbah Joyo.

Menjelang dini hari kami sampai wilayah Muzdalifah. Dari kejauhan, kerlap-kerlip lampu tampak semakin memperindah panorama Masy’aril Haram. Bus kami berhenti dan rombongan berhamburan turun dalam gelap, mencari batu-batu kerikil untuk melempar Jamrah. Ibu aku minta tetap di bus, aku dan adikku saja yang turun. Yang lain ternyata turun semua. Beberapa di antaranya ada yang sudah siap dengan lampu senter kecil dan kantong kain tempat batu-batu kerikil. Di sana-sini terlihat beberapa kendaraan juga sedang parkir, menunggu para penumpangnya mencari kerikil.

“Jangan jauh-jauh!” terdengar suara ketua rombongan memperingatkan. Orang-orang tidak mau mendengarkan. Bukan karena apa-apa. Mereka sudah telanjur tidak simpati kepada petugas yang menurut mereka hanya pandai bicara saja. Tak pernah ngurus jamaah. Menemui jamaah hanya kalau mau menarik pungutan ini-itu yang tidak jelas peruntukannya.

Tapi ketika sudah cukup lama dan masih banyak yang ke sana-kemari, aku dan beberapa orang yang sudah dari tadi selesai mencari kerikil, ikut membantu ketua rombongan meneriaki dan bertepuk-tepuk tangan; memperingatkan mereka agar segera naik kendaraan. Apalagi sopir bus –orang Mesir– sudah ngomel-ngomel terus sambil naik-turun bus, tidak sabar. Apalgi kendaraan-kendaraan yang lain pun sudah cabut bersama para penumpangnya menuju Mina.

Mereka akhirnya kembali juga naik bus, meski ada di antara mereka yang sambil menggerutu, “Sopir kok didengerin. Ini kan ibadah. Di sini aturannya kita kan menginap. Mengapa buru-buru?”

“Sudahlah, mungkin si sopir mempertimbangkan padatnya lalu-lintas, takut terlambat sampai Mina,” aku mencoba menyabarkan si penggerutu.”Lagi pula kita kan di sini sudah melewati jam 12. Jadi sudah terhitung menginap.”

Tiba-tiba, ketika ketua rombongan baru mengabsen dan menghitung jamaah, terdengar Mbok Yem teriak histeris, “Mbah Joyo! Mana Mbah Joyoku?!” Seketika semuanya baru menyadari bahwa Mbah Joyo belum kembali. Mbok Yem meloncat turun dari bus sambil terus menangis dan menjerit-jerit memanggil-manggil suaminya. Hampir seisi bus ikut turun. Ibu dan adikku mengikutiku mengejar Mbok Yem, mencoba menenangkannya.

“Tenanglah, Mbok Yem,” bujuk ibuku sambil merangkul perempuan tua itu. “Mbah Joyo tidak ke mana-mana. Kita pasti akan menemukannya.”

“Iya, Mbok,” adikku ikutan membujuk. “Kalau pun Mbah Joyo kesasar, di sini ada petugas khusus yang ahli menemukan orang kesasar. Percayalah.”

“Ya, Mbok, kalau memang betul-betul kesasar, saya nanti yang akan menghubungi polisi atau petugas yang lain,” aku menimpali. “Mbah Joyo pasti kembali bersama kita lagi.”

Aku sendiri dan mungkin juga ibu dan adikku tidak begitu yakin dengan apa yang kami katakan. Namun alhamdulillah, meski masih terisak dan bicara sendiri, Mbok Yem bisa agak tenang. “Mbah Joyo itu penyelamatku!” desisnya berkali-kali.

Kepala rombongan dan beberapa orang lelaki, termasuk sopir, yang mencoba mencari sampai di luar area tempat mereka tadi mencari kerikil, sudah kembali tanpa hasil. Ada yang menduga Mbah Joyo mungkin kesasar naik kendaraan lain yang diparkir di dekat mereka. Kita berunding dan sepakat akan meneruskan perjalanan sambil mencari. Semua kembali naik bus. Mbok Yem yang dibimbing ibu dan adikku, sebentar-sebentar masih menoleh ke arah padang gelap Muzdalifah. Ibu mengawani duduk dan masih terus merangkul sahabat tuanya yang kini diam saja itu.
***
Subuh, kami baru sampai Mina. Semuanya terlihat letih, lebih-lebih Mbok Yem. Untung, tidak lama mencari, kami telah sampai kemah maktab kami. Dan, begitu masuk kemah, bukan main terkejut kami. Kami melihat Mbah Joyo sedang duduk bersila menyantap buah anggur dari pinggan besar yang penuh aneka buah-buahan. (Selain anggur, ada apel, jeruk, pisang, buah pir, dll).

Mbok Yem langsung menjerit, “Mbah Joyo!” dan menghambur serta memeluk dan menciumi suaminya itu sambil menangis gembira. Mbah Joyo sendiri hanya tersenyum-senyum agak malu-malu. Sejenak yang lain masih terpaku keheranan. Baru kemudian meluncur hampir serempak, “Alhamdulillaaaah!”

Semuanya kemudian merubung Mbah Joyo yang masih terus dipeluk, dielus, dan diciumi Mbok Yem. Semuanya gembira.

“Sudah dulu, Mbok Yem,” tegur ketua rombongan, “nanti dilanjutkan kangen-kangenannya. Biarlah Mbah Joyo bercerita dulu.” Kemudian kepada Mbah Joyo, “Mbah Joyo, Sampeyan ke mana saja semalam?”

“Iya, Mbah,” sela yang lain, “Sampeyan salah masuk bus ya?!”

“Kok tahu-tahu Mbah Joyo sudah sampai di sini ini ceritanya bagaimana?” tanya yang lain lagi.

“Mbah Joyo sudah melempar jumrah ’aqabah?”

Mbah Joyo mengangguk sambil tersenyum. “Lihat, kan saya sudah pakai piyama!” Kemudian bercerita seperti sedang menceritakan sebuah dongeng.

“Saya tidak kesasar dan tidak salah naik bus. Saya bertemu dengan seorang muda yang gagah dan ganteng dan diajak naik kendaraannya yang bagus sekali. Saya bilang bahwa saya bersama rombongan kawan dan istri saya. Dia bilang sudah tahu dan meyakinkan saya bahwa nanti saya akan ketemu juga di Mina. Bapak sudah tua, katanya, nanti capek kalau naik bus. Akhirnya saya ikut. Sampai Mina saya dibawa kemari, disuruh istirahat sebentar. Saya tertidur entah berapa lama. Tahu-tahu menjelang subuh saya dibangunkan dan diajak melempar jumrah ’aqabah. Setelah itu saya diantar kemari lagi. Sambil meninggalkan buah-buahan ini, dia pamit dan katanya sebentar lagi kalian akan datang. Dan ternyata dia benar.”

“Dia itu siapa, Mbah? Orang mana?”

“Wah iya. Saya lupa menanyakannya. Soalnya begitu ketemu dia itu langsung akrab. Jadi saya kemudian sungkan dan akhirnya, sampai dia pergi, saya lupa menanyakan nama dan asalnya.”

“Ajaib!”
***

Sesudah selesai melempar jumrah ’aqabah, rupanya jamaah sudah tak tahan lagi. Mereka bergelimpangan melepas lelah. Dan tak lama terdengar suara ngorok dari sana-sini. Kulihat Mbok Yem sendiri yang tampak masih segar dan ceria. Dia malah bercerita sambil memijit kaki ibuku. “Mumpung Mbah Joyo tidur,” katanya. Sementara aku dan adikku ikut mendengarkan sambil tiduran. Namun tersentuh cerita Mbok Yem, tak terasa kami berdua akhirnya terduduk juga.

Rupanya Mbok Yem yakin apa yang dialami Mbah Joyo itu merupakan anugerah Allah yang ada kaitannya dengan amal perbuatannya. Dia menceritakan mengapa dia sampai histeris ketika Mbah Joyo hilang di Muzdalifah. Mbok Yem ternyata dulunya adalah WTS –sekarang “diperhalus” istilahnya menjadi Pekerja Seks Komersial– dan Mbah Joyo adalah “langganan”-nya yang dengan sabar membuatnya sadar, mengentasnya dari kehidupan mesum itu, dan mengawininya. Lalu Mbok Yem dan Mbah Joyo memulai kehidupan yang sama sekali baru. Di samping mendampingi Mbah Joyo bertani, Mbok Yem berjualan pecel, kemudian meningkat dengan membuka warung makan kecil-kecilan. Dan sebagian dari hasil pekerjaan mereka itu, mereka tabung sedikit demi sedikit. Bahkan mereka rela hidup tirakat, demi mencapai cita-cita mereka: naik haji. Mereka mempunyai keyakinan bahwa dosa-dosa mereka hanya bisa benar-benar diampuni, apabila beristighfar di tanah suci, di Masjidil Haram, di Arafah, di Muzdalifah, dan di Mina. Seperti kata pak kiai di kampungnya, haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga. Ternyata baru setelah setua itu, uang yang mereka tabung cukup untuk ongkos naik haji.

“Alhamdulillah, Mbah Joyo tidak benar-benar hilang,” kata Mbok Yem mengakhiri ceritanya. “Sehingga kami berdua masih berkesempatan menyempurnakan ibadah haji kami. Semoga Allah memudahkan. Setelah selesai nanti, kami ikhlas, kalau Yang Maha Agung hendak memanggil kami kapan saja. Syukur di sini, di tanah suci ini.”

Mbok Yem mengusap airmatanya, airmata bahagia, baru kemudian pelan-pelan dibaringkan tubuhnya di sisi ibuku. ***

Rembang, 5 Januari 2006

Oleh: A. Mustofa Bisri

30 November 2010 Posted by | Cerpen | Tinggalkan komentar

Lukisan Kaligrafi

Oleh: A. Mustofa Bisri


Bermula dari kunjungan seorang kawan lamanya Hardi. Pelukis yang capai mengikuti idealismenya sendiri lalu mengikuti jejak banyak seniman yang lain: berbisnis; meski bisnisnya masih dalam lingkup bidang yang dikuasainya. Seperti kebanyakan bangsanya, Hardi sangat peka terhadap kehendak pasar. Dia kini melukis apa saja asal laku mahal. Mungkin karena kecerdasannya, dia segera bisa menangkap kela-kuan zaman dan mengikutinya. Dia melukis mulai perempuan cantik, pembesar negeri, hingga kaligrafi.

Menurut Hardi, kedatangannya di samping silaturrahmi, ingin berbincang-bincang dengan Ustadz Bachri soal kaligrafi. Ustadz Bachri sendiri yang sedikit banyak mengerti soal kaligrafi Arab, segera menyambutnya antusias.

Namun, ternyata tamunya itu lebih banyak berbicara tentang aliran-aliran seni mulai dari naturalis, surealis, ekpresionis, dadais, dan entah apa lagi. Tentang teknik melukis, tentang komposisi, tentang perspektif, dan istilah-istilah lain yang dia sendiri baru dengar kali itu. Sepertinya memang sengaja menguliahi Ustadz Bachri soal seni dan khususnya seni rupa.

Yang membuat Ustadz Bachri agak kaget, ternyata, meskipun sudah sering pameran kaligrafi, Hardi sama sekali tak mengenal aturan-aturan penulisan khath Arab. Tak tahu bedanya Naskh dan Tsuluts, Diewany dan Faarisy, atau Riq’ah dan Kufi. Apalagi falsafahnya. Katanya dia asal “menggambar” tulisan, mencontoh kitab Quran atau kitab-kitab bertulisan Arab lainnya. Dia hanya tertarik dengan makna ayat yang ia ketahui lewat Terjemahan Quran Departemen Agama, lalu dia tuangkan ayat itu ke dalam kertas atau kanvas. Bila ayat itu berbicara tentang penciptaan langit dan bumi, maka dia pun melukis pemandangan, lalu di atasnya dituliskan ayat yang bersangkutan. Kalau tidak begitu, dia tulis ayat yang dipilihnya dalam bentuk-bentuk tertentu yang menurutnya sesuai dengan makna ayat. Ada hurufnya yang ia bentuk seperti mega, burung, macan, tokoh wayang, dan sebagainya.

Ustadz Bachri bersyukur atas kedatangan kawannya yang -meskipun agak sok- telah memberinya wawasan mengenai kesenian, terutama seni rupa.
***


RINGKAS cerita, begitu si tamu berpamitan seperti biasa Ustadz Bachri mengiringkannya sampai pintu. Nah, sebelum keluar melintasi pintu rumahnya itulah si tamu tiba-tiba berhenti seperti terkejut. Matanya memandang kertas bertulisan Arab yang tertempel di atas pintu, lalu katanya, “Itu tulisan apa? Siapa yang menulis?”

Ustadz Bachri tersenyum, “Itu rajah. Saya yang menulisnya sendiri.”

“Rajah?”

“Ya, kata Kiai yang memberi ijazah, itu rajah penangkal jin.”

“Itu kok warnanya aneh; sampeyan menulis pakai apa?” Matanya tanpa berkedip terus memandang ke atas pintu.

“Pakai kalam biasa dan tinta cina dicampur sedikit dengan minyak za’faran. Katanya minyak itu termasuk syarat penulisan rajah.”

“Wah,” kata tamunya masih belum melepas pandangannya ke tulisan di atas pintu, “sampeyan mesti melukis kaligrafi.”

“Saya? Saya melukis kaligrafi?” katanya sambil tertawa spontan.

“Tidak. Saya serius ini,” tukas tamunya, “sampeyan mesti melukis kaligrafi. Goresan-goresan sampeyan berkarakter. (“Ini apa pula maksudnya?” Ustadz Bachri membatin, tak paham). Kalau bisa di atas kanvas. Tahu kanvas kan?! Betul ya. Tiga bulan lagi, kawan-kawan pelukis kaligrafi kebetulan akan pameran; Nanti sampeyan ikut. Ya, ya!”

Ustadz Bachri tidak bisa berkata-kata, tapi rasa tertantang muncul dalam dirinya. Kenapa tidak, pikirnya. Orang yang tak tahu khath saja berani memamerkan kaligrafinya, mengapa dia tidak? Namun, ketika didesak tamunya, dia hanya mengangguk asal mengangguk.

Setelah tamunya itu pergi, dia benar-benar terobsesi untuk melukis kaligrafi. Setiap kali duduk-duduk sendirian, dia oret-oret kertas, menuliskan ayat-ayat yang ia hapal. Dia buka kitab-kitab tentang khath dan sejarah perkembangan tulisan Arab. Bahkan dia memerlukan datang ke kota untuk sekadar melihat lukisan-lukisan yang dipajang di galeri dan toko-toko, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk membeli kanvas, cat, dan kuas.

Anak-anak dan istrinya agak bingung juga melihat dia datang dari kota dengan membawa oleh-oleh peralatan melukis. Lebih heran lagi ketika dia jelaskan bahwa dialah yang akan melukis. Meski mula-mula istri dan anak-anaknya mentertawakan, namun melihat keseriusannya, ramai-ramai juga mereka menyemangati. Mereka dengan riang ikut membantu membereskan dan membersihkan gudang yang akan dia pergunakan untuk “sanggar melukis”.

Mungkin tidak ingin diganggu atau malu dilihat orang, Ustadz Bachri memilih tengah malam untuk melukis. Istri dan anak-anaknya pun biasanya sudah lelap tidur, saat dia mulai masuk ke gudang berkutat dengan cat dan kanvas-kanvasnya. Kadang-kadang sampai subuh, dia baru keluar. Di gudangnya yang sekarang merangkap sanggar itu, berserakan beberapa kanvas yang sudah belepotan cat tanpa bentuk. Di antaranya sudah ada yang sedemikian tebal lapisan catnya, karena sering ditindas. Karena begitu dia merasa tidak sreg dengan lukisannya yang hampir jadi, langsung ia tindas dengan cat lain dan memulai lagi dari awal. Hal itu terjadi berulang kali. “Ternyata sulit juga melukis itu,” katanya suatu ketika dalam hati, “enakan menulis pakai kalam di atas kertas.”

Hampir saja Ustadz Bachri putus asa. Tapi, istri dan anak-anaknya selalu melemparkan pertanyaan-pertanyaan atau komentar-komentar yang kedengaran di telinganya seperti menyindir nyalinya. Maka, dia pun bertekad, apa pun yang terjadi harus ada lukisannya yang jadi untuk diikutkan pameran.
Sampai akhirnya, ketika seorang kurir yang dikirim oleh Hardi kawannya itu, datang mengambil lukisannya untuk pameran yang dijanjikan, dia hanya-atau, alhamdulillah, sudah berhasil-menyerahkan sebuah “lukisan”.

Ketika sang kurir menanyakan judul lukisan dan harga yang diinginkan, seketika dia merasa seperti diejek. Tapi kemudian dia hanya mengatakan terserah. “Bilang saja kepada Mas Hardi, terserah dia!” katanya.

Dia sama sekali tidak menyangka.
***

MESKIPUN ada rasa malu dan rendah diri, dia datang juga pada waktu pembukaan pameran untuk menyenangkan kawannya Hardi, yang berkali-kali menelepon memaksanya datang. Ternyata pameran-di mana “lukisan” tunggalnya diikutsertakan-itu diselenggarakan di sebuah hotel berbintang. Wah, rasa malu dan rendah dirinya pun semakin memuncak.

Dengan kikuk dan sembunyi-sembunyi dia menyelinap di antara pengunjung. Dari kejauhan dilihatnya Hardi berkali-kali menoleh ke kanan ke kiri. Mungkin mencari-cari dirinya. Ada pidato-pidato pendek dan sambutan tokoh kesenian terkenal, tapi dia sama sekali tidak bisa tenang mendengarkan, apalagi menikmatinya. Dia sibuk mencari-cari “lukisan”-nya di antara deretan lukisan-lukisan kaligrafi yang di pajang yang rata-rata tampak indah dan mempesona. Apalagi dipasang sedemikian rupa dengan pencahayaan yang diatur apik untuk mendukung tampilan setiap lukisan. “Apakah lukisanku juga tampak indah di sini?” pikirnya, “di mana gerangan lukisanku itu dipasang?”

Sampai akhirnya, ketika acara pidato-pidato usai dan para pengunjung beramai-ramai mengamati lukisan-lukisan yang dipamerkan, dia yang mengalirkan diri di antara jejalan pengunjung, belum juga menemukan lukisannya. Tiba-tiba terbentik dalam kepalanya “Jangan-jangan lukisanku diapkir, tidak diikutkan pameran, karena tidak memenuhi standar.” Aneh, mendapat pikiran begitu, dia tiba-tiba justru menjadi tenang. Dia pun tidak lagi menyembunyikan diri di balik punggung para pengunjung. Bahkan, dia sengaja mendekati sang Hardi yang tampak sedang menerang-nerangkan kepada sekerumunan pengunjung yang menggerombol di depan salah satu lukisan. Lukisan itu sendiri hampir tak tampak olehnya tertutup banyak kepala yang sedang memperhatikannya.

“Lha ini dia!” tiba-tiba Hardi berteriak ketika melihatnya. Dia jadi salah tingkah dilihat oleh begitu banyak orang, “Ini pelukisnya!” kata Hardi lagi, lalu ditujukan kepada dirinya, “Kemana saja sampeyan. Sudah dari tadi ya datangnya? Sini, sini. Ini, bapak ini seorang kolektor dari Jakarta, ingin membeli lukisan sampeyan.” Astaga, ternyata lukisan yang dirubung itu lukisannya. Dia lirik tulisan yang terpampang di bawah lukisan yang menerangkan data lukisan. Di samping namanya, dia tertarik dengan judul (yang tentu Hardi yang membuatkan): Alifku Tegak di Mana-mana. Wah, Hardi ternyata tidak hanya pandai melukis, tapi pandai juga mengarang judul yang hebat-hebat, pikirnya. Di kanvasnya itu memang hanya ada satu huruf, huruf alif. Lebih kaget lagi ketika dia membaca angka dalam keterangan harga. Dia hampir tidak mempercayai matanya: 10.000 dollar AS, sepuluh ribu dollar AS! Gila!

“Begitu melihat lukisan Anda, saya langsung tertarik;” tiba-tiba si bapak kolektor berkata sambil menepuk bahunya, “apalagi setelah kawan Anda ini menjelaskan makna dan falsafahnya. Luar biasa!”

Dia tersipu-sipu. Hardi membisikinya, “Selamat, lukisan sampeyan dibeli beliau ini!”

“Katanya, Anda baru kali ini ikut pameran,” kata si bapak kolektor lagi tanpa memperhatikan air mukanya yang merah padam, “teruskanlah melukis dari dalam seperti ini.”

(“Melukis dari dalam? Apa pula ini?” pikirnya)

Wartawan-wartawan menyuruhnya berdiri di dekat lukisan alifnya itu untuk diambil gambar. Dia benar-benar salah tingkah. Pertanyaan-pertanyaan para wartawan dijawabnya sekenanya. Mau bilang apa?

Besoknya hampir semua media massa memuat berita tentang pameran yang isinya hampir didominasi oleh liputan tentang dirinya dan lukisannya. Hampir semua koran, baik ibu kota maupun daerah, melengkapi pemberitaan itu dengan menampilkan fotonya. Sayang dalam semua foto itu sama sekali tidak tampak lukisan alifnya. Yang terlihat hanya dia sedang berdiri di samping kanvas kosong!

Beberapa hari kemudian, beberapa wartawan datang ke rumah Ustadz Bachri. Bertanya macam-macam tentang lukisan alifnya yang menggemparkan. Tentang proses kreatifnya, tentang bagaimana dia menemukan ide melukis alif itu, tentang prinsip keseniannya, dlsb. Seperti ketika pameran dia asal menjawab saja.

Ketika makan siang, istri dan anak-anaknya ganti mengerubutinya dengan berbagai pertanyaan tentang lukisan alifnya itu pula.

“Kalian ini kenapa, kok ikut-ikutan seperti wartawan?!” teriaknya kesal.

“Tidak pak, sebenarnya apa sih menariknya lukisan Bapak? Kok sampai dibeli sekian mahalnya?” tanya anak sulungnya.

“Kenapa sih Bapak hanya menulis alif?” tanya si bungsu sebelum dia sempat menjawab pertanyaan kakaknya, “mengapa tidak sekalian Bismillah, Allahu Akbar, atau setidaknya Allah, seperti umumnya kaligrafi yang ada?”

Istrinya juga tidak mau kalah rupanya. Tidak sabar menunggu dia menjawab pertanyaan-pertanyaan anak-anaknya.

“Terus terang saja, Mas, sampeyan menggunakan ilmu apa, kok lukisanmu sampai tidak bisa difoto?”

Ustadz Bachri geleng-geleng kepala. Kepada para wartawan dan orang lain, dia bisa tidak terus terang, tapi kepada keluarganya sendiri bagaimana mungkin dia akan menyembunyikan sesuatu. Bukankah dia sendiri yang mengajarkan dan memulai tradisi keterbukaan di rumah.

“Begini,” katanya sambil menyantaikan duduknya; sementara semuanya menunggu penuh perhatian,

“terus terang saja; saya sendiri sama sekali tidak menyangka. Kalian tahu sendiri, saya melukis karena dipaksa Hardi, tamu kita yang pelukis itu. Saya merasa tertantang.”

“Saya sendiri baru menyadari bahwa meskipun saya menguasai kaidah-kaidah khath, ternyata melukis kaligrafi tidak semudah yang saya duga. Apalagi, kalian tahu sendiri, sebelumnya saya tidak pernah melukis. Lihatlah, di gudang kita, sekian banyak kanvas yang gagal saya lukisi. Bahkan, saya hampir putus-asa dan akan memutuskan membatalkan keikutsertaan saya dalam pameran. Tapi, Hardi ngotot mendorong-dorong saya terus.”

“Lalu, ketika cat-cat yang saya beli hampir habis, saya baru teringat pernah melihat dalam pameran kaligrafi dalam rangka MTQ belasan tahun yang lalu, seorang pelukis besar memamerkan kaligrafinya yang menggambarkan dirinya sedang sembahyang dan di atas kepalanya ada lafal Allah. Saya pun berpikir mengapa saya tidak menulis Allah saja?”

Ustadz Bachri berhenti lagi, memperbaiki letak duduknya, baru kemudian lanjutnya, “Ketika saya sudah siap akan melukis, ternyata cat yang tersisa hanya ada dua warna: warna putih dan silver. Tetapi, tekad saya sudah bulat, biar hanya dengan dua warna ini, lukisan kaligrafi saya harus jadi. Mulailah saya menulis alif. Saya merasa huruf yang saya tulis bagus sekali, sesuai dengan standar huruf Tsuluts Jaliy. Namun, ketika saya pandang-pandang letak tulisan alif saya itu persis di tengah-tengah kanvas. Kalau saya lanjutkan menulis Allah, menurut selera saya waktu itu, akan jadi wagu, tidak pas. Maka, ya sudah, tak usah saya lanjutkan. Cukup alif itu saja.”

“Jadi, tadinya Bapak hendak menulis Allah?” sela si bungsu.

“Ya, niat semula begitu. Yang saya sendiri kemudian bingung, mengapa perhatian orang begitu besar terhadap lukisan alif saya itu. Saya juga tidak tahu apa yang dikatakan Hardi kepada kolektor dari Jakarta itu, tetapi dugaan saya dialah yang membuat lukisan saya bernilai begitu besar. Termasuk idenya memberi judul yang sedemikian gagah itu.”

“Tetapi, sampeyan belum menjawab pertanyaan saya,” tukas istrinya, “sampeyan menggunakan ilmu apa, sehingga lukisan sampeyan itu ketika difoto tidak jadi dan yang tampak hanya kanvas kosong yang diberi pigura?”

“Wah, kamu ini ikut-ikutan mempercayai mistik ya?! Ilmu apa lagi? Saya tadi kan sudah bilang, alif itu saya lukis hanya dengan dua warna yang tersisa. Sedikit putih untuk latar dan sedikit silver untuk huruf alifnya. Mungkin, ya karena silver di atas putih itu yang membuatnya tak tampak ketika difoto.”

Istri dan anak-anaknya tak bertanya-tanya lagi; tetapi Ustadz Bachri tak tahu apa mereka percaya penjelasannya atau tidak. *

 

Rembang, 2 Maret 2006

Oleh: A. Mustofa Bisri

30 November 2010 Posted by | Cerpen | Tinggalkan komentar

Dia, Saya dan Taqwa

Oleh: A. Mustofa Bisri

Kedatangannya hari itu ke rumah saya merupakan kejutan. Pada waktu berkenalan di Jakarta pertama kali beberapa tahun yang lalu, dia kelihatan seperti tidak begitu mengacuhkan saya, sampai saya merasa tidak enak sendiri. Mereka telah mengusiknya. Sekarang, tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba dia datang ke gubug saya. Saya gembira sekali.

Dia datang menjelang maghrib dan shalat bersama para santri di surau saya yang tidak ada mihrabnya. Waktu wiridan dia sempat saya perhatikan. Dia yang mengenakan celana jeans dan gundulan, keliatan begitu mencolok di tengah para santri yang bersarung dan berpeci. Tapi mencolok lagi kekhusyukan yang wajar. Dan entah mengapa tiba-tiba saya teringat hadist, “ Al-Muslimu miraatu-l-muslimin.” Orang Islam adalah cermin orang Islam yang lain. Dan saya ingin bercermin pada diri tamu saya yang khusus ini.

Dalam banyak hal dia keliatan sangat kontras dengan saya. Dia halus, bicaranya halus. Wajahnya sedap dipandang. Namanya Jawa dan sederhana, nama saya Arab dan banyak embel-embel. Dia dari pedalaman, saya dari pesisir. Mungkin dia dibesarkan dilingkungan priyayi, sedangkan saya sejak kecil hidup di kalangan santri. Dia berpendidikan umum dan menurutnya buta huruf Arab. Sementara saya selamanya dipesantren dan akrab dengan bahasa Al Qur’an. Kenalan dia bongso Goethe, Leonardo da Vince, Van Gough, Cezanne, Monet, Gauguin, Picasso, Kafka, Sartre, Camus, Chekov, Klee, Zola, Kandinsky, dan entah siapa lagi. Sedangkan kenalan saya bongso as-Syafi’y, ar-RAafi’y, an-Nawawy, Ibnu Hajar, Romly, Ibnu Malik, al-Khalil, Abu Nawas, Al-Bushiry, Al-Ghazaly, Juneid, Zakaria, al-Anshary…Dia dikenal sebagai seniman sementara orang-orang disekeliling saya menyebut saya kiai.

Dari segi kegiatan, yang saya ketahui urusannya yaitu seputar seni berseni. Dia pelukis dan sastarawan berhasil. Disamping menulis, dia sering membuat ilustrasi di majalah – majalah san mendekor panggung untuk keperluan suatu pementasan. Sementara saya, disamping mengajarkan kitab – kitab kuning di pesantren, sering di undang memberikan ceramah keagamaan atau pengajian umum. Dalam organisasi keagamaan, saya mempunyai kedudukan yang cukup tinggi.

Dari gambaran perbandingan sekilas di atas barangkali mudah orang menarik kesimpulan, di bidang agama tentu saja saya lebih hebat daripada dia. Di lihat dari predikatnya saja, dia seniman dan saya kiai. Apalagi bila diingat kenyataan bahwa di banyak kelangan, khususnya masyarakat awam, seniman sering diidentikan dengan orang yagn hidup urakan. Sebaliknya, kiai hampir-hampir dianggap Nabi. (Apalagi banyak “kiai” yang sering sengaja menyitir hadis, “Al-Ulama waratsatu-l- anbiyaa,’ dengan pengertian : Para kiai adalah pewaris kedudukan Nabi – nabi!). Tentunya saya lebih saleh dan lebih dekat dengan Tuhan daripada dia. Bagaimana kiai yang kerjanya memberi pengajian agama tidak lebih takwa dari seniman ketoprakan?.

Tapi benarkah saya lebih takwa daripada dia, yang berarti saya lebih mulia di sisi Tuhan ? Karena, bukankah “Inna akramakumm ‘indahallahi atqaakum’? (sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa ).

Ternyata nilai takwa seseorang tidak semudah yang dilakukan orang awam. Takwa sendiri oleh banyak ulama dirumuskan dalam banyak definisi. Ada yang mengatakan bahwa takwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Da pula yang mengatakan bahwa takwa adalah berlindung pada taat Allah dari hukuman – Nya. Yang lain merumuskan : takwa adalah menjaga diri dari apa saja yang mengundang hukuman Alllah. Takwa ialah menghindari segala tata karma syariat. Takwa pada ketaatan berarti ikhlas, dan pada maksiat berarti tidak melakukannya. Dan masih banyak lagi definisi-definisi yang lain.

Allah sendiri di awal Al-Qur’an menyifatkan orang – orang yang bertakwa (al-Muttaqien) sebagai : “Mereka yang beriman kepada yang ghaib (percaya kepada yang maujud yang tak dapat ditangkap pancaindera, karena adanya dalil yang menunjukan kepada adanya), yang mendirikan salat(menunaikannya dengan teratur sesuai aturan-aturannya), yang menafkahkan sebagian rezeki yang Ia anugerahkan kepada mereka, dan mereka beriman kepada Al- Qur’an yang diturunkan kepada Rasullah saw. Dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya serta meyakini adanya hari akhir.” (Q.S. Al- Baqarah:2-4)

Sedangkan di surat Ali Imran : 135-5, Allah memberikan al-Muttaqien sebagai “Mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik diwaktu luang maupun sempit, mereka yang menahan amarahnya dan mamaafkan orang lain, mereka yang apabilamelakukan perbuatan keji atau melalimi diri sendiri segera ingat Allah lalu memohon ampun tehadap dosa-dosa mereka — dan siapa lagi yang mengampuni dosa-dosa kecuali Allah?— dan mereka tidak ngotot meneruskan apa yang mereka lakukan itu, sedang mereka mengetahui.”

Ternyata sepanjang yang saya ketahui tentang takwa yang menjadi patokan kemuliaan di sisi Tuhan itu, kesenimanan dan kekiaian tidak termasuk kriterium. Jadi sepanjang menyangkut soal ketakwaan, saya tidak bisa sekadar mengukurnya dari kesenimannya dan kekiaian saya. Apalagi Rasullah sendiri pernah berkata, sambil menunjuk dada, “at-Taqwa ha hunaa.” ( Takwa itu di sini ).

Tapi saya tidak sedang mengukur takwa siapa-siapa. Saya sedang bercermin pada diri kawan saya yang seniman dan saya melihat beberapa hal yang dapat saya manfaatkan untuk diri saya.

Saya melihat kekhusyukan tidak dalam salat dan wiridannya saja. Saya melihat nya juga pada saaat dia bicara atau mendengarkan tentang Tuhan, bahkan tentang ciptaan-Nya. Dia menyimak dan merekam segala sesuatu yang dapat mendekatkannya kepada Allah. Atau bahkan dia menyimak dan merekam-Nya pada segala sesuatu.

Orang mungkin menganggapnya muallaf, tapi dia salat di awal waktunya. Dia tahallul dari ihram hajinya dengan mencukur gundul rambutnya yang indah itu; tidak sekedar menggunting beberapa helai. Ketika orang Demak menceritakan kepadanya tentang pokok kayu yang bertahun-tahun tergolek terlantar —- karena dulu waktu datang menumpang air bah untuk melamar jadi bahan bangunan mesjid Demak, dia “tidak diterima” sebab para wali sudah selesai membangun mesjid agung itu — dia tampak begitu iba dan berjanji, kalau dia punya rezeki, dia akan mengangkat pokok kayu itu dan menjadikannya tempat ibadat, sesuai “keinginan” nya. Ketika dia menulis tentang masjid-masjid, dia mewajibkan dirinya untuk salat Jum’at dan beri’tikaf di mesjid yang bersangkutan . Ketika dia saya ajak bersilaturrahim ke tempat kiai dusun yang hidupnya diabadikan kepada masyarakat, dia begitu bersemangat. Barangkali sama dengan semangat saya seandainya di Jakarta dia mengajak saya ke Ancol. Lebih dari itu, dia secara intens merekam dan meng-gepok-tular-kan pengalaman batinnya kepada Allah lewat ceramah dan buku-bukunya untuk menambah kekayaan batin orang lain.

Walhasil saya benar-benar memperoleh manfaat dari kehadirannya.
Mungkin anda sudah mengenalnya, atau bahkan lebih mengenalnya daripada saya. Dialah saudara saya, Danarto.
8 Juni 2006 21:51:21
Oleh: A. Mustofa Bisri

30 November 2010 Posted by | Catatan Gus Mus | Tinggalkan komentar

Kereta Senja

Cerpen : Putu Fajar Arcana

Kereta itu bergerak di batas senja. Lanskap kota tampak gamang disepuh cahaya. Orang-orang panik, berlarian, seperti baru saja terjadi ledakan. Di tengah serpihan asap dan bau daging terbakar, sebuah ambulans dengan sirene meraung-raung memecah kepanikan. Gedung- gedung menghitam karena hangus, seluruh kacanya rontok sehingga jendela-jendela tampak seperti mulut-mulut yang menganga.

Tepat ketika kereta bergerak di tepi kepanikan itu, aku terbangun. Ini mimpi paling buruk yang pernah kualami di saat- saat pergantian hari.

Saat itu juga kuputuskan pergi ke stasiun. Senja yang baru saja tumbuh terus bergerak melewati gedung-gedung yang menjulang. Aku mulai mencemaskan Rhea dan anak-anak. Beberapa waktu lalu mereka kulepas di stasiun. Sampai kereta menghilang di sebuah tikungan yang mengantarkan mereka menuju sebuah kota aku belum juga beranjak.

Senja terasa aneh. Angin seperti menampar-nampar pucuk cemara yang tumbuh di taman sebuah tugu dekat stasiun. Dalam waktu yang tak lama, daun-daun dan kertas-kertas bekas beterbangan sebelum akhirnya terhempas membentur- bentur pilar stasiun. Beberapa pedagang kaki lima yang tadinya terkantuk-kantuk menjerit karena dagangannya berhamburan. Ada yang tak biasa terjadi malam ini. Aku putuskan menunggu beberapa jam. Tetapi sampai jam kota berdentang sembilan kali tidak terjadi apa-apa, kecuali orang-orang yang bergegas pergi atau kembali dari suatu tempat yang jauh.

Esok paginya lewat SMS Rhea berkabar, kakek dan nenek sudah menunggu di stasiun. Lama tak kubalas SMS itu. Tak biasa ayah dan ibu ikut-ikutan menjemput cucu-cucunya sepagi itu. Kukatakan kepada Rhea, mestinya ayah dan ibu jangan diperkenankan ikut menjemput. Tapi menurut Phuja, adik iparku, ayah dan ibu memaksa pergi ke stasiun. Katanya mereka tidak sekadar ingin menjemput, tetapi kebetulan hari itu ulang tahun perkawinan mereka yang ke-40.

“Mengapa harus ke stasiun?” kataku kepada Rhea lewat telepon kemudian.

“Lho ayah dan ibu itu ingin mengenangkan pertemuan mereka terjadi justru di stasiun ini, pagi lagi. Waktu itu ayah masih kuliah di Jakarta, pas pulang kampung eh ibu yang masih sepupu itu ikut- ikutan menjemput. Jadi, menjemput buat mereka itu peristiwa istimewa lho… Sayang kamu tak turut serta ya. Pasti perayaan ini menjadi lebih meriah….”

“Kan sudah kubilang tak bisa meninggalkan pekerjaan.”

Aku agak tenang setelah mendengar penuturan Rhea. Setidaknya sampai aku diganggu mimpi di senja hari itu, tak pernah kucemaskan akan terjadi sesuatu pada mereka. Aku yakin pastilah setiap saat Rhea bisa berkabar, terutama tentang keadaan anak-anak kami. Apalagi ada ayah dan ibu, yang sudah pasti sangat gembira kedatangan cucu-cucu mereka dari kota yang jauh.

Aku tak pernah berpikiran ini perilaku aneh. Sejak diganggu mimpi di senja yang gamang, aku setiap hari pergi ke stasiun. Tak ada alasan yang bisa kujelaskan kepadamu karena aku sendiri pun tak bisa merumuskan dengan terang: mengapa aku tiba-tiba harus berada di stasiun setiap senja tiba.

Sepulang kerja aku turut larut dalam kerumunan orang-orang yang bergegas- gegas seakan ada sesuatu yang penting sedang menunggu. Ketika tubuh-tubuh mereka ditelan gerbong yang sesak, aku hanya duduk di sebuah kursi seolah sedang menunggu sesuatu yang istimewa. Seorang perempuan tua tampak tergencet di antara para lelaki yang berdiri sembari merokok. Orang-orang lain mengipas- ngipas koran untuk mengusir asap rokok yang mengepul.

Seorang perempuan bercelana jeans ketat dan t-shirt putih tampak sibuk dengan telepon genggamnya. Ah, ini pemandangan yang biasa di kota seperti Jakarta. Orang-orang terbiasa memencet-mencet tombol handphone di sembarang tempat sehingga mereka seperti asing berada di antara orang lain. Aku sering membahasakan ini di lingkungan kantorku dengan mengatakan, orang-orang yang berada di tempat tetapi tidak berada di tempat. Kedengarannya rada filosofis, bukan? Tetapi itulah kenyataan manusia modern sekarang. Mereka boleh hadir di antara kita, tetapi sedang berbicara dengan seseorang lain yang berada di suatu tempat. Lalu, apa makna kehadiran kalau begitu?

Aku sedang mempertanyakan diriku. Sebagaimana telah kau tahu, aku sendiri tak mengerti mengapa tiba-tiba kehadiranku di stasiun ini akhirnya menjadi keharusan. Dan kemudian bergegas pulang setelah hampir seluruh kereta berangkat.

Padahal, Rhea lewat SMS sudah bilang ia kira-kira akan pulang menjelang liburan anak-anak usai. Katanya, mungkin sekitar akhir bulan ini. Sekarang baru tanggal 15, artinya ia akan berada di kota itu sekitar dua minggu lagi. Karena itu tidak ada alasan kalau aku mencemaskan keberadaannya. Kalau misalnya sebuah kereta mengalami kecelakaan, sebagaimana cerita dalam mimpiku itu, pastilah Rhea dan anak-anak tidak ada di dalamnya.

Pada hari berikut ketika aku duduk di kursi yang sama lalu mengamati kereta- kereta yang datang dan pergi, senja menjadi semakin aneh. Pelan-pelan perangainya seperti berubah menjadi semacam gua waktu yang dengan rakus menelan hari. Aku tak pernah tahu, apakah kereta yang pergi akan tiba di suatu tempat dan orang-orang bergegas seperti mesin. Apakah juga kereta-kereta akan datang setelah mengunjungi kota-kota yang jauh dari jangkauan pikiranku dan orang- orang seperti dimuntahkan dari mulut gerbong, bergegas dan bergegas.

Kesibukan mereka seperti sebuah lingkaran yang samar-samar. Belum tentu mereka yang pergi dan datang adalah orang-orang yang sama. Barangkali sebagian di antaranya telah menyinggahi kota-kota yang asing dan memutuskan untuk menetap. Kepergian bisa berarti pula tak pernah kembali. Tetapi, sebaliknya kedatangan bisa dipastikan akan berakhir lagi dengan kepergian. Pergi ke suatu tempat yang entah, sebagaimana aku tak pernah tahu ke mana tujuan orang-orang yang bergegas itu.

Pada sebuah senja yang buram, seseorang yang sudah lama tidak pernah kujumpai tiba-tiba menepuk bahuku dari belakang. Setelah berpelukan, sebagai basa-basi ia mengatakan akan pergi menengok keluarganya yang tinggal di kota lain. Ketika ia bertanya kepadaku apakah sedang menunggu seseorang, cepat-cepat kujawab, “Aku sedang menunggu istriku.”

“Ooh sedang liburan rupanya?”

“Ya, kebetulan menengok orangtuanya di kampung.”

“Aneh ya kita tinggal di kota yang sama, tapi hampir tidak pernah bertemu,” kata dia sembari mengerutkan alisnya. Saat-saat ia mengucapkan itu, tiba-tiba kulihat ada lubang hitam di keningnya. Dan dari lubang itu keluar suara dengung yang menusuk genderang telingaku.

“Kenapa tiba-tiba kau menutup telinga?” tanyanya.

“Ah, aku paling tidak tahan mendengar derit roda kereta…,” kataku mencari alasan. Untung saja ia cepat-cepat menyadari kalau kereta yang akan membawanya ke sebuah kota segera berangkat.

“Eehh, sampai ketemu lagi. Ini kartu namaku…,” katanya. Sebelum meloncat ke dalam gerbong, ia sempat melemparkan sebuah kartu nama berwarna kelabu. Aku tak begitu memerhatikannya, langsung saja kumasukkan ke dalam saku baju.

Sore berikut aku lihat begitu banyak polisi di stasiun. Mereka bahkan tampak sangat sibuk memeriksa orang-orang yang naik ke atas gerbong. Secara bisik- bisik kudengar kemarin malam terjadi perampokan bersenjata api di atas gerbong kereta. Cepat-cepat kupanggil penjual koran. Setelah yakin akan koran yang kupilih, sebuah koran kota yang dipenuhi berita-berita kriminal, aku duduk di kursi di mana biasa aku menunggu.

Ini sebuah kebetulan atau bukan, kawanku yang sampai kulihat gambarnya di koran itu belum kuingat namanya roboh bersimbah darah di dalam sebuah gerbong. Ialah kawan yang kemarin sore sepintas bercakap denganku lalu melemparkan kartu namanya.

Cepat-cepat kuperiksa saku baju. Dengan tangan gemetar kubaca Sam Kapoor, kawanku yang malang itu, memiliki toko bahan-bahan tekstil di satu kawasan di kota ini. Barangkali ketika perampokan itu terjadi ia berangkat menagih piutang ke sebuah kota lain kepada para pelanggannya. Ah, aku tiba-tiba merasa lelah. Kulorotkan tubuh untuk kemudian mengambil posisi terlentang di sebuah bangku panjang. Stasiun mulai tampak sepi.

Kereta itu lagi-lagi bergerak di tepi senja. Lanskap kota tampak rembang disiram cahaya. Orang-orang panik, berlari tak tentu arah, seperti baru saja terjadi sebuah ledakan dahsyat di sini. Tiba-tiba membayang wajah Rhea dan anak-anak tersekap dalam sebuah gerbong yang gosong….

“Aahhh, Tuhan, aku tidak sedang ingin pembuktian…!!” Seorang polisi tiba-tiba memegang pundakku.

“Saudara sedang apa di sini?” tanyanya.

Dengan gugup karena mimpi sialan tadi kujawab, “Saya sedang menunggu istri dan anak-anak, Pak? Ah maaf apakah tadi saya bermimpi?”

“Saya tidak tahu. Mimpi bukan urusan saya.”

“Apakah masih ada kereta yang akan tiba?”

“Kereta terakhir sudah tiba setengah jam yang lalu.”

“Apakah istri dan anak-anak saya sudah tiba?”

“Itu urusan Saudara. Mungkin mereka sudah pulang.”

“Kalau begitu alangkah bodohnya saya.”

“Sudah beberapa hari ini Saudara tidur di sini. Dan, kami mencurigai Saudara salah satu anggota komplotan perampok itu.”

“Bagaimana mungkin orang yang tertidur dituduh komplotan rampok.”

“Ah, Saudara jelaskan saja nanti di kantor. Ikut kami….”

Dua orang polisi lainnya tiba-tiba nongol dari balik pilar-pilar stasiun. Rupanya mereka sejak beberapa hari ini menguntitku. Berbagai kejadian perampokan di atas gerbong memang telah diberitakan koran kota. Di kantor polisi aku disodori gambar-gambar para korban perampokan yang selalu tergeletak dengan kening berlubang karena tembusan peluru.

“Apakah Saudara yang menembak perempuan ini?” tanya seorang polisi yang lain. Kuperhatikan seorang perempuan dengan celana jeans ketat dan t-shirt putih tergeletak di lantai gerbong.

“Apakah juga Saudara menembak yang ini?” Polisi itu melemparkan foto wajah seorang lelaki yang kuingat selalu mengepulkan asap rokoknya di dalam gerbong.

“Ayo jawab, sebelum kami bertindak kasar!” bentak polisi.

“Apakah tampang saya terlihat seperti perampok?” Aku memberanikan diri bertanya.

“Kami yang bertanya. Saudara hanya dibolehkan menjawab, tahu!”

“Pasti bukan saya Pak. Tetapi, kalau saya menjelaskan sesuatu pasti bapak-bapak tidak akan percaya,” kataku.

“Kami membutuhkan pengakuan, bukan penjelasan!”

“Kalau itu, bukan saya pelakunya Pak. Saya hanya datang ke stasiun untuk menjemput istri dan anak-anak. Itu saja.”

“Apakah Saudara menembak orang- orang ini?” desak seorang polisi yang lain.

“Bagaimana saya menembak, pistol pun tak punya.”

“Saudara minta orang lain.”

“Atas kepentingan apa?”

“Ini kasus perampokan, Saudara! Jangan berbelit-belit.” Seseorang yang bertampang kalem masuk ke ruangan. Setelah beberapa saat tak bicara, lalu ia meminta para polisi itu melepaskan aku. Justru di saat telah terbebas dari tangan para polisi itu, aku merasa berkewajiban menceritakan sesuatu.

“Sebelum dirampok kebetulan orang-orang itu saya lihat di dalam gerbong, dan di kening mereka terlihat lubang hitam tembus sampai ke kepala bagian belakang,” kataku meyakinkan. Aku belum sempat menceritakan mimpiku tentang kereta di batas senja dengan orang-orang yang panik, polisi itu memotong, “Ah itu tak menjelaskan apa pun. Pasti banyak yang melihat mereka sebelum dirampok. Sudah silakan Saudara pulang.”

Aku tidak datang ke stasiun selama beberapa hari. Sampai Rhea memberi tahu ia dan anak-anak akan pulang dalam beberapa hari ini, aku tidak bercerita tentang interogasi polisi. Kalau kuceritakan kebiasaanku mendatangi stasiun saban senja, pastilah tak masuk di akal Rhea. Ia perempuan yang sangat rasional. Tak bakalan menerima alasan-alasan seperti firasat atau semacam kecemasan, apalagi mimpi. Baginya semua harus masuk akal. Kalau aku pergi ke stasiun, haruslah untuk mengantar atau menjemput seseorang, bukan sekadar menyaksikan orang-orang yang datang dan pergi.

Padahal, sekarang justru mengantar dan menjemput itulah yang sedang menjadi persoalan bagiku. Aku merasa sedang berhadapan dengan ambang batas yang samar-samar. Seperti senja yang menganga menelan hari. Kita tak tahu apakah esok akan ada kehidupan lagi. Jangan-jangan senja telah memerangkap kita ke dalam labirin-labirin hari. Maka itu orang-orang terus bergegas, hanya karena mereka merasa dikejar waktu. Padahal, sebagian di antaranya akan tersesat dalam lingkaran yang mengembalikan mereka ke waktu, ruang, dan tempat yang sama. Sebagian lagi mungkin menghilang di ujung rel ditelan kabut. Aku tidak ingin menjadi bagian dari kehilangan itu.

Aku merasa mengantar dan menjemput menjadi sesuatu yang selalu berujung dengan keperihan. Apakah orang-orang yang kita antar dan jemput akan tiba di stasiun? Derit kereta menjadi semacam sembilu yang menyayat tubuh hari. Dan kita tak tahu untuk apa ada di sini dan untuk apa kita pergi.

Stasiun di mana sekarang aku menunggu terasa lengang dan dingin. Ini tak biasa. Ketibaan seperti gambar-gambar kabur dari masa lalu, menderit-derit ke tepi malam. Rhea berkabar ia bersama anak-anak akan tiba dengan kereta senja hari ini. Seorang petugas mengatakan kalau tidak ada hambatan kereta akan tiba sekitar pukul 18.15 petang hari. Ketika kutanyakan apa maksudnya dengan tak ada hambatan itu, sembari bergegas ia menjawab, “Sekarang banyak kendaraan nyelonong memotong rel.”

Aku ingat pekan lalu kecelakaan menimpa sebuah mobil pick-up yang mengangkut rombongan keluarga pengantin. Ketika mobil melintas rel yang tak berpalang pintu, tiba-tiba sebuah kereta menyeretnya sampai beberapa meter. Seluruh penumpangnya tewas. Barangkali bagi petugas tadi berita horor itu menjadi berita biasa. Sebuah peristiwa yang tak mampu lagi mengugah rasa ngeri-nya.

Karena waktu tiba masih cukup lama, kuputuskan menyelonjorkan tubuhku di bangku panjang. Persis seperti ketika aku digiring ke kantor polisi beberapa hari lalu.

Kereta itu bergerak di batas senja. Lanskap kota remang-remang oleh jatuhan cahaya. Orang-orang panik, berlarian di antara kaca-kaca gedung yang rontok. Dan lagi-lagi jendela-jendela yang hangus seperti mulut-mulut raksasa yang mengaum… Baru saja sebuah ledakan dahsyat meluluhlantakkan kota.

Suara loudspeaker yang mengabarkan penundaan kedatangan kereta mengagetkan aku. Katanya, karena ada kejadian yang tidak terduga di tepi sebuah kota kecil, kedatangan seluruh kereta dari arah selatan terpaksa tertunda.

Dengan tergesa-gesa aku mendatangi counter informasi. Rupanya sejak tadi orang-orang sudah berkerumun. Samar-samar di dekat pilar stasiun beberapa orang bercakap tentang sebuah kecelakaan yang menimpa kereta senja dari arah selatan. Sementara petugas informasi hanya memberi tahu seluruh kedatangan kereta dari jalur selatan ditunda.

“Jalur sedang dibersihkan, Pak. Harap sabar, tunggu saja kabar berikutnya,” kata petugas perempuan yang tampak ogah-ogahan bekerja.

“Apa yang sedang terjadi? Tolong beri tahu saya,” pintaku.

“Bukan kewenangan saya untuk memberi tahu,” kata perempuan itu ketus.

“Ini menyangkut kepastian orang- orang yang saya cintai. Anda masih saja bisa bermain-main!” bentakku.

Bentakan itu rupanya mengalihkan semua pandangan orang. Mereka semua mendekat lalu berteriak-teriak minta petugas segera memberi tahu apa sesungguhnya yang tengah terjadi. Seorang lelaki yang berkacamata hitam bahkan menggedor-gedor loket. Beberapa kaca terdengar mulai pecah. Aku diam-diam menyelinap ke belakang karena tidak ingin dicap sebagai pemimpin keributan ini.

Aku lihat petugas informasi mulai panik. Mereka tak tahu mesti menjelaskan apa kepada orang-orang yang mulai kalap ini. Tiba-tiba seseorang yang mengaku kepala polisi berbicara lewat pengeras suara.

“Saudara-saudara harap tenang. Tenang dulu, kami akan segera informasikan tentang kecelakaan yang menimpa kereta senja dari arah selatan beberapa waktu lalu….” Kakiku tiba-tiba terasa lemas. “Baru saja kami dapat kabar satu gerbong kereta Mahabaratha Ekspres yang berangkat tadi pagi mengalami kebakaran. Sementara belum diketahui jumlah korbannya…. Harap Saudara-saudara tenang menunggu pemberitahuan selanjutnya. Sekian dan terima kasih,” kata kepala polisi itu.

Secepat kilat kupencet tombol-tombol handphone untuk menghubungi Rhea. Tetapi, teleponnya tidak bisa dihubungi. Berkali-kali hanya terdengar suara Rhea dalam mailbox yang minta ditinggali pesan.

Sebentar lagi senja berlari meninggalkan jejak-jejak gelap. Bayangan mimpi yang akhir-akhir ini selalu datang ketika aku tidak dalam keadaan siap hilang-muncul di kaca-kaca buram stasiun. Setengah putus asa kulemparkan tubuhku di kursi tunggu. Inilah mungkin saatnya melihat mimpi perlahan merembes menjadi kenyataan. Kenyataan yang tentu saja jauh dari harapanku.

Aku cemas memikirkan nasib Rhea dan anak-anak. Merekalah yang selama ini membuat hidupku jadi penuh warna. Aku tak bisa memikirkan apa yang terjadi dengan hidupku esok hari jika benar-benar kehilangan mereka. Aku khawatir pengalamanku melihat orang-orang yang berlubang keningnya itu terulang pada mereka. Tuhan, kataku dalam hati, aku tidak sedang ingin pembuktian atas kebenaran yang Kau sodorkan kepadaku.

Di tengah rasa cemas dan temaran lampu-lampu stasiun, tiba-tiba sebuah SMS masuk. Katanya, “Ayah, kami tak jadi pulang hari ini. Kakek tiba-tiba sakit. Ayah baik-baik, kan? Dari Rheda.” Dengan sangat terburu-buru aku menelepon mereka. Anak sulungku bilang, kakeknya kini sedang dirawat di rumah sakit karena stroke.

Jakarta, September 2004

Oleh :  Putu Fajar Arcana

30 November 2010 Posted by | Cerpen | Tinggalkan komentar

Rendra

Cerpen :  Putu Wijaya

“Kebudayaan Jawa adalah kebudayan kasur tua!” kata Rendra dengan tandas dalam sebuah diskusi di Yoga pada akhir tahun 60-an, kata seorang budayawan yang diwawancari di televisi itu.

“Banyak orang tersinggung dan kaget. Itu bukan saja terlalu berani tetapi juga kurangajar. Kebudayaan Jawa yang tinggi, berciri kontemplasi dan melahirkan monumen yang mencengangkan dunia seperti Borobudur, Prambananan, buku Nagara Kertagama, Arjuna Wiwaha dan sebagainya itu, bagaimana mungkin hanya sebuah kasur tua?”

“Burung merak dari Solo yang lahir pada 1935 itu kemudian dianggap sebagai orang gila yang besar mulut. Mentang-mentang baru pulang dari Amerika, tak seenak perutnya ia bisa menilai jawa yang begitu dihormati oleh semua orang.”

“Apakah itu yang kemudian menyebabkan Rendra, penyair Ballada Orang-Orang Tercinta itu kemudian diusir dari Yogya ke Jakarta? Tidak. Sama sekali tidak. Ia justru mengeluarkan seruan yang mengejek para seniman yang sudah ramai-ramai hijrah ke Jakarta, mengejar nama dan duit. Ia berseru, berjanji, mirip sebuah sumpah, ia akan terus bertahan di Yogya. Menampik budaya kota, hidup dekat dengan lingkunganserta alam. Dan hadir untuk menunjukkan eksistensi pedalaman.”

‘Tetapi kenapa bidan Bengkel Teater yang tersohor karena ciptaannya yang bernama teater mini-kata itu, tiba-tiba kemudian boyongan ke Jakarta. Ia menghuni sebuah kawasan luas di pinggiran kota Depok. Dalam sebuah wilayah lengkap dengan sawah serta kolam. Bahkan memiliki sebuah pemakaman keluarga yang juga terbuka bagi para seniman. Di situ terbaring maestro piñata artistik Rujito dan miskus yang melejit tiba-tiba menjadi sebuah legenda, si maniak kopi, Si tak gendong-gendong: Mbah Surip Karena ia mengambil tafsir baru.

Mempertahankan tradisi itu, bukan kulitnya, tapi isinya. Hidup di kota pun penting, asal jiwanya tetap jiwa yang alami. Bahkan itu perlu bagi orang kota yang sudah habis-habisan terkena polusi. Ia ke Jakarta untuk menyelamatkan Jakarta!”

“Mas Willy, begitu panggilan akrabnya, tidak kemudian menjadi manusia terkutuk yang dikeluarkan oleh orang yang merasa dirinya orang jawa. Ia bahkan mendapat kemulyaan di malam purnama yang indah, malam Jum’at, menjelang bulan Ramadhan. Dan kepergiannya dihadiri oleh ribuan orang yang mengalir memadati seluruh pelataran kawasan Bengkel Teater sehingga membuat jalanan pun macat.”

“Kenapa? Karena ternyata di balik kata-katanya yang pedas, yang membuat telinga merah, di balik apa yang dimaksudkannya dengan kebudayaan kasur tua, tersimpan niat yang mulia. Dia ingin membebaskan tradisi dari virus-virus jahat, yang dalam perjalanannya menembus zaman sudah dititipkan oleh kekuasaan dan tangan-tangan jahil. Ia ingin membebaskan tradisi dari asesoris dan muatan temporer yang membuat tradisi menjadi beban berat dan menyiksa bahkan melukai para pewaris. Ia ingin mencuci kembali tradisi, sehingga esensinya, rohnya
yang bernama kearifan lokal bersinar kembali dengan gemilang!”

“Si Burung Meraklah yang kemudian memberi tafsir baru terhadap apa yang disebut nrimo, pasrah, gotong-royong dan sebagainya yang sudah diselewengkan menjadi tempat menyembunyikan kemalasan alias didaur-ulang. Dengan memberikan tafsir baru, ia membuat seluruh kebijakan, ilmu hidup yang diturunkan oleh tradisi Jawa menjadi dinamis, alias tidak melempem. Ia membuat tradisi Jawa tidak lagi kolot, melempem, tetapi bernas, aktual dan menyelamatkan para pewarisnya dari benturan-benturan zaman.”

Amat terkejut. Ia memandang orang yang bicara di di layer kaca itu dengan mata tak berkedip. Tak sabar. Ia kemudian mencecer.

“Maksud Bapak, mas Willy sudah membuat kebudayaan jawa kembali pada kearifan lokalnya?”
“Persis!”
“Almarhum membuat kebudyaan jawa menjadi dinamis?”
“Betul Pak Amat.”
“Seperti desa-kala-patra bagi orang Bali?”
“Itu maksud saya! Seratus untuk pak Amat!”
Amat terpekik.
“Yes!”
Tak puas hanya memekik, Amt kemudian menggebrak meja.
“Betul! Makanya dia dinamakan Burung Merak!”
Bu Amat bergegas datang.

“Sabar Pak, sabar. Telat satu menit saja sudah main pukul meja!” kata Bu Amat meletakkan kopi yang dipesan suaminya. “Jangan suka marah, main drama seperti pemain-pemain sioentron itu. Yang wajar-wajar saja.”

Amat memegang tangan istrinya yang mau kembali ke dapur, sambil menunjuk ke televisi.

“Lihat Bu, begitu banyak orang datang dalam pemakaman mas Rendra. Dia itu pantas mendapat bintang Maha Putra!”

“Betul, dengan semua perbuatan, tindakan serta pemikirannya, Mas Willy adalah orang yang mengajarkan kepada kita untuk bersikap berani melawan, “kara wajah di televisi itu lagi.melanjutkan, “dia memberikan toladan untuk berani mengemukakan pendapat, bersikap kritis kepada penguasa yang sudha bertindak sewenang-wenang, karena tidak mengoyomi rakyat dan memikirkan kesejahteraan bangsa, tetapi menumpuk keuntungan untuk dirinya sendiri. Mas Rendra mengajak kita untuk berani berkata jujur. Ia seorang pahlawan!”

Bu Amat nyeletuk.

“Kalau dia memang pahlawan, kenapa tidak dimakamkan di makam pahlawan?”
“Makam Pahlawan? Dia tidak akan mau!”
“Kenapa?”
“Karena dia tidak mau terikat oleh kehormatan. Dia pasti lebih senang lepas-bebas di dalam masyarakat, sehingga bisa bergaul dengan semua orang.”

“Itu kan kata Bapak!”

Bu Amat kemudian ngeloyor kembali ke dapur. Amat tercengang.

“Ya itu kataku. Itu memang kataku. Aku berkata untuk almarhum, sebab dia sudah tidak mampu lagi berkata. Apa salahnya kita menafsirkan apa yang akan dikatakannya, setelah orangnya tidak ada? Apa salahnya akuyang akan mengatakan apa yang hendak dikatakan oleh Michael Jackson, Mbah Surip dan Mas Rendra. Kita harus mengungkapkan apa yang tidak bisa lagi dikatakannya. Betul tidak?’ tanya Amat kemudian kepada Ami ketika Ami kembali dari kampus.
Ami mengangguk acuh tak acuh.

“Itu namanya penafsiran, Pak.”

“Memang. Kita kan harus menafsirkan apa yang sudah dilakukan dan diperbuat oleh almarhum, karena almarhum sendiri sudah tidak sanggup berkata? Orang-orang yang berbicara di televisi itu semua begitu, ketika mengomentari Mbah Surip dan mas Willy. Kita harus memberikan tafsir! Masak tidak boleh?”

“Siapa yang melarang?”
“Ibumu!”
“Apa salah Ibu melarang?”
“Karena Bapakmu tidak mau ada orang berkata lain!” damprat Bu Amat yang muncul kembali sambil membawa pisang goreng.
“Katanya Mas Rendra yang meninggal itu seorang Empu yang mengajarkan murid-muridnya untuk memberi tafsir baru. Kenapa kalau Ibu memberi tafsir baru pada tafsirnya, dilarang?”
“Yes!” teriak Ami tiba-tiba.
“Itu artinya dia orang besar. Orang besar kalau meninggal selalu membuat kita yang ditinggalkannya berpikir. Bertengkar juga berpikir. Jadi Jacko, Mbah Surip dan Mas Rendra itu memang orang hebat. Titik. Ayo sekarang ganti channel tv-nya. Itu ada tembak-menembak dengan teroris yang diduga Nurdin Top! Bukan maunya orang besar saja yang harus diperhatikan, mauku juga!”

Jakarta 7 Agustus

Oleh : Putu Wijaya

30 November 2010 Posted by | Cerpen | Tinggalkan komentar

Mencintaimu dalam Diam



Cintailah ia dalam diam, dari kejauhan, dengan kesederhanaan dan keikhlasan… :D

Ketika cinta kini hadir tidaklah untuk Yang Maha Mengetahui saat secercah rasa tidak lagi tercipta untuk Yang Maha Pencipta izinkanlah hati bertanya untuk siapa ia muncul dengan tiba-tiba…mungkinkah dengan ridha-Nya atau hanya mengundang murka-Nya…

Jika benar cinta itu karena Allah maka biarkanlah ia mengalir mengikuti aliran Allah karena hakikatnya ia berhulu dari Allahmaka ia pun berhilir hanya kepada Allah..

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat:49)

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, danorang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelakidan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akanmemampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. ” (QS. An Nuur: 32)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmuisteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasatenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tandabagi kaum yang berfikir. ” (QS. Ar-Ruum:21)

Tapi jika memang kelemahan masih nyata dipelupuk matamaka bersabarlah… berdo’alah… berpuasalah…

” Wahai kaum pemuda,siapa saja diantara kamu yang sudah sanggup untukmenikah,maka menikahlah,sesungguhnya menikah itu memelihara mata,danmemelihara kemaluan,maka bila diantara kamu belum sanggup untukmenikah,berpuasalah,karena ssungguhnya puasa tersebut sebagaipenahannya ” (Hadist)

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatuperbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. ” (QS. Al Israa’ :32)

Cukup cintai ia dalam diam…
bukan karena membenci hadirnya…tapi menjaga kesuciannya bukan karena menghindari dunia…tapi meraih surga-Nya bukan karena lemah untuk menghadapinya…tapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus dan menyelusup..

Cukup cintai ia dari kejauhan…
karena hadirmu tiada kan mampu menjauhkannya dari cobaankarena hadirmu hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangankarena hadirmu mungkin saja ‘kan membawa kenelangsaan hati-hati yang terjaga…

Cukup cintai ia dengan kesederhanaan…
memupuknya hanya akan menambah penderitaan menumbuhkan harapan hanya akan mengundang kekecewaanmengharapkan balasan hanya akan membumbui kebahagiaan para syaitan…

Maka cintailah ia dengan keikhlasan
karena tentu kisah fatimah dan ali bin abi thalib diingini oleh hati…tapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al Farisi…?


…boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat burukbagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ” (QS. AlBaqarah:216)

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, danlaki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), danwanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-lakiyang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yangdituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduhitu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (QS.An Nuur:26)

Cukup cintai ia dalam diam dari kejauhan dengan kesederhanaan dan keikhlasan…

karena tiada yang tahu rencana Tuhan…mungkin saja rasa ini ujian yang akan melapuk atau membeku dengan perlahan

karena hati ini begitu mudah untuk dibolak-balikan…serahkankan rasa yang tiada sanggup dijadikan halal itu pada Yang Memberi dan Memilikinya biarkan ia yang mengatur semuanya hingga keindahan itu datang pada waktunya…

“Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.” (Umar bin Khattab ra.)

“bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam ..”
karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya ..
kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang dan hubungan yg tidak dalam Ridho-NYA
kau tak mahu merusak kesucian dan penjagaan hatinya.

karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu ..
menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu ..

karena diammu bukti kesetiaanmu padanya ..
karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH SWT. pilihkan untukmu ..

ingatkah kalian tentang kisah Fatimah dan ALi ??
yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan ..
tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah ..

………….
karena dalam diammu tersimpan kekuatan ..
kekuatan harapan ..
hingga mungkin saja Allah SWT akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata ..
bukankah Allah SWT tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap pada-Nya ??

dan jika memang ‘cinta dalam diammu’ itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata, biarkan ia tetap diam ..

jika dia memang bukan milikmu, roh Allah, melalui waktu akan menghapus ‘cinta dalam diammu’ itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat..

biarkan ‘cinta dalam diammu’ itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu
menjadi rahsia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu ..

“aku mencintaimu dalam diam, dengan isyarat yg tak kan pernah tertangkap oleh indera, aku tahu memiliki rasa ini adalah sebuah kesalahan, namun… aku dibuat tak berdaya oleh rasa ini, DIAM.. mnjdi caraku untuk mencintaimu…”

NOPEMBER 2010

29 November 2010 Posted by | Goresan | Tinggalkan komentar

Perspektif CINTA dalam Al-Qur’an

Dalam bahasa arab “Cinta” berasal dari kata “al-hubbu” yang berarti kasih sayang. Menurut Hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri. Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Alloh SWT, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Al-Qur’an, cinta memiliki 8 pengertian :

1. Cinta Mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta Rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.

3. Cinta Mail adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.

4. Cinta Syaghaf Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta Ra’fah yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta Shobwah yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)

7. Cinta Syauq (rindu) Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi

8. Cinta Kulfah yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

 

So…. termasuk yang manakah CINTA anda???

1, 1-2, 1-3, 1-4, 1-5, 1-6, 1-7 ataukah semua

atau mungkin yang mana……..????

tapi jangan sampai tidak ada diantara salah satunya yaww “berbahaya” ckckckckckckckck

 

NOPEMBER 10

29 November 2010 Posted by | Goresan | 1 Komentar

AADC (Ada Apa Dengan Cinta)

semalam ta’ sengaja menilik kembali, berusaha sekuat tenaga  memelototkan dua mata yang sudah mulai lengket, melihat kembali salah satu serial Film Indonesia AADC (Ada Apa Dengan Cinta)….. Sebuah film segar, lincah, berwarna lengkap dengan bahasa anak masa kini

bermula ingin mencari sesuatu yang belum saya ketahui, di sebuah bilik warnet, meluncur kesana-kemari, akhirnya saya temukan juga, akhirnya saya simpan dalam bentuk winrar file agar dapat saya bawa ke-mana-mana saya baca sepuasnya..

tapi sebelumsaya menentukan akan saya taruh di mana data yang telah berhasil saya dapatkan itu,,, tiba2 mata saya kembali terbelalak, melihat koleksi folder film Indonesia,,,, beberapa yang menjadi perhatian saya “Gie, Lari Dari Blora, dan AADC (Ada Apa Dengan Cinta) alih-alih melanjutkan menyimpan data yang telah saya dapatkan,,, saya malah terbawa pada noktah keinginan dalam pikiran untuk mencoba membuka dan menontonnya,,, Ada Apa Dengan Cinta?????

Cinta melahirkan getar, gemuruh, dan kegelisahan. Getar dan gemuruh itu hanya terdengar oleh Rangga (Nicholas Saputra), lelaki muda tampan di sekolahnya yang selalu menggenggam naskah skenario film Aku karya Syumanjaya; sementara keempat kawannya Alya, Milly, Karmen, dan Maura (Titi Kamal), sibuk dengan bola basket, berdansa dengan musik baru, dan mengisi majalah dinding.

 

 

 

 

 

 

Mereka hanya menyaksikan sebuah kegelisahan yang tak kunjung bertaut dengan langgam dan bahasa sehari-hari, sebagai “geng” kompak yang senantiasa saling setia dan berpadu. Ada apa sih Cinta yang cantik ini mendadak sering terlambat sekolah (padahal “Kan gue yang ratu terlambat,” demikian kata Karmen dengan nada heran melihat Cinta cekikikan tanpa sebab). Kok dia terlihat ogah-ogahan untuk jadian sama si Borne yang keren abis itu? Dan kenapa dia mendadak menghilang sebelum acara konser dahsyat kelompok musik Pas dimulai? Lalu, ada apa pula dia bicara bait-bait puisi yang ditulis… Chairil… Chairil, siapa tadi?  yuppppssss rupanya anda cukup mafhum,,, benar kata anda “Chairil Anwar”

Ada apa lagi Dengan Cinta?????

ada beberapa bait puisi yang menggetarkan jiwa:

kulari ke hutan kemudian teriakku
kulari ke pantai kemudian menyanyiku
sepi.. sepi,, sendiri, aku benci
aku ingin bingar, aku ingin di pasar
bosan aku dengan penat
dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika kusendiri
pecahkan saja gelasnya biar ramai!
biar mengaduh sampai gaduh
ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih
kenapa tak goyangkan saja loncengnya
biar terdera..
atau aku harus lari ke hutan, belok ke pantai?

puisi karya Rangga yang ia tempel di dinding kamar pak Wardiman, petugas kebersihan sekolah, ternyata menjadi pemenang dalam sebuah lomba membuat puisi, hmmmm

Rangga adalah penghuni setia perpustakaan; memahami bait-bait puisi Chairil Anwar seperti yang mengalir di dalam tubuhnya, dan buku adalah oksigen bagi jiwanya. Nah, bagaimana lelaki—yang memang ganteng itu—bisa nyambung dengan kelima perempuan centil itu? Susah, kan? Tapi Cinta tergetar. Kenyataan bahwa Rangga tinggal berdua dengan ayahnya di sebuah rumah sederhana dan biasa memasak sendiri itu malah membuat dada Cinta semakin bergemuruh.

bisa masak???  saya juga bisa lhoo… masak…. ckckckck masak air, masak mie,,, masak telur hahahaha masak yang gosong-gosong…..????

Cinta pun mulai bersemi diantara keduanya CINTA Rangga dan Cinta,, ternyata mereka memeiliki cukup banyak persamaan,,, sama-sama suka baca buku, membuat puisi,,, dan lainnya

ada juga yang membuat saya menjadi ingin sekali ikut terjun ke dalam alur cerita ini,,,, saat Rangga dan Cinta pergi ke salah satu pusat buku Bekas milik pak Limrong…..ihhhhhhh pengen cari-cari buku,, ada banyak buku yang ingin saya baca….. ato karena memang harganya cukup murah,yawww??? iya kaleee … ga’ punya duit ki wekekekek,,,, beli buku di tempat buku bekas, hmmmmm……… ide yang briliant…., banyak manfaat dan keuntungan yang akan kita dapatkan: banyak koleksi, murah, toh kualitas isinya tetep sama kan….. selain itu kita bisa ikut memanfaatkan buku-buku bekas, buku-buku yang sudah dilupakan pemilikinya…. padahal tidak ada buku yang sia-sia, buku sumber ilmu, buku sumber pengetahuan, dengan buku kita akan dapat ikut membuka dan menerawang jendela dunia……

eittt……. saya lupa??? Ada Apa Dengan Cinta?????

Singkat cerita Akhirnya tumbuh rasa kasih dan sayang di dalam dua lubuk hati Cinta dan Rangga,,, tetapi terpaksa mereka harus berpisah,,, Rangga harus pergi bersama ayahnya,,,,

Cinta merasa sedih,,, harus berpisah dengan Rangga, namun,, “baca halaman terakhir” itu kata Rangga

Cinta pun membukanya, membacanya:

perempuan datang atas nama cinta
bunda pergi karena cinta
atas dirinya digenangi air racun jingga
adalah…
wajahmu seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan
ada apa dengannya?
meninggalkan hati untuk dicaci
percaya…
sampai darah ke lututpun aku tak percaya
lalu…
rumput tersabit
sekali ini aku lihat karya Surga
dari mata seorang hawa
percaya…
tak tahu…
ada apa dengan cinta?
dan aku akan kembali dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya
bukan untuknya, bukan untuk siapa
tapi untukku
karena aku ingin kamu!
itu saja.

Cintapun bisa kembali tersenyum,,,, karena ia yakin Cintanya akan kembali untukknya,,, ya… hanya untuknya.

THE END

Tunggu dulu….

tiba-tiba ada sesuatu yang bergejolak di dalam hati saya…..  saya ungkapkan yaww

hai…. CINTA, mungkin aku sekarang tidak di sampingmu,

aku tiada pernah menemani di sisimu,

mungkin ragaku berada jauh di sini

namun wajahmu selalu  menari-nari dalam pikiranku,

menyusup masuk dalam sekat-sekat ruang mimpiku

meski ragaku jauh di sini, tiada dapat menemanimu, mendampingi dirimu

namun  hatiku selalu tertulis namamu

jantungku selalu berdegup seirama namamu

memikirkan dirimu,

yakinlah padaku, percayalah padaku

aku akan kembali lagi

bukan untuknya, bukan untuk siapa

tetapi hanya untukmu

karena aku ingin kamu

ya… hanya untukmu

Oleh : Kang Fuad

Nopember 2010


Tapi sayangnya,,,Memory Flasdisk saya sudah Hampir Pull (Penuh),  ternyata CPU nya juga ga’ ada

CD Room nya,,, ga’ ada program NERO nya,,, jadinya ga’ bisa ngopy Film “AADC” nya Deh

padahal pengennnn nonton lagi……ckckckckck,,, mngkn laen kesempatan yawww….

27 November 2010 Posted by | Cerpen | 6 Komentar

bukan sekedar permainan biasa

Tanpa lampu, tanpa neon, tanpa listrik tanpa kabel… apalagi video game, Play Station (plestesen), namun keceriaan tetap terpancar, hingar bingar tawa lepas mereka senatiasa terdengar

ba’da isya’, setelah berhamburan dari surau-surau kecil dari kayu, tanpa lampu,, setelah selesai antri berderet belajar membaca firman-NYa (mengaji),,, setelah sebentar berjuwang memfocuskan pandangan memelototi buku belajaran di bawah “dimar/uplik” (alat penerangan jaman dahulu, terbuat dari botol-botol bekas dengan diberi sumbu berbahan bakar minyak tanah)

dengan suka-cita dalam hati saya dan teman-teman saya berkumpul,, membagi menjadi dua kelompok,, dengan cara kami dahulu “incon” (suit), kelompok menang berkawan dengan yang menang, begitu pula sebaliknya,,, dengan semnGat menggebe kami segera menentukan apa saja yang akan kami mainkan:

-  Pat Tangan (empat tangan):

permainan ketangkasan dalam mengayunkan dan menggerakkan ke-dua tangan, bertarung untuk mematikan lawan jika kepala atau kaki berhasil tersentuh (laksana dua pleton kelompok yang saling menyerang dan mematikan di medan pertempuran)

- Cuuuuuuuuuuuuu…….:

kenapa harus “panjang” yupsss… permainan ini membutuhkan tenaga dan pernafasan yang ekstra,,, mulut mecucu dan berlari sekencang-kencangnya untuk menggapai sang lawan, perlu skill yang memadai, perpaduan antara (speed) kecepatan dalam berlari dan atur napas yang prima.

-  Ling-Lingan (Maling vs Polisi) :

semuamaling (pencuri) harus tertangkap, seluruh polisi harus siap dan tanggap serta bergerak cepat. saya masih ingat waktu menjadi “maling” dulu,, banyak polisi yang sulit menemukan, bersembunyi di balik pepohonan, di balik ilalang, ada strategi yang cukup jitu yang saya lancarkan, ketika sang maling bersembunyi bergerombol, ketika polisi-polisi mulai datang, maling-maling yang lain berlarian ke sana ke mari, tapi saya memilih untuk tetap diam. ternyata cukup jitu… karena sang polisi focus pada pengejaran,

sungguh masa-masa yang menyenangkan bagi saya, bagi teman-teman saya waktu itu, tapi entah bagi anda….entah ada atau tidak permainan semacam itu di tempat anda, atau bahkan mungkin terdapat berbagai permainan lain yang jauh lebih menyenangkan di sesa anda, di tempat anda.

tapi kali ini saya hanya bercerita permainan di tempat saya, masa bermain saya, masa kecil saya, dan saya rasa itu bukan sekedar permainan biasa……. selain kesenangan yang saya dapatkan, kegembiraan yang saya rasakan, tawa lepas yang kami teriakkan, kami pekikkan hingga kolong langit, ada hal lain yang saya dapatkan, kami rasakan

“kebersamaan, kekompakkan, kerjasama dalam sebuah tim, keakraban dengan teman-teman….” memang benar saya rasa itu bukan permainan biasa, tanpa modal-tanpa biaya, namun manfaat dan pelajaran yang begitu mahal dan begitu berharga yang kami dapatkan.

itu hanya permainan saya pada masa dahulu… di desa tempat saya tinggal

entah mengapa akhir-akhir ini saya teringat dengan semua kenanangan masa lalu saya, masa kecil saya, tawa lepas kami dalam keheningan malam di bawah cahaya sang rembulan…..tanpa listrik, tanpa kabel, tanpa lampu, tanpa neon

ahhhh…. itu dulu, 14 tahun yang lalu,,, sebelum pada tahun 1996 listrik dan lampu menerangi desaku,

hanya permainan anak-anak desa seperti saya yang sekarang saya tiada pernah lagi melihatnya….:(

 

 

 

Oleh : Kang Fuad

Agustus 1995

26 November 2010 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Kusimpan untuk Kekasih Sejatiku (air mengalir, i miss u)

Dear Rabbi….. Tuhanku….

Rabbi kemarin telah kuungkapkan isi hatiku untuk seorang perempuan,,, “gadis manis” di desa sana, setelah aku meminta petunjuk dan ijin dari-MU tentunya, dia gadis baik, ramah, rendah hati, sederhana diapun senantiasa ingin dekat dengan-MU,,, mungkin ia terlalu sempurna buat hamba-MU yang tiada apa-apanya ini.

sebenarnya kami baru sebentar saling mengenal,, apakah terlalu cepat kuungkapkan semua itu,,, ah aku rasa tidak seperti itu aku tidak ingin kami terjebak dalam rayuan semu, akupun tiada ingin bermain-main bahkan mempermainkan perempuan makhluk ciptaanmu dengan segala kecantikan, kelemah-lembutannya serta keindahannya, aku tidak ingin menggoresken belati yang akan menimbulkan luka dalam relung hatinya, tidak ingin merubah mereka sebagai makhluk yang paling mengerikan.. sebab aku mafhum kelemah-lembutan mereka dapat sekejap berubah menjadi menakutkan sedikit meminjam istilah miss lang fang perempuan dapat berubah menjadi sangat “garang” mengerikan, dengan suara yang menggelegar meski bibirnya rata terjahit,  mulutnya terpasung dan organ-organya telah diawetkan.  “bertaring” meski gigi geliginya telah habis dicabuti dan berapi meski sel-sel kelabu semangatnya telah tersimpan di tempat yang begitu senyap dan gelap…. jika mereka dipermainkan… mengerikan bukan???? jadi masihkah mau bermain-main dengan perempuan???

selain itu aku sudah terlanjur begitu mengetahui,, tentang batasan yang engkau berikan kepada kami (laki-laki dan perempuan)

Katakanlah kepada laki-laki beriman: Hendahlah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. an-Nur: 30).

Dan katakalah kepada wanita beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. an-Nur: 31)

Jika memandang saja terlarang, tentu bersentuhan lebih terlarang karena godaannya tentu jauh lebih besar.

menyentuh lawan jenis yang bukan mahromnya merupakan salah satu perkara yang diharamkan di dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani dengan sanad hasan)

Namun tatkala adab-adab bergaul antara lawan jenis mulai pudar, luapan cinta yang bergolak dalam hati manusia pun menjadi tidak terkontrol lagi. Akhirnya, setan berhasil menjerat para remaja dalam ikatan maut yang dikenal dengan “pacaran“. Allah telah mengharamkan berbagai aktifitas yang dapat mengantarkan ke dalam perzinaan. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesugguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. al-Isra’: 32).

Rabbi…. aku tiada berani melanggar aturanmu, tapi aku sangat menyayangi gadis manis itu,……..

atau apakah aku ini terlalu pengecut untuk bermain perasaan,,, tidak-tidak mungkin biarlah aku seperti ini, menjadi diriku sendiri, dengan ke “CU-L-UN”-an ku dan mungkin sebagai seorang yang ngga’ njamani. aku hanya ingin menjaga kesucianku, juga kesucian orang yang aku sayangi. kesucian gadis itu takkan ku biarkan ia terjamah, terdedah….

hanya bisa kuungkap dengan kegaguan dan kecanggunganku,, hanya seperti ini,,, aku tiada pandai merayu….

ah…pasti ENGKAU lebih memahami keadaanku,

ENGKAUlah yang mengetahui sesuatu yang mungkin belum terucap

ENGKAU lah yang maha tahu sesuatu yang tersirat di dalam hati

ENGKAU lah yang maha mengetahui atas sesuatu yang tersembunyi
di balik semua ini

pula kegaguanku,,, ya kegaguanku… ini kali pertama aku merasa begini, gagu, pilu, dan kelu meski daya upaya kukerahkan semua untuk menenangkan diriku nyatanya aku tiada mampu,,, hanya kata kaku yang terlontar, bincang jemu yang terpudar,,, tak pernah hatiku merasa seberat ini, yang menjadikan mulutku terkunci, membisu…

mungkin aku tiada sanggup mengatasi aura gadis manis itu,, entah mengapa aku tak sanggup menatap kedua bola mata indahnya meski berada di balik dua lensa kaca minusnya…. ingin kutumpah ruahkan semua rasa sayang dan rinduku kepada gadis manis itu, sayang rasa malu dan kelu kembali menyergap diriku,, canda yang biasa terlontar,, kata yang telah tersusun rapi seakan pudar tak mau keluar, hanya obrolan menjemukan yang terlontar

mungkin ini pengaruh minder, grogi dan canggungku apalagi saat gadis manis itu duduk di dekatku, tiada mampu aku mengendalikan diriku,, aku bersyukur hati dan jantungku tertanam kuat dan terikat lekat-lekat dalam urat-urat serta ada dinding tebal dadaku yang menghalangi mereka untuk meloncat keluar, beinikah rasanya…..

apakah ini yang disebut anugerah cinta, virus merah jambu yang kerap kali melanda para remaja…..tapi aku sudah tidak remaja lagi bukan,,, umurku sudah 23, ah…apapun itu,….

apa “CINTA” kata itu mengingatkanku akan ungkapan “kang Abik” tentangnya tentang kata itu

“Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjanglebar.
Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang.
Namun tanpa lidah,
cinta ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya
Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai kepada cinta
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta
Dan percintaan!”

yupsss… benar meski telah kuuraikan panjang lebar, aku masih belum bisa menerangkan tentang hal itu,, bahkan saat dekat dengannya lidahku terasa kelu, kaku, tak mampu menguraikannya,, akupun serasa terbaring tak berdaya….

Dear Rabbi…. Tuhanku…

Kenapa aku benar-benar menyayangi gadis manis itu,,,, diakah yang akan menjadi kekasih sejatiku…..ah…mungkin itu hanya angan juga harapanku, tapi kuharap terdengar oleh penjuru penduduk langit,,,, mendengar dan menyampaikannya kepada-MU.

bukankah kekasih sejati itu seseorang yang bersedia duduk berdua bersamamu di atas altar sambil mengucap janji suci dengan dirimu

bukankah kekasih sejati itu seseorang yang bersedia dengan ikhlas dan rela hati menemani dan mendampingimu mengarungi samudera dengan bahtera rumah tangga

atau bukankah kekasih sejati itu seseorang yang dengan tulus ikhlas merawat dan mendidik buah cinta kalian

bukankah kekasih sejati itu, seseorang yang berani dan rela mengarungi lika-liku kehidupan bersama denganmu

kekasih sejati adalah seseorang yang sudi mendampingimu menuju Ridho dan Rahmat-NYA

simpanlah segenggam kasihmu itu untuk kekasih sejatimu kelak, kekasih yang bersedia bersandar di bahumu, menjadikan dirimu sebagai imamnya menapaki syirot dan jalan-NYA

tapi Rabbi…. aku benar-benar menyayangi gadis manis itu

rasa itu tertancap jauh di dalam relung hatiku, wajahnya seakan menari-nari dalam pikiranku menyusup masuk dalam sekat-sekat ruang mimpiku… hingga kerap kali belati rindu menusuk dalam hatiku, belati dengan karat ketakutan kerinduan namun kala aka katakan bahwa aku tiada pernh takut, ia semakin dalam menikam arteriku sebagai karat beku.

wahai pemuda…. kenapa engkau terlalu dalam menancapkan rasa kasihmu pada gadis manis itu… sudahkah engkau tahu perihal tentang gadis manis itu…

masih sendirikah ia,,, belum bersuamikah ia,, jika bersuami sudahkan ia di thalak/diceraikan oleh mantan suaminya???? bukankah engkau sendiri tahu benar, dalam agamamu berlaku masa “iddah” (masa menunggu) bagi isteri yang telah dithalak/diceraikan oleh mantan suaminya, apakah masa “iddah”nya telah benar-benar habis????

jika memang benar masa iddahnya telah habis sudahkah gadis manis itu bisa melupakan mantan suaminya yang dulu???

ah…. tidak Rabbi…….

biarlah gadis manis itu tetap mengenang dan mengingat mantan suaminya,, itu membuktikan bahwa dia memiliki kemuliaan dalam relung hatinya,,, tetap menghargai seseorang yang pernah masuk dalam bilik hatinya…. biarlah ia mengingatnya

akupun tiada ingin dilupakan olehnya jika kelak aku diberi kesempatan dan mampu memasuki salah satu relung hatinya,, sebagamana akan aku ingat selalu gadis manis itu,,, gadis yang telah megisi relung hati ini… ya…takkan ku lupa.

AKU rasa engkau juga seorang pria yang mafhum tentang kekasih sejati, yang AKU tahu tidak mungkin engkau paksakan setitik perasaan itu pada seorang perempuan termasuk gadis manis itu agar mau membuka sedikit bilik relung hatinya untukmu, meski hanya untuk meminta setetes air penghapus dahagamu, meski tersimpan berjuta cinta kasih di balik dinding-dinding relung hatimu.

biarlah rasa itu muncul seirama dengan hembusan semilir angin pagi hari bersama pancaran sinar sang mentari kala engkau terbangun membuka matamu dengan napas yang masih terselip dalam rongga-rongga paru-paru di dalam dadamu.

biarlah rasa itu mengalir seiring aliran air sebagaimana yang telah kalian berdua bersepakat untuk hal itu.

percayalah kepadaKU wahai pemuda…. AKU tahu engkau telah berikhtiar untuk itu, AKU sendiri mafhum engkau telah menyandarkannya dalam genggaman-KU dan engkau pun teramat yakin kepada-KU

maka percayakanlah semua ini pada-KU

andainya gadis manis itu adalah jodohmu yang telah tertulis di “LAUH MAHFUZ” AKU pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatimu juga dalam relung hati gadis manis itu.

tapi seandainya gadis manis itu bukanlah jodohmu, maka jangan ada duka di dalam hatimu, bukankah engkau telah tahu dengan pasti, AKU telah mempersiapkan gadis terbaik untuk dirimu. gadis yang benar-benar mencintaimu, mengasihimu gadis yang bersedia berdiri menjadi makmum di belakangmu, bersujud menatakan keningnya bersamamu bersimpuh kepada-KU, gadis yang dengan tulus ikhlas merawat dan mendidik buah cinta kalian, menjadikan mereka generasi-generasi terbaik bersamamu.

tenangkanlah hatimu pemuda, tetaplah engkau menjadi pemuda yang tetap tegar berjalan di jalan-KU bukankah engkau benar-benar mafhum jikalau lelaki yang baik akan bersanding dengan gadis yang baik pula,,, tetaplah kau jaga keshalihanmu atau berusahalah untuk menjadi shalih pasti engkau mendapat gadis shalihah pula.

“wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (QS An Nur:26)”

itulah janji-KU, kuabadikan dalam kitab suci-KU, bukankah kau tahu, janji yang pasti tertepati adalah janji-KU????

bersabarlah,,, simpan segenggam kasihmu untuk kekasih sejatimu, jangan pernah kau hianati dia (kekasih sejatimu)

terima kasih Rabbi…. Tuhanku…

engkau telah memberikan angin sejuk ke dalam tumpukan-tumpukan kerinduan dan gejolak dalam relung hatiku

kala malam datang,  semilir angin merayap sendu menembus degub jantungku
Getar cinta, debar asmara, gemuruh rindu mengoyak hatiku
Harap cemas menjadi satu untuk hari yang kunanti
Kadang takut menggelayut
Kadang ragu membelenggu
Kadang tekad memaksaku
Meski TAKDIR jadi penentu
Aku akan tetap berusaha
Tuk meraih cinta
Dalam sepenggal asa.

biarlah kujalani kisah antara diriku dan gadis manis itu mengalir,, sebagaimana air mengalir,

biarlah kisah ini berjalan dan berproses secara alami

biarlah kisah ini tetap berada di balik teka-teki

biarlah aku dan gadis itu menggapai semua cita-cita kami

jika memang aku dan gadis itu berjodoh,, jika dialah bagian tulang rusukku, jika ia adalah kekasih sejatiku,,, pasti ENGKAU akan mempertemukan kami berdua duduk bersanding di atas altar bersama-sama mengumandangkan ikrar dan janji suci……

Rabbi…. kuserahkan dan kupercayakan semuanya pada-Mu, ya..hanya pada-MU… mudahkanlah kami dalam menggapai cita dan angan kami, ridhoilah jalan kami :) Amin

biarlah berproses,,,, alami,,, mengalir bagai aliran air

Oleh : Kang Fuad

untuk : gadis manis, terima kasih

insp: gadis manis, kerinduan, gundah, mata bening, air mengalir, i miss u

17 Nopember 2010

20 November 2010 Posted by | Goresan | Tinggalkan komentar

Lelaki biasa

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. 

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

Cerpen Oleh : – Asma Nadia -

20 November 2010 Posted by | Cerpen | Tinggalkan komentar

Saya malu sama Ana


Dzahaba al-dhoma’u wabtali al-’uruuqu watsabbati al-ajru insya Alloh ” Alhamdulillah….Puasa hari pertama bisa saya lewati dengan indah…. alhamdulillah….sore ini telah hilang dahaga saya dan telah basah urat-urat saya, dan telah ditetapkan pahala bagi saya…Insya Allah ……

Saya tadi beranjak dari tempat kerja saya sekitar pukul 16.05 .. dan sedikit memanjakan diri saya dengan menyambangi beberapa toko busana muslimah yang ada di kota Solo, untuk mendekatkan diri saya ke arah target saya Ramadhan tahun ini… agar saya tidak hanya sekedar menjadi bidadari sehari saja… ^_^ …. Anak anak kecil berlarian menuju sebuah masjid besar yang saat itu sudah mengumandangkan adzan yang menggetarkan relung jiwa saya, dan saya hanya memandangi mereka dengan senyum yang tersembunyi di balik kaca helm saya. Sedikit teringat ketika saya kecil, saya sangat mencintai bulan Ramadhan, karena di bulan ini, saya dan teman teman menjadi lebih sering bersama di masjid, walaupun ketika itu hanya untuk bercanda ria saja, dan menanti kue kue yang bisa saya dapatkan secara cuma cuma di masjid kampung saya…ah.. dasar indah kecil… :D . Jarak masjid yang saya lewati dengan rumah kos saya masih lumayan jauh, karena itulah saya berhenti di sebuah minimarket di ujung jalan untuk membeli sebotol minuman dan meneguknya untuk membatalkan puasa saya pada hari ini. (Dari Sahl bin Saad bahwa Nabi SAW bersabda,”Umatku masih dalam kebaikan selama mendahulukan berbuka.(HR. Bukhori dan Muslim))

Seusai maghrib saya melantunkan 78 ayat surat Ar Rahman …. mencium..dan memeluk erat Al Quran saya.. alhamdulillah saya sudah lebih lancar  lagi melantunkan surat yang paling saya cintai ini… surat yang memiliki 31 ayat berbunyi “fa biayyi ‘alaa irobbikumaa tukazziban” (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?) ini selalu mampu merengkuh saya untuk selalu mendekat dan mendekat lagi kepada Allah.. karena surat ini sungguh menggambarkan keindahan surga…dan kenikmatannya,berupa buah-buahan,warna surga yang hijau juga bidadari yang sangat cantik disurga. Kemudian seusai mengaji, saya mengajak teman teman kos saya untuk bersama sama menuju masjid.. sayangnya.. beberapa teman kos saya sudah memiliki rangkaian acara sendiri… hanya ada satu teman yang kebetulan tidak ada acara dan mengindahkan ajakan saya untuk ke masjid dan melakukan shalat tarawih berjamaah. Dan akhirnya saya dan teman saya pun segera berangkat ke masjid karena Adzan Isya sudah terdengar.

Pemandangan khas yang hanya saya dapatkan di bulan Ramadhan adalah masjid yang penuh sesak, Subhanallah.. betapa indahnya ramadhan…. Orang orang berbondong bondong datang ke masjid untuk menjemput bonus pahala mereka. Beberapa orang ibu bahkan sengaja membawa tikar dari rumah untuk berjaga jaga kalau tidak kebagian tempat sholat di dalam masjid. Dan karena saya tidak membawa tikar, saya pun minta ijin menumpang pada tikar seorang ibu yang malam ini datang bersama seorang anak perempuannya yang cantik. Anak kecil yang berkulit putih, bermata sipit dan memakai mukena berwarna orange itu nampak ceria sekali, belakangan saya ketahui bahwa dia bernama Ana, dan dia dan ibunya adalah seorang mualaf. Ini adalah Ramadhan kedua untuk Ana dan ibunya, namun ini adalah Ramadhan pertama mereka melakukan shalat tarawih bersama di masjid bersama muslim yang lain. Ana kecil masih duduk di kelas 2 sekolah dasar, gadis yang masih dialiri keturunan tionghoa ini nampak sekali kecerdasannya. Ana kecil tidak henti hentinya bertanya kepada ibunya mengenai segala sesuatu hal yang tidak ia ketahui, dan ibunya pun selalu menjawab dengan sabar. Ketika orang orang yang baru berdatangan langsung melakukan sholat sunnah tahiyatul masjid ia bertanya… “Mah.. itu mereka sholat apa? Kok ga bareng2? “… ibunya menjawab..” sholat tahiyatul masjid..Itu adalah shalat untuk menghormati masjid, sebagai tempat suci, masjid patut dihormati oleh Muslim yang akan melakukan aktivitas ibadah di masjid. Lalu Ana kecil berkata lagi “Aku mau mah..aku mau…aku mau sholat itu yah mah..”…ibunya menjawab lagi.. “sholat itu seharusnya dilakukan pertama kali kita datang sayang.. sebelum duduk…begitu.. “..namun Ana kecil bersikeras melakukan sholat itu.. dan ibunya hanya tersenyum,, “ Ya… terserah kamu deh sayang,…” …Ana bersorak.. dan bertanya lagi.. “berapa kali mah?”( berapa rakaat,maksud Ana-red) “dua sayang.. “ jawab ibunya dengan sabar….kemudian Ana kecil pun sholat… saya sempat beberapa detik memperhatikan raut wajahnya ketika sholat, nampak ia sudah hafal bacaan sholat,namun masih sangat perlahan dan berhati hati dalam mengucapkannya.

Kemudian iqomah pun terdengar, semua jamaah melakukan sholat isya berjamaah.. saya yang sholat di bawah sebuah pohon merasakan angin lembut menyapu wajah saya… oh… syahdunya sholat berjamaah di bulan Ramadhan…. ^_^ …. Seusai sholat isya… beberapa orang melakukan sholat rawatib ba’diyah isya…. Ana kecil pun kembali bertanya pada ibunya, “Mah..mah.. setelah isya trus kok pada sholat lagi?sholat tahiyatul masjid lagi kaya tadi yah mah??aku mau mah..aku mau…” .. ibunya menjawab.. “bukan Ana… itu sholat rawatib… sholat sunnah dilakukan setelah sholat fardu..kamu mau?boleh saja kok…mamah juga mau…”…lalu Ana tersenyum “asik mah.. ayuk mah… berapa kali mah??”.. “dua rakaat sayang..”.. kemudian mereka berdua pun melakukan sholat sunnah tersebut….dan saya menyusulnya setelah saya menyelesaikan dzikir saya.

Usai tarawih.. saya mengucapkan terimakasih kepada ibu Ana yang telah memperbolehkan saya nunut sholat di tikar mereka. Kemudian saya terlibat dengan sebuah obrolan pendek dengan Ana kecil… “ana cantik.. kamu kok pinter banget… tadi habis sholat wajib mau ikut sholat sunnah juga…” ujar saya kepadanya.. dan dengan lugas dia menjawab “..iya donk mbak…. Ini kan Ramadhan..mbak…tau gak? Melakukan sholat sunnah di bulan Ramadhan itu pahalanya seperti melakukan ibadah sholat wajib loh…masa iya aku ndak mau dapet pahala??mbaknya juga mau to??”… “wah…pinter banget kamu Ana..siapa yang ngajarin?” … Tanya saya masih sambil terkagum kagum.. lalu dia menjawab.. “mamah donk mbak..” ujarnya.

Dalam perjalanan pulang dari masjid menuju tempat kos saya, saya masih belum bisa menghilangkan kekaguman saya kepada Ana kecil yang saya temui tadi.. Subhanallah… lagi lagi Allah mengantarkan petunjuknya kepada saya melalui seorang anak kecil.. Subhanallah.. setelahbeberapa waktu lalu saya banyak belajar dan benar benar dibuat terharu oleh kegigihan seorang yusup.. sekarang saya sungguh dibuat kagum..sekaligus malu pada diri saya sendiri oleh seorang Ana… Saya kagum..karena Ana yang masih duduk di kelas 2 SD memiliki pengetahuan agama yang bagus.. dia memiliki keinginan yang kuat untuk mendapatkan pahala dari Allah,… dia memiliki semangat tnggi untuk beribadah dan terus beribadah.. padahal dia seorang mualaf… oh..sedangkan saya yang terlahir sebagai seorang muslim.. malah kadang kadang masih saja dikalahkan oleh setan malas yang membelenggu kedua kaki dan tangan saya, agar tidak beranjak melakukan ibadah ibadah sunnah seperti yang dilakukan Ana… saya malu Ya Allah…malu sama Ana..malu sama Allah… :(:oops: semoga pertemuan saya dengan Ana malam ini bisa benar benar saya jadikan pelajaran berarti untuk diri saya sendiri.. agar saya bisa menjadi lebih baik lagi.. amien….

 

cerpen : Indah

9 November 2010 Posted by | Cerpen | Tinggalkan komentar

Segelas Kopi

Segelas Kopi

 

awal Juli kemarin seorang pria berkunjung ke rumah teman lama yang bertahun-tahun tiada bersua, mungkin karena kesibukan mereka berdua wehehe…. “kesibukan” kayak orang penting ajah….. mungkin kesibukan teman perempuannya dan beberapa aktipitas yang membelenggu pria tersebut. kira-kira empat belas tahun mereka berdua tiada bersua, tiada bersapa, baru awal bulan April kemarin mereka bertemu pada salah satu sarana pertemanan yang baru “on fire” juga ngetop-ngetopnya “facebook” tanggal “02 April” pria ini resmi menjadi teman perempuan itu di jejaring tersebut.

awalnya mereka berdua belum saling mengenal cuma berbekal perasaan yang sok kenal, karena terselip beberapa keraguan “kayak pernah lihat wajah-wajah itu tetapi kalo iya kalo tidak??” akhirnya berawal dari pertemanan itu mereka berdua saling bertanya dan memastikan…

Olalala……. ternyata memang benar, dia teman lama pria tersebut, teman saat masih kanak-kanak teman TK tepatnya waktu kecil mereka pernah satu atap di bangku pendidikan usia dini…. “TK Pertiwi” satu-satunya Taman Kanak-kanak di Desa mereka. mungkin tidak perlu saya ceritakan detailnya karena keterbatasan memoriku yang kadang suka “amnesia”

ternyata pertemanan mereka berlanjut dari sekedar chat ato saling berbalasan pesan di FB berkembang saling berkirim “short message service” SMS lah. kira-kira pertama pria tersebut mengirimkan sebuah pesan singkat pada teman perempuannya pertengahan Mei, tanggal 16 Mei berisi tentang sebuah effen “sepeda santai” sosialisasi salah satu program pemerintah PLP-BK/ND (Program Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas) “Neighbourhood Development” (Liht. http://www.plpbk-nd.blogspot.com) awalnya pria ini berniat untuk mengikuti efent tersebut, mulanya dia sudah mendaftarkan diri, melalui tangan panjangnya yang ada di rumah “eit jangan salah ” tangan panjang” bukan pencuri lhohh…. tapi perwakilan pria ini yang ada di rumah,,,  kakaknya. kakak super bawel yang melulu menceramahi adiknya ini, tapi tak jarang kakak pria itu yang menjadi pendengar setia, terutama saat mereka saling bertukar pengetahuan.

terpaksa, pagi 16 Mei 2010 pria itu melayangkan sepucuk SMS pada teman perempuannya, “maaf aku ga’ jadi ikut,, liburan dibatalkan” waktu itu dia masih berada di sebuah lembaga pendidikan di kudus, yang  libur setiap hari Jum’at, tetapi pada Ahad 16 Mei 2010 ada rencana untuk libur “kebetulan ne,,, pass banget bisa ikutan sepeda santai”(gumam dalam hati pria tersebut) tapi tiga hari sebelum minggu itu tiba-tiba ibu Kepsek merapatkannya kembali.. akhirnya liburan dibatalkan karena ada sesuatu yang lebih penting, “persiapan UASBN” akhirnya setelah sampai huniannya di kudus “Manba’ul ‘Ulum” spontan ia menghubungi kakaknya di rumah “mbak aku ga’ jadi ikut, aku ga’ jadi libur, punten” mboten nopo2 lek, jawaban singkat yang ia dengar.

lho000 mana ne…. “segelas kopi”nya….

wahahahaaaa.. iya….iya….. sante browww aku terbawa arus, perahuku terlalu kecil untuk menerjang,,

singkat cerita,, hubungan pertemanan mereka berlanjut, walau sekedar saling menyapa, juga sedikit gurauan… sampailah saat ada rasa keinginan pria tersebut untuk bersua dengan temannya, menatap wajahnya karena hampir kurang empat belas tahun mereka tiada lagi bersua,keinginan itu terasa mampat memenuhi isi dadanya yang mungkin terlalu sempit untuk menampung rasa itu terlalu lemah untuk menopang rasa itu,,, tapi di balik gejolak itu ada rasa ketiada beranian, merasa canggung, untuk bersiltrhm dengannya berkunjung kehuniannya… ternyata pria itu belum pernah sekalipun  berkunjung ke rumah seorang perempuan tanpa ada niat yang pasti dan penting… waktu di bangku sekolah, paling2 ke rumah teman perempuan saat ada keperluan menjenguk saat mereka sakit, meminjam buku, berduka cita atas meninggalnya keluarga mereka, itupun tidak sendiri,,, saat di bangku kuliah apalagi beberapa wawasan yang telah dia dapat, serta teman bergaul yang sama seperti pria itu, “tidak berani dengan perempuan” membuat dia merasa ada rasa yang aneh saat dekat dengan perempuan,,, hanya saat mengerjakan tugas-tugas kuliah dan kepentingan-kepentingan saja pria itu berkumpul dengan mereka, tapi jangan salah……..banyak lho00 temen perempuan pria ini, entah mengapa mereka begitu akrab dengannya (ato mngkn hnya perasaannya “GR” ckckckck)

aneh,,,, rasa itu tiada seperti biasanya seolah-olah ada yang terus mendorong perasaan pria itu untuk segera bersua dengan temannya,,,,dengan teman lamanya ini. dalam dadanya seakan membuncah dan seakan tiada tertahan, ingin keluar, meluap, bahkan meletus seperti gunung merapi, akhirnya pria itupun mencoba memberanikan diri  sebelum akhir pekan ini meninggalkan desanya, Sabtu pagi-pagi sekali ia harus sudah berada di kudus.

Akhirnya beberapa hari sebelumnya dia  kembali mengirimkan sebuah pesan singkat pada temannya itu, “kalo ada kesempatan dan jika diijinkan, sebelum Sabtu aku akan ke rumahmu” pria ini terkejut SMS itu telah berhasil terkirim,,,

jantungnya semakin deg-degan, pikirannya seakan menggoda, kalo ia berkata “Ya” gimana ya…. apa yang harus saya lakukan,, meski hatiku mengharap jawan “Ya” darinya,,, temannya tidak langsung membalas, keadaan ini semakin membuat hatinya cemas,, merinding, setiap dia mendengar suara dering hand phone nya tanda SMS telah masuk menunggu untuk ia buka dan ia baca,.. “Aku wes nang kudus iki, kapan kuwe nang kudus kang?” ah…. ternyata SMS dari Fauzi salah satu teman  di pondok, orangnya kecil, hitam, namun encer otaknya hingga hampir setengah kitabullah ada dalam isi kepalanya pelajar dari Dieng.. setelah menunggu beberapa lama,,dengan dag-dig-dug dan kecemasan di dalam dada, akhirnya dia berusaha untuk menenangkan hatinya. ia sesekali memindah chanel televisi, menonton bisoskop trans TV,,, entah berapa lama pria itu menunggu,,,

“silahkan, kalau mau berkunjung” akhirnya kalimat itu masuk dalam memori pesan hand phone pria tersebut. setelah membaca SMS singkat itu sekan ia tiada mampu mengungkapkan rasa apa yang bergejolak ,, senang, cemas, deg-degan semua membaur jadi satu (Es Campur mode on)

esoknya ia belum memutuskan untuk langsung ke rumah temannya itu, tapi ia telah berjanji sebelum Sabtu ia akan berkunjung ke hunian temannya itu.

memang waktu yang berputar begitu cepat atau rasa cemas dan deg-degan yang membuat waktu melaju dengan kencangnya, tiba-tiba adzan maghrib di Jum’at sore telah berkumandang, ini kesempatan terakhir pria itu untuk memenuhi janji nya, janji seorang teman, janji seorang muslim, janji seorang pria… janji apalagi yaw….. pria itu merasa mungkin saya terlalu berlebihan,,, toh hanya berkunjung ke rumah seorang kawan, itukan merupakan hal yang biasa, hal yang wajar,,, tapi tidak biasa dan tidak wajar buat pria itu, ini pertama kalinya pria itu berkunjung ke rumah seorang perempuan, seorang “gadis”

selesai ia sembahyang maghrib, ia tengadahkan kedua tangannya kekhusyu’an yang tiada seperti biasanya, entah apa yang pria ini minta kepada Tuhannya di malam itu.. yang pasti ia bingung, ia semprotkan minyak made in Paris ke tubuhnya, minyak rambut merk terkenal Itali, pakaian ala artis papan atas, wajah yang rupawan bak artis terkenal, ia siapkan mobil mewah untuk membawanya, seolah malam ini ia ingin tampil istimewa. setelah ia menghadap cermin tiba-tia ia mendengar sesuatu,,

” ameh nang ngendi (mau ke mana?)” suara itu merubah segalanya, ternyata tidak pernah ada minyak wangi dari Paris, minyak rambut ala Itali, pakaian ala artis papan tas, wajah rupawan, apalagi mobil mewah…… suara tadi telah memecah lamunan dan imajinasi pria itu.

yang nampak dalam bayangan cermin itu hanyalah sesosok pria sederhana dengan wajah pas-pasan bahkan terlihat bintik hitam beberapa bekas jerawat pada wajah pria itu. ia mengenakan kemeja hitam yang agak kedodoran, celana gombrong tanpa minyak wangi, jam dindng hampir menunjuk setengah tujuh malam, ia putuskan untuk segera berangkat ke rumah teman perempuannya. dengan duduk menunggang di atas sepeda motor tuanya pria itu meluncur zlank-zlink menghindar segala rintangan di jalan dan ziiittttt…….suara rem belakang sepeda motor tua dengan kampas yang mulai aus. sampai sudah, tidak perlu waktu lama hanya lebih kurang lima menit…

pria itu tidak langsung masuk, beberapa saat ia berdiri di depan pintu, hati deg-degan plus perasaan tiada karuan sesekali ia mengetuk pintu sambil mengucap salam,,, tiada yang menjawab, apa tiada orang di dalam??? sejurus kemudian terdengar suara seseorang sedang mematikan saklar lampu “klik” pria itu masih berdiri membelakangi pintu. tiba-tiba seseorang membuka pintu,,, spontan pria itu berbalik sambil mengucap salam,, di hadapanya berdiri gadis manis dengan postur sedang, rambut hitam agak panjang sedikit bergelombang, seraut wajah manis dengan sedikit tertutup kacamata minusnya, menampakkan ekspresi “kaget” dan “heran” dialah teman perempuan pria itu yang heran karena mungkin tidak begitu mengenali wajah pria yang sedang berdiri di depannya kaget, atas kedatangannya yang tiba-tiba.

dengan keramahannya perempuan itu mempersilahkan dan mempersilahkan duduk pria itu. pria itupun duduk, suasana sepi, hanya ada seorang saja di rumah teman perempuannya tiba-tiba pergi ke belakang, pria itu duduk sendirian. sambil terdiam lensa matanya fokus menuju dinding. di sana terpampang beberapa wajah di dalam gantungan figura foto.

foto seorang lelaki remaja kulit sawo matang, rambut kriting ah… mungkin inilah “si kribo” ckckckck temen perempuanku memanggilnya seperti itu. adik laki-laki satu-satunya yang suka bersendau-gurau dengannya, layaknya seorang lelaki ia agak nakal, bisa bermain musik, drum, gitar, ia kuasai adik laki-laki yang sangat ia sayangi

ini ada lagi kali ini foto seorang perempuan yang masih kecil, dengan sedikit sunggingan di pipinya, menunjukkan isi hati yang bahagia kala itu gadis kecil dengan rambut panjangnya berdiri, bergaya bak pragawati juga bintang iklan terkenal di tipi-tipi,,,, eit….. sebentar-sebentar pria itu lebih focus pada wajah foto perempuan itu…..eitz….olalala…. memori pria itu mulai tidak asing dengan wajah itu,,,,, ah…. apa benar… diakan tidak mempunyai adik perempuan… jelas saja… ternyata yang terpampang itu gaya teman perempuannya saat berpose di depan foto beberapa tahun silam.

pandangan pria itu berlanjut, lensa matanya menemukan sesosok wajah yang agak sangar, foto seorang pria dengan badan tegap, wajah yang agak “sangar” dilengkapi dengan kumis hitam tebal yang membuat pria itu semakin ngeri. namun kengerian itu perlahan menghilang,, setelah pria itu teringat bahwa ia pernah bertemu, bertatap muka, bertutur sapa dengan pria dalam foto itu. namanya pak Dirman ia ingat, beberapa tahun yang lalu pria itu pernah ke rumahnya, ternyata ke rumah ini juga. saat pria itu mengambil kamera digital yang rencananya akan dipakai untuk mendokumentasikan beberapa kegiatan pembangunan di desanya. memang ada rasa sedikit “keder” saat pertama saat pertama bertatap muka dengan beliau. tetapi saat tutur kata terucap, perbincangan antara mereka telah dimulai,, dalam hati pria itu berpikir ternyata beliau seorang pria yang ramah, tutur bahasanyapun santun cermin isi hati yang mulia…. tapi sayang hanya sekali itu saja pria itu bersua dan saling bersapa dengan beliau tidak ada yang kedua kalinya. sekitar dua tahun silam beliau telah berpulang ke haribaan-Nya. semoga amal perbuatan beliau diterima-Nya mendapat Ridho dan kelak berada di tempat terindah syurga-Nya. Amin…..

masih ada satu foto lagi… wajah seorang perempuan setengah baya dengan rambut bergelombang sedikit keriting, tatapan mata tajam, tegas dan lugas, dihiasi lengkung senyum di bibirnya. yupzzz benar kata anda ini ibu dari teman perempuan pria itu.. ternyata gambaran ketegasan juga ketegaran serta senyuman tidak hanya nampak dalam foto beliau. namun tercermin pula dalam realita kehidupannya. beliau merupakan sosok perempuan yang tegar ketika ditinggal pergi pujaan hatinya belahan jiwanya “suami tercinta” ketegaran tetap ia pancarkan ia melihat masih ada dua buah hatinya yang sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya. beliau tetap tegar menjalani manis, pahit, getir kehidupan tanpa suami tercinta beliau harus bertindak sebagai seorang ibu sekaligus seorang ayah bagi putera-puterinya. kesabaran, kasih sayang yang beliau berikan pada keduanya. pria itu agak lebih banyak mengenal sosok perempuan ini karena sudah beberapa kali bersua dengannya. semoga beliau tetap berada dalam bimbingan-Nya tetap bersabar juga tegar dalam membina keluarganya, memberi bimbingan kepada putera-puterinya…

pria itu spontan mengalihkan pandangan, terdengar langkah kaki mendekat padanya… ternyata temannya sudah datang kembali menemuinya kali ini dengan sesuatu di tangannya yang susah payah ia bawa “SEGELAS KOPI”

ya… segelas kopi yang sudah tercium aroma wanginya

pria itu jadi teringat kisah “biji kopi”

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki di sebuah restoran terkenal, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.
Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?

“Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak dengan yakin.
Ayahnya mengajak anak tersebut mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.

Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”

Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi mengubah air tersebut.

“Kamu termasuk yang mana?”, tanya ayahnya.

“Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?”

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”

“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?”

“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi mengubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”

“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”

“Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatupun yang mampu menahan raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri”.
Seluruh kehidupan ini mempunyai makna yang berbeda antar satu dengan yang lain. Semuanya bergantung sudut pandang kita dalam memahami arti di balik kejadiaannya. Ada berjuta hikmah yang dapat kita ambil darinya. Konsep husnudzan atau positive thinking adalah cara terbaik dalam memahami arti hidup. Ada “tangan-tangan ” Allah yang bekerja tanpa henti dalam memberi kita pelajaran dan makna hidup. Seberapa pandaikah kita dalam memahami keadilan Allah, itulah kunci utama dalam meraih kebahagiaan yang hakiki.

Jika  Anda jadi, kopi. Tolong kirimkan aromanya pada semua orang yang sedang merasakan kesulitan memaknai hidup

(cerita hikmah)

jadilah seperti “kopi”

waduhh…waduhh kepending neee…

tak lanjutin ya ceritanya….

wangi aroma kopi tadi, tercium terasa makin dekat dan semakin dekat… teman perempuan pria itu menaruh satu gelas kopi tadi di meja depan pria tersebut…. “silahkan diminum”….. namun pria tersebut tiada langsung meminumnya “panas” ya… pria yang satu ini tidak tahan dengan panas, teman perempuannyapun duduk,,, pria itu membuka percakapan dengan sok basa-basinya “ternyata cukup lama juga ya tidak ketemu” dilanjut beberapa percakapan ringan dan sambil menyerutup segelas kopi di depannya meski sesekali terdiam, sebenarnya banyak pertanyaan yang akan digelontorkan kepada teman perempuannya itu namun apa boleh dikata pikiran, hati dan lidah pria itu terasa terkunci, terbelenggu hanya dag-dig-dug hingga semua tiada mampu terwujud dalam rajutan untaian kata hanya sesekali memandang wajah manis teman perempuannya, dua mata yang memancarkan cahaya terang dan indah meski terhalang berada di balik dinding-dinding kaca matanya,,, terlihat jelas mungkin pancaran kebeningan hatinya…

tiba-tiba terdengar suara salam di balik pintu, sesosok perempuan setengah baya di di foto tadi telah pulang,,, ya ibu dari teman perempuan pria itu baru pulang “njagong” (menghadiri acara pernikahan /hajatan lainnya). pria itu sekonyong-konyong berdiri dan menyalaminya menghormati beliau tapi pria itu kelihatan tidak canggung,,, benar saja, ia pernah berjumpa dengan beliau sebelumnya.

pria itu kembali duduk dan melanjutkan perbincangannya. kali ini mereka bertiga, pria itu, teman perempuannya dan ibu teman perempuannya mereka saling bercengkerama, bertanya satu sama lain,,, sambil menyerutup nikmatnya segelas kopi tadi tentunya,,, walau tak jarang pria itu hanya terdiam,, masi merasa canggung duduk dan bertatap muka dengan perempuan.

waktu sudah menunjuk jam setengah sembilan,,, waktu yang cukup malam untuk ukuran seorang tamu,,, pria itupun telah menghabiskan segelas kopi tadi… ya sudah waktunya untuk berpamitan dan pulang.

sampai di hunian, kehangatan, wangi, dan manis kopi yang baru saja pria itu rasakan membuat ia belum terlelap.

“kehangatan” segelas kopi itu mengingatkan beberapa memori lama kehangatan dengan teman-teman pria itu saat di bangku perkuliahan, berada di “angkringan” (warung makan pinggir jalan “nasi kucing”) berkumpul, mengobrol dengan teman-teman disaat malam hari sembari membicarakan mata perkuliahan juga perbincangan lainnya sambil menikmati nasi kucing, gorengan juga segelas kopi saat-saat yang merindukan, juga kehangatan saat berada di sebuah pondok pesantren menimba ilmu bersama, memasak bersama….. kebersamaan,,, kebersahajaan,,, kesederhanaan

“kang masak kang”……. “awas gosong”

selentingan…selentingan yang akan selalu aku rindukan

makan….makan,,, hayuhhh, makan……..makan kang……..

laksana seorang prajurit yang mendengar komando dari sang jenderal,,,,

selalu siap,,,,, tersodor piring raksasa khas kami,,, baki bundar yang bagitu lebarnya hingga kami semua berkerumun memutar memenuhi sisi-sisinya

Ya… Rabbi……. kenikmatan yang pernah kurasa,,, meski hanya “tempe goreng”,,, “nasi liwet” plusss “sambal super pedas” yang tiada pernah tertinggal

tak kalah dengan masakan-masakan bintang lima

racikan bumbu-bumbu kebersamaan yang menjadikan begitu nikmatnya,,,begitu lezatnya….

saat bumbu purwodadi,,,kediri,,,jogja,,,tuban,,,kudus,,,demak,,,pati,,,jakarta…. tertumpah dan mengumpul menjadi satu

ya…..satu masakan bersama,,,,,

air mataku menetes…. aku rindu,,,, aku kangen pada kalian………

menu spesial ala “kediri” penuh rasa,, komplek bumbu takkan terlupa betapa pedasnya…..

kang Tuban “mbah Yai” sebutan yang menempel pada teman satuku itu, yang tak segan memberikan nasehat-nasehat kepada kita semua,,

juga “si Onji” = kecil, item,,,pendek,,, jelek,,,,(wekekkekkekk) tetapi begitu encer yang ada dalam kepalanya,,, hingga hampir 15 juz engkau lahap semua,, lanjutkan cita-citamu kawan,,,tingkatkan prestasimu saat di Jogja (UIN)

eh,,, ada lagi “SULE” anak ajaib ini….. si mental baja,, otak-otak bisinis hingga segala sesuatu yang ada ia sulap menjadi uang…dan uang aku salut padanya…. anak ini betul-betul hebat,,,, ia bagi waktunya  untuk belajar juga berdagang “GORENGAN” yang begitu khas. tak jarang di sela-sela kesibukanku aku membantu menjajakkaknnya,,, katanya selain untuk melatih mental juga ada banyak manfaatnya,, ternyata benar, banyak pelajaran yang aku dapatkan dari semuanya, dan dimalam ini teringat lagi kehangatan dengan kalian berkat satu gelas kopi buatan seorang kawan,,,

Aroma wangi dalam segelas kopi itupun menjadikan pria itu kembali terbayang wangi aroma kyai sepuh “Kyai Sya’roni Ahmadi, Kyai Ma’ruf Irsyad juga kyai-kyai lainya dalam menimba ilmu di mimbar-mimbar pengajian kala pria itu masih menjadi seorang santri

manisnya pun akan selalu mengingatkanku saat pertama kali aku datang ke hunian seorang gadis manis dengan segelas kopi buatanya.

tiba-tiba anganku itu terpecah saat terdengar dering handphone tua yang melengking “Upz maap, g suka kopi po? kan g’ kopi item murni, gpp dunk haruznya. he5 Tp emg hruz berucap “terimakasih” Thanks ats kunjungannya” ternyata sebuah SMS dari teman perempuan pria itu.

entah terimakasih untuk apa seharusnya pria itulah yang selayaknya berterimakasih

berterimakasih atas semuanya, terima kasih atas kebahagiaan dalam kehangatan, wangi, dan manis “SEGELAS KOPI” buatannya.

 

 

Oleh : Kang Fuad

09 Juli 2010

Insp : Segelas Kopi

 

 

 

3 November 2010 Posted by | Cerpen | 3 Komentar

05.03.2004

Cerpen

Oleh : Lan Fang —
05.03.2004: 06.00 – 09.00 pagi.
Aku bangun dengan jiwa berpengharapan. Matahari pagi menembus kisi-kisi batinku yang remang. Sejenak hatiku terasa ringan ketika merasa seharusnya ada sesuatu yang “manis” untukku hari ini. Semalam, aku memang tidur lebih cepat. Karena aku ingin lebih cepat menyongsong pagi.
Perasaan itu membuatku segera terbang ke kamar mandi. Kucuran air membuatku terasa nyaman. Lalu kubiarkan busa sabun menjilati tubuhku yang telanjang. Membilasnya. Membelitkan handuk di tubuhku. Mengenakan pakaian. Berkaca.
Saat mereguk kopiku yang masih hangat di atas meja, aku tersenyum ketika melihat banyak SMS masuk yang berisi ucapan selamat ulang tahun. Mas Ari,
seorang redaktur harian beroplah besar di Surabaya; Vina dan Evy, sekretaris di kantorku; Rudi, sahabat yang tidak pernah berpaling; Janet, adik yang paling sering berselisih paham denganku; Vera seorang gadis muda energik editor sebuah penerbit.
Aku sudah meraih tas, kamera, dan notes kecilku, siap hendak berangkat ke kantor. Meski begitu banyak SMS yang masuk, tetapi aku masih menunggu dari seseorang…

05.03.2004 : 09.00 – 13.00 siang.
Aku keluar rumah menuju terminal kota Joyoboyo dengan menumpang colt bison dari arah Malang. Anganku terbang ke dunia lain. Saat ini aku adalah seorang wanita karier dengan blazer licin bermerek dari sebuah butik mahal di Tunjungan Plaza berwarna terakota, make up made in Japan yang membuat wajahku mulus seakan tanpa pori dan komedo, parfum beraroma laut tropis dengan harga hampir satu juta rupiah untuk sebuah botol kecil saja, dengan note book tipe terbaru, duduk di atas jok empuk Mercedes A 140 yang kecil lincah, dengan hembusan air conditioner yang halus, ditingkahi suara empuk Julio Iglisias yang mengalunkan When I Need You?
Lamunanku pecah ketika tiba-tiba badanku terdorong ke depan dan suara sopir colt bison mengeluarkan sumpah serapah khas Surabaya, “Jancuk! Matamu, cuk! Nyebrang gak ndelok-ndelok (Menyeberang kok tidak melihat-lihat)?!”
Olala! Ternyata aku hanya penulis freelance di sebuah media yang belum menerimaku sebagai pegawai tetapnya dan saat ini sedang berada di jok colt bison tua yang koyak berdebu. Tidak ada air conditioner atau Julio Iglisias. Yang ada hembusan angin kota Surabaya yang terik dan suara serak kernet berteriak-teriak, “Boyo…Boyo…Joyoboyo… kiri… kiri!” Ternyata aku perempuan dengan wajah tanpa bedak, kakiku terbungkus celana strect murahan made in China, dengan atasan sederhana, dari tubuhku menguap aroma keringat yang membasahi tengkuk, leher, dada dan ketiakku, karena harus berlari mengejar berita.
Di Terminal Joyoboyo, aku leluasa melihat para pedagang kaki lima yang berseliweran menjual buah-buahan, permen, tisue, pangsit mie, sampai VCD porno bajakan. Aku mengamati para kernet, sopir, makelar, pengamen sampai pengemis. Mereka beraktivitas dengan ekspresi bebas. Mereka duduk mencakung, merokok, tertawa terbahak menampakkan gigi geligi yang hitam karena kerak nikotin dan bermain kartu. Tidak adakah himpitan kesusahan menekan batin mereka? Ataukah kesusahan sudah begitu akrab menjadi sahabat mereka sehingga tidak perlu lagi untuk ditangisi? Aku berpikir diam-diam.
Sekelompok pengamen datang dan mulai mendendangkan Cucakrawa dengan suara sumbang, ditingkahi suara botol galon air minum mineral dan bunyi uang logam beradu. Kulirik dengan ekor mataku, salah satu di antara mereka adalah seorang gadis dengan wajah cukup manis kalau saja tidak banyak luka-luka parut yang terlihat jelas di lengannya sebelah dalam. Aku sempat memikirkan bekas luka itu karena apa? Karena narkobakah? Bekas berkelahikah? Kenapa gadis semanis dia memiliki luka parut begitu banyak di lengannya? Apakah luka parut di hatinya lebih banyak lagi karena hidupnya begitu pahit?
Pahit?
Rasa pahit itu menyeruak tanpa permisi ke dalam dadaku karena ring tone ponselku yang kutunggu sama sekali belum berbunyi.

05.03.2004 : 13.00-17.00
Ini sudah lewat setengah hari, begitu aku membatin dalam hati dengan perasaan gelisah. Tetapi kenapa yang kuharap dan kutunggu belum juga mengirim salam? Lewat jam makan siang, aku mulai merasa putus asa dengan penantianku. Apakah aku terlalu berharap banyak hanya untuk sebuah ucapan selamat ulang tahun dari seorang laki-laki?
Tengah hari, Surabaya diguyur hujan deras. Kuhabiskan siangku dengan menikmati rasa dingin di dasar hatiku. Aku masih belum berniat kembali ke kantor walaupun dikejar deadline.
Dingin? Ah, tidak!
Kehangatan sontak menyeruak ketika aku teringat laki-laki itu.
Senja bergerimis yang kemudian menjelma menjadi hujan lebat membuat kami duduk rapat di dalam sebuah angkutan kota menuju terminal kota Bekasi ketika aku ditugaskan untuk menulis tentang seorang anak cacat di Kelurahan Karang Satria, Bekasi. Walaupun hanya ada empat orang yang berada di dalam angkutan kota itu, aku enggan untuk jauh darinya. Aku suka menghirup aroma tubuhnya yang memenuhi seluruh aortaku menuju pompa jantung. Aku suka bersandar di bahunya. Selalu saja ada rasa nyaman yang menghangati seluruh katup dan bilik hatiku bila berada di dekatnya. Karena itu, aku selalu merasa ingin menikmati setiap detik yang kulalui bersamanya.
“Datanglah, percayalah, dan bersandarlah padaku. Aku tidak akan membuatmu menderita,” begitu ia menawarkan asa di tengah keputusasaan yang tengah melandaku.
Alangkah indah, nyaman, dan menentramkan kata-kata itu. Apakah aku terlalu bodoh, tolol, atau naïf, jika akhirnya tanpa berpikir panjang uluran tangan ini kuterima dengan kata “ya”? Apakah aku dalam kontrol sihir sehingga begitu mudah tersirap hanya dengan sebuah pengharapan yang masih di dalam angan-angan? Aku tidak tahu. Yang aku tahu pasti, laki-laki itu benar-benar seperti alien yang menyedot seluruh energiku sehingga aku tidak mampu berkata “tidak”. Juga seperti monster yang menarikku amblas sampai ke perut bumi dan memaksaku hanya bisa mengucap “ya”. Aku cuma merasakan adanya perasaan ngeri jika harus melepaskan rasa nyaman yang tengah melingkupi seluruh rasa di batinku.
Rasa nyaman?
Ya… rasa nyaman itu langsung ada ketika ia menawarkan tumpangan di terminal keberangkatan bandara Cengkareng. Ketika itu aku sedang menawarkan naskah ke sebuah penerbit di Jakarta. Aku berangkat hanya dengan modal pengharapan penerbit itu bersedia menerbitkan naskahku. Tetapi ternyata penolakan yang kuterima. Aku panik karena tertinggal pesawat terakhir yang terbang ke Surabaya. Padahal uang di dompetku tinggal lima puluh ribu rupiah sekadar cukup membayar airport tax dan ongkos taksi dari Bandara Juanda Surabaya ke rumah. Aku duduk termenung tanpa harus tahu berbuat apa di belantara Jakarta yang kurasa sangat luas. Dan laki-laki itu datang mengulurkan tangannya.
“Aku Ian,” begitu ia memperkenalkan diri dengan hangat dan menawarkan tumpangan di rumahnya serta janji mengantarku kembali ke Cengkareng mengejar pesawat terpagi yang terbang ke Surabaya.
“Aku Metta,” rasa nyaman yang hangat itu membiusku.
Apakah aku begitu murahan? Apakah aku begitu ceroboh? Apakah aku begitu tolol? Begitu mudahnya aku percaya dengan seorang laki-laki yang baru pertama kali kukenal. Tetapi aku tidak peduli itu. Yang kurasakan saat itu, betapa lelahnya tubuh dan jiwaku. Jika kemudian, ada yang menawarkan rasa nyaman, hangat, dan keteduhan, aku tidak mau berpikir dua kali untuk menerimanya.
Salahkah aku?
Ya… rasa nyaman itu terus melingkupiku ketika sepanjang malam ia duduk di sampingku untuk mendengarkan cerita tentang hidupku yang tersaruk dan terpuruk. Mungkin ia seperti mendengarkan sebuah dongeng tentang kisah hidup seorang pengarang roman picisan yang tenggelam di dalam keputusasaan yang tidak berujung pangkal ketika harus berkeliling menawarkan naskahnya, ia menjelma bak seorang penjual jamu yang mempromosikan naskahnya sampai mulut berbusa tetapi masih saja menerima penolakan. Akhirnya ia cuma diterima bekerja sebagai penulis freelance yang honornya hanya cukup untuk sekadar melewati hari demi hari tetapi harus berlari berlomba dengan deadline untuk menyerahkan hasil tulisannya, sampai akhirnya, ketika si pengarang jatuh bangun dalam pelukan cinta seorang laki-laki yang salah –laki-laki yang menyesatkan jalan hidupnya, laki-laki yang menggunakan tulisannya sebagai sarana untuk mempopulerkan dirinya sendiri, laki-laki yang kemudian ditinggalkannya ketika ia merasa sudah berada di ujung garis batas pengharapan, sampai… ketika si pengarang bertekat memulai kehidupan barunya dengan kemungkinan terburuk: “berjalan sendiri”! Laki-laki itu duduk tanpa menyela sepatah kata pun.
Kuselesaikan ceritaku dengan air mata yang berurai. Aku merasa menjadi perempuan paling cenggeng dan tolol, karena sudah begitu banyak berbicara dengan seorang laki-laki yang baru pertama kali kutemui. Tetapi sekaligus juga merasa sangat lega! Semua beban yang kusimpan sendiri seakan-akan mendapat tempat berbagi. Segala suntuk tumpah ruah. Aku seakan-akan menjelma menjadi manusia baru yang mempunyai pengharapan kembali. Jiwaku yang mati seakan berarti lagi.
Lalu kami menghabiskan malam itu dengan bercerita sambil telentang tidur di lantai rumahnya yang sederhana. Aku menjadikan kedua lenganku sebagai bantal dan mataku menatap serat-serat kayu yang menjadi langit-langit rumahnya. Di sampingku, laki-laki itu bercerita tentang rasa sepi, rasa sayang, dan rasa asa.
“Istriku pergi. Aku malas mencarinya. Aku butuh kau di sisiku. Aku sayang sekali padamu…”
Aku menoleh setengah tidak percaya, setengah takjub, setengah heran, setengah terpesona, sekaligus setengah muak! Jujur saja, aku sedang dalam keadaan penuh kemuakan menghadapi laki-laki dan cinta. Aku anggap yang kudengar barusan adalah kata-kata gombal. Bukankah seharusnya ia tahu bahwa aku adalah pengarang roman picisan yang suka mengobral kata-kata cinta dan sayang di dalam tulisan-tulisanku? Lagipula ia bukan berbicara dengan perempuan belia yang baru pertama kali jatuh cinta.
“Kau laki-laki kesepian… Kau hanya butuh perempuan untuk ditiduri…,” sahutku setengah geli acuh tak acuh.
“Tidak. Aku butuh kamu dalam segalanya. Aku sayang sekali padamu. Aku butuh kau untuk bercinta. Bukan sekadar untuk ditiduri,” ia tidak mengindahkan tawa geliku. Ia menjawab dengan nada serius sambil memandangku dalam-dalam.
Aku terperangah ketika rasa nyaman dan hangat menjalari seluruh pori-pori jiwaku. Rasa itu mem-bah! Aku terdiam seperti pengarang kehabisan kata-kata.
Dan akhirnya malam itu kami bercinta di dalam angan-angan sampai aku lena di dalam genggaman tangannya sampai pagi.
Besoknya ia mengantarku sampai di Bandara Cengkareng. Sesaat sebelum turun dari mobilnya, lagi-lagi ia berkata, “Bolehkah aku memeluk dan menciummu?”
Aku terpana. Aku terpesona. Seluruh jiwaku tergetar.
Ia memelukku cukup lama. Mencium pipi, kening dan rambutku. “Ah… kamu wangi. Aku suka wangimu,” ujarnya ketika menghirup udara di sela-sela rambutku. Lagi-lagi aku tidak mampu mengucap sepatah kata pun. Mulutku terkunci. Tanpa mampu kucegah, aku memejamkan mata dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Mendadak saja, aku ingin waktu berhenti, ketika untuk kesekian kalinya aku merasakan rasa nyaman itu memenuhi seluruh duniaku. Ajaibkah?
“Jangan pulang ya. Tetaplah di sisiku,” kudengar bisikan suaranya seperti desau angin lalu.
My God…!
Apakah rasa lelahku mencari sandaran dan rasa sepinya mencari penghiburan membuat dua jiwa yang kosong saling melengkapi? Dalam batinku, aku bertanya kepada Tuhan, apakah ini anugerah, kecelakaan, halusinasi, ataukah deja-vu? Hatiku berperang sendiri, benarkah perasaan cinta, sayang dan dekat, bisa timbul mendadak begitu cepat pada seseorang yang hanya kita kenal beberapa saat? Apakah ia laki-laki dari masa lalu?
Semua berjalan dalam rotasi yang begitu cepat.
Ketika aku ingin berjalan kaki, ia menemaniku menaburkan kenangan di sepanjang jalan yang kami lewati. Ketika aku tengadah memandang dahan-dahan pohon yang saling meliuk, ia memelukku pula dengan melingkarkan lengannya di bahuku. Ketika aku ingin naik angkutan kota dari terminal ke terminal, ia bersamaku dalam deru debu dan keringat. Ketika aku menghirup aroma tanah basah sehabis hujan, ia taburkan aroma tubuh dalam desah nafas dan geliat birahi.
Hari masih tinggal seperempat lagi. Harapan mendengar suaranya atau sekadar SMS-nya tinggal sebiji sawi. Tetapi aku masih berbesar hati. Lima Maret dua ribu empat, masih belum berganti…

05.03.2004 : 17.00-22.00
Aku masih belum berniat pulang. Aku masih menanti. Aku melangkah gontai menembus gerimis menggigil dingin, membiarkan sepatuku, bajuku, rambutku, tubuhku, wajahku, seluruh pipiku basah. Aku tidak tahu, basahku karena gerimiskah atau karena air mata. Aku ingin menghabiskan waktu menunggu salam selamat ulang tahun. Aku gigit bibirku sendiri dalam rasa senyap yang kian menggigilkan. Tidak sakit. Tetapi ngilu. Rasa ngilu yang bertebaran di sepanjang jalan, membias di tirai gerimis, bergaung di antara gedung-gedung, meninggalkan noktah di bekas jejak kakiku melangkah.
Kuingat tulisan Kahlil Gibran: jika cinta sudah memanggilmu, pasrahlah dan menyerahlah, walau pisau di balik sayapnya akan melukaimu.
Laki-laki itu benar-benar membuat aku pasrah dan menyerah di dalam sayap cinta. Pun, laki-laki itu membuat aku terluka dan berdarah ketika pisau di balik sayap cinta itu menikamku!
“Istriku kembali. Kami tidak bisa bercerai. Kami menikah di gereja,” ujarnya setelah kami saling mengenal empat bulan.
“Aku tidak menyuruhmu bercerai. Aku hanya ingin selalu bersamamu,” apakah jawabanku terdengar sangat naïf?
“Tidak mungkin.”
Aku tersalib kecewa dan luka. Aku merasa seperti Yesus yang didera sakit dari ujung rambut bermahkota duri sampai ke ujung kaki dipalu paku. Kulihat bukan saja kepalaku, tanganku, kakiku, tubuhku berdarah, tetapi hatiku, jantungku, paru-paruku, lidahku, mataku, telingaku, semua mengucurkan darah…..
Surabaya menggelap ketika aku melambaikan tangan mencegat sebuah angkutan kota. Semestinya aku belum berniat pulang, kalau saja tidak merasa khawatir kemalaman dan sudah tidak ada angkutan kota lagi.
Kuraba saku celana strect-ku. Kulihat telepon selularku masih dalam keadaan yang sama. Tidak ada message, tidak ada miscall, tidak ada mailbox…

05.03.2004 : 22.00 – 24.00
Aku berbaring telentang di atas ranjang yang senyap. Di sampingku, telepon selularku masih dalam keadaan on. Akalku menyuruhku lebih baik tidur saja dan melupakan harapan sebiji sawi yang sejak pagi kuletakkan di tempat yang tertinggi. “Lupakan saja… laki-laki itu menipumu…”, begitu kata otakku. Tetapi perasaanku mencegahnya dan tetap memelihara asa setipis kulit bawang itu. “Hari ini belum habis…laki-laki itu tidak menipumu… dia memikirkanmu…,” begitu kata batinku.
Akal dan perasaanku terus berperang sampai menjelang tengah malam. Tetapi kenyataannya toh perasaan yang selalu menang.
Aku tetap memelihara asa setipis kulit bawang itu!

06.03.2004 : 24.01
Lima Maret dua ribu empat sudah lewat….
Tidak ada apa-apa di telepon selularku. Benda komunikasi canggih abad millennium itu tetap diam tidak bergerak. Aku tidak tahu apakah aku harus tertawa atau menangis untuk ketololanku atau kenaifanku? Aku tidak tahu apakah aku harus membuang biji sawi ataukah menyimpan kulit bawang?
Yang kutahu, ada rasa asin menganak di lekuk pipiku ketika aku menggambar rupanya, menulis namanya, mendengung suaranya di langit luas, di langit kamarku, di langit hatiku…
Kututup mata… bercinta dengan bayang-bayang sepanjang malam!

(Surabaya: 05.04.2004: 08.45 PM: saat ini aku masih kasmaran!)

29 Oktober 2010 Posted by | Cerpen | 5 Komentar

Bidadari Itu dibawa Jibril

Sebelum jilbab populer seperti sekarang ini, Hindun sudah selalu memakai busana muslimah itu. Dia memang seorang muslimah taat dari keluarga taat. Meski mulai SD tidak belajar agama di madrasah, ketaatannya terhadap agama, seperti salat pada waktunya, puasa Senin-Kamis, salat Dhuha, dsb, tidak kalah dengan mereka yang dari kecil belajar agama. Apalagi setelah di perguruan tinggi. Ketika di perguruan tinggi dia justru seperti mendapat kesempatan lebih aktif lagi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.

Dalam soal syariat agama, seperti banyak kaum muslimin kota yang sedang semangat-semangatnya berislamria, sikapnya tegas. Misalnya bila dia melihat sesuatu yang menurut pemahamannya mungkar, dia tidak segan-segan menegur terang-terangan. Bila dia melihat kawan perempuannya yang muslimah–dia biasa memanggilnya ukhti–jilbabnya kurang rapat, misalnya, langsung dia akan menyemprotnya dengan lugas.

Dia pernah menegur dosennya yang dilihatnya sedang minum dengan memegang gelas tangan kiri, “Bapak kan muslim, mestinya bapak tahu soal tayammun;” katanya, “Nabi kita menganjurkan agar untuk melakukan sesuatu yang baik, menggunakan tangan kanan!” Dosen yang lain ditegur terang-terangan karena merokok. “Merokok itu salah satu senjata setan untuk menyengsarakan anak Adam di dunia dan akherat. Sebagai dosen, Bapak tidak pantas mencontohkan hal buruk seperti itu.” Dia juga pernah menegur terang-terangan dosennya yang memelihara anjing. “Bapak tahu enggak? Bapak kan muslim?! Anjing itu najis dan malaikat tidak mau datang ke rumah orang yang ada anjingnya!”

Di samping ketaatan dan kelugasannya, apabila bicara tentang Islam, Hindun selalu bersemangat. Apalagi bila sudah bicara soal kemungkaran dan kemaksiatan yang merajalela di Tanah Air yang menurutnya banyak dilakukan oleh orang-orang Islam, wah, dia akan berkobar-kobar bagaikan banteng luka. Apalagi bila melihat atau mendengar ada orang Islam melakukan perbuatan yang menurutnya tidak rasional, langsung dia mengecapnya sebagai klenik atau bahkan syirik yang harus diberantas. Dia pernah ikut mengoordinasi berbagai demonstrasi, seperti menuntut ditutupnya tempat-tempat yang disebutnya sebagai tempat-tempat maksiat; demonstrasi menentang sekolah yang melarang muridnya berjilbab; hingga demonstrasi menuntut diberlakukannya syariat Islam secara murni. Mungkin karena itulah, dia dijuluki kawan-kawannya si bidadari tangan besi. Dia tidak marah, tetapi juga tidak kelihatan senang dijuluki begitu. Yang penting menurutnya, orang Islam yang baik harus selalu menegakkan amar makruf nahi mungkar di mana pun berada. Harus membenci kaum yang ingkar dan menyeleweng dari rel agama.

Bagi Hindun, amar makruf nahi mungkar bukan saja merupakan bagian dari keimanan dan ketakwaan, tetapi juga bagian dari jihad fi sabilillah. Karena itu dia biarkan saja kawan-kawannya menjulukinya bidadari tangan besi.Ketika beberapa lama kemudian dia menjadi istri kawanku, Mas Danu, ketaatannya kian bertambah, tetapi kelugasan dan kebiasaannya menegur terang-terangan agak berkurang. Mungkin ini disebabkan karena Mas Danu orangnya juga taat, namun sabar dan lemah lembut. Mungkin dia sering melihat bagaimana Mas Danu, dengan kesabaran dan kelembutannya, justru lebih sering berhasil dalam melakukan amar makruf nahi mungkar. Banyak kawan mereka yang tadinya mursal, justru menjadi insaf dan baik oleh suaminya yang lembut itu. Bukan oleh dia.*

Sudah lama aku tidak mendengar kabar mereka, kabar Mas Danu dan Hindun. Dulu sering aku menerima telepon mereka. Sekadar silaturahmi. Saling bertanya kabar. Tetapi, kemudian sudah lama mereka tidak menelepon. Aku sendiri pernah juga beberapa kali menelepon ke rumah mereka, tapi selalu kalau tidak terdengar nada sibuk, ya, tidak ada yang mengangkat. Karena itu, ketika Mas Danu tiba-tiba menelepon, aku seperti mendapat kejutan yang menggembirakan.

Lama sekali kami berbincang-bincang di telepon, melepas kerinduan.Setelah saling tanya kabar masing-masing, Mas Danu bilang, “Mas, Sampeyan sudah dengar belum? Hindun sekarang punya syeikh baru lo?

“Syeikh baru?” tanyaku. Mas Danu memang suka berkelakar.”Ya, syeikh baru. Tahu, siapa? Sampeyan pasti enggak percaya.

“Siapa, mas?” tanyaku benar-benar ingin tahu.”Jibril, mas. Malaikat Jibril!””Jibril?” aku tak bisa menahan tertawaku.

Kadang-kadang sahabatku ini memang sulit dibedakan apakah sedang bercanda atau tidak.”Jangan ketawa! Ini serius!

“Wah. Katanya, bagaimana rupanya?” aku masih kurang percaya.”Dia tidak cerita rupanya, tetapi katanya, Jibril itu humoris seperti Sampeyan.

“Saya ngakak. Tetapi, di seberang sana, Mas Danu kelihatannya benar-benar serius, jadi kutahan-tahan juga tawaku. “Bagaimana ceritanya, mas?

“Ya, mula-mula dia ikut grup pengajian. Kan di tempat kami sekarang lagi musim grup-grup pengajian. Ada pengajian eksekutif; pengajian seniman; pengajian pensiunan; dan entah apa lagi. Nah, lama-lama gurunya itu didatangi malaikat Jibril dan sekarang malaikat Jibril itulah yang langsung mengajarkan ajaran-ajaran dari langit. Sedangkan gurunya itu hanya dipinjam mulutnya.

“Bagaimana mereka tahu bahwa yang datang itu malaikat Jibril?””Lo, malaikat Jibrilnya sendiri yang mengatakan. Kepada jemaahnya, gurunya itu, maksud saya malaikat Jibril itu, menunjukkan bukti berupa fenomena-fenomena alam yang ajaib yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia.

“Ya, tetapi jin dan setan kan bisa melakukan hal seperti itu, mas!” selaku, “Kan ada cerita, dahulu Syeikh Abdul Qadir Jailani, sufi yang termasyhur itu, pernah digoda iblis yang menyamar sebagai Tuhan berbentuk cahaya yang terang benderang. Konon, sebelumnya, Iblis sudah berhasil menjerumuskan 40 sufi dengan cara itu. Tetapi, karena keimanannya yang tebal, Syeikh Abdul Qadir bisa mengenalinya dan segera mengusirnya.

“Tak tahulah, mas. Yang jelas jemaahnya banyak orang pintarnya lo.”Wah.”Ketika percakapan akhirnya disudahi dengan janji dari Mas Danu dia akan terus menelepon bila sempat, aku masih tertegun.

Aku membayangkan sang bidadari bertangan besi yang begitu tegar ingin memurnikan agama itu kini “hanya” menjadi pengikut sebuah aliran yang menurut banyak orang tidak rasional dan bahkan berbau klenik. Allah Mahakuasa! Dialah yang kuasa menggerakkan hati dan pikiran orang.

Beberapa minggu kemudian aku mendapat telepon lagi dari sahabatku Mas Danu. Kali ini, dia bercerita tentang istrinya dengan nada seperti khawatir.

“Wah, mas; Hindun baru saja membakar diri. “Apa, mas?” aku terkejut setengah mati, “membakar diri bagaimana?

“Gurunya yang mengaku titisan Jibril itu mengajak jemaahnya untuk membersihkan diri dari kekotoran-kekotoran dosa. Mereka menyiram diri mereka dengan spritus kemudian membakarnya.

“Hei,” aku ternganga. Dalam hati aku khawatir juga, soalnya aku pernah mendengar di luar negeri pernah terjadi jemaah yang diajak guru mereka bunuh diri.

“Yang lucu, mas,” suara Mas Danu terdengar lagi melanjutkan, “gurunya itu yang paling banyak terbakar bagian-bagian tubuhnya. Berarti kan dia yang paling banyak dosanya ya, mas?!

“Aku mengangguk, lupa bahwa kami sedang bicara via telepon.”Doakan sajalah mas!” kata sahabatku di seberang menutup pembicaraan.

Beberapa hari kemudian Mas Danu menelepon lagi, menceritakan bahwa istrinya kini jarang pulang. Katanya ada tugas dari Syeikh Jibril yang mengharuskan jemaahnya berkumpul di suatu tempat. Tugas berat, tetapi suci. Memperbaiki dunia yang sudah rusak ini.

“Pernah pulang sebentar, mas” kata Mas Danu di telepon, “dan Sampeyan tahu apa yang dibawanya? Dia pulang sambil memeluk anjing. Entah dapat dari mana?”***Setelah itu, Mas Danu tidak pernah menelepon lagi. Aku mencoba menghubunginya juga tidak pernah berhasil. Baru hari ini. Tak ada hujan tak ada angin, aku menerima pesan di HP-ku, SMS, isinya singkat: “Mas, Hindun sekarang sudah keluar dari Islam. Dia sudah tak berjilbab, tak salat, tak puasa. (Danu).

“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mas Danu saat menulis SMS itu. Aku sendiri yang menerima pesan itu, tidak bisa menggambarkan perasaanku sendiri. Hanya dari mulutku meluncur saja ucapan masya Allah.

***Rembang, Akhir Ramadan 1423

Pernah dimuat di media Indonesia, 3 September 2003
M. Bisri (Gus Mus)

29 Oktober 2010 Posted by | Cerpen | Tinggalkan komentar

Layla

Menangis tidak selamanya tanda kelemahan. Tapi istri saya tidak bisa menafsirkan lain, ketika melihat kucur air mata Laila.

”Ada apa lagi Laila,” tanya istri saya. ”Kok nangis seperti sinetron, kapan habisnya?”

Tangis Laila bukannya berhenti, malah tambah menjadi-jadi. Saya cepat memberi kode rahasia supaya interogasi itu jangan dilanjutkan. Besar kemungkinan, itu taktik minta gaji naik.

”Laila itu bukan jenis pembantu murahan yang mata duitan. Dia orang Jawa yang tahu diri, memangnya kamu!” bentak istri saya, sambil menarik Laila bicara empat mata.

”Dia punya konflik,” kata istri saya kemudian. ”Suaminya kurang ajar. Masak memaksa Laila banting tulang, tapi dianya ngurus anak ogah! Primitif banget! Laki-laki apa itu? Giliran anaknya kena DB dibiarin saja. Coba kalau sampai mati bagaimana? Pasti si Laila lagi yang disalahin! Memangnya perempuan WC untuk nampung kotoran?!”

”Terlalu!”

”Sekarang si Romeo nyuruh Laila berhenti lagi!”

”Berhenti?”

”Ya! Apa nggak gila?! Kalau Laila tidak kerja mau ngasih makan apa si Arjuna?”

”Kali Laila dapat kerjaan baru.”

”Mana ada orang mau menerima pembantu yang tiap sebentar pulang, karena anaknya nangis!”

”Jadi Laila akan berhenti?”

”Tidak! Biar Laila bawa Arjuna kemari, jadi kerjanya tenang.”

”Boleh sama si Romeo?”

”Memang itu yang dia mau!”

Saya menarik nafas. Sejak itu, Arjuna yang baru lima tahun itu jadi bagian dari rumah kami. Kalau dia nangis, sementara ibunya memasak, sedangkan istri saya sibuk, itu tanggung jawab saya.

Mula-mula berat. Tapi kemudian terjalin persahabatan indah antara saya dan Arjuna. Saya bahkan merasa tersanjung ketika Arjuna memanggil saya Pakde.

Sudah 11 tahun saya dan istri merindukan anak. Kami sudah capek menjalani nasehat dokter. Akhirnya kami ambil kesimpulan, tugas manusia memang beda-beda. Kami mungkin bukan mesin reproduksi manusia.

Kehadiran Arjuna membuat rumah berubah. Kelucuan bahkan kebandelan Arjuna menyulap tiap hari jadi beda. Sampai-sampai istri saya memanggilnya si Buah Hati.

Tapi pulang dari mudik, saya terkejut. Di dapur terdengar suara ketawa beberapa orang anak. Ternyata di situ ada lima bocah hampir seusia Arjuna sedang main petak umpet. Mereka sama sekali tidak takut oleh kehadiran saya.

”Itu anak-anak pembantu-pembantu sebelah.”

”O ya?”

”Ya, orangtuanya juga sibuk kerja, jadi anaknya tidak ada yang ngurus. Daripada mereka jadi gelandangan atau korban narkoba, aku suruh saja main di sini nemani si Buah Hati,” kata istri saya.

Mula-mula saya keberatan. Satu anak tertawa dalam rumah, memang lucu. Tapi enam orang, saya akan kehilangan privasi.

Ketika saya sedang bekerja di meja, semuanya seliwar-seliwer di depan pintu. Kalau saya menoleh mereka mencelup. Punggung saya terasa gatal ditancapi tatapan. Saya kira mereka mulai kurang-ajar.

”Kamu frustrasi!” komentar istri saya sambil tertawa,

”Persis!”

”Karena kamu kurang peka!”

Saya berpikir. Istri saya terus ketawa.

”Kamu tidak peka. Anak-anak itu tahu kamu baru kembali dari mudik. Mereka menunggu.”

”Menunggu apa?”

”Biasanya kalau pulang mudik orang bawa oleh-oleh.”

”Aku bawa untuk Arjuna, bukan untuk mereka!”

”Mereka semua anak-anak. Kamu harus berikan sesuatu kepada semuanya.”

Istri saya mengulurkan sebuah kantung plastik yang penuh coklat.

”Bagikan ini pada mereka!”

Saya takjub, tapi tak bisa menolak.

Sejak peristiwa itu, rumah saya seperti penitipan anak. Kerap ibu-ibu tetangga karena keperluan yang mendesak menitipkan anak di rumah kami. Anaknya pun senang bahkan mereka menganjurkan agar dirinya dititipkan.

Untung saya cepat membiasakan diri. Apalagi keadaan itu membuat gengsi kami naik. Istri saya menjadi popular. Saya sering dipuji sebagai lelaki sejati.

Tetapi kemudian Laila kembali menangis.

”Si Romeo bertingkah lagi!” umpat istri saya setelah mengusut Laila, ”bayangkan, masak dia minta dibelikan motor!”

”Motor? Emang mau ngojek.”

”Boro-boro ngojek, naik motor juga nabrak melulu!”

”Terus untuk apa?”

”Menurut Laila itu mau disewakan Romeo pada tukang ojek. Laila minta gajinya setengah tahun di bayar di muka.”

”Kamu tolak kan?!”

”Gimana ditolak? Laila diancam akan digebukin kalau tidak berhasil.”

Saya jadi penasaran. Lalu saya mencecer Laila.

”Laila, cinta itu tidak buta. Kalau suami kamu terus dituruti, kepala kamu bisa diinjaknya. Suami pengangguran yang mengancam dibelikan motor oleh istri itu bukan saja menginjak, tapi itu sudah explotation de l’home par l’home tahu?!”

”Ya Pak.”

”Kamu mengerti?”

”Mengerti, Pak.”

”Suami yang baik boleh dihormati, tapi yang jahat tendang!”

Laila tunduk dan mulai menangis.

”Kamu kok cinta mati sama si Romeo, kenapa? Jangan-jangan kamu sudah kena pelet!”

”Saya hanya mau berbakti kepada suami, Pak!”

”Itu bukan berbakti, tapi sudah bunuh diri!”

”Orangtua saya selalu berpesan, suami itu guru, Pak. Kata Ibu saya, tidak boleh membantah kata suami, nanti tidak bisa masuk surga!”

”Tapi kelakuan si Romeo kamu itu sudah melanggar HAM!”

Laila menunduk dan meneruskan menangis. Hanya motor yang bisa menyetop air matanya. Terpaksa saya mondar-mandir ke sana ke mari untuk mencari info motor bekas. Beruntunglah salah satu satpam bangkrut karena kalah berjudi. Dia jual murah motornya. Langsung saya bayar, daripada kehilangan Laila.

”Ah?! Ngapain mesti peduli semua permintaan Laila,” kata istri saya marah-marah, ”Kalau kamu manjakan dia begitu, sebentar lagi dia akan menginjak kepala kita! Pembantu itu jangan dikasih hati. Kalau dia mau berhenti, biarin. Kita cari yang lain!”

Tapi kemudian istri saya sendiri yang menyerahkan kunci motor bekas itu kepada Laila.

”Ini motornya, Laila. Cicil berapa saja tiap bulan, asal kamu jangan keluar!”

Laila mencium tangan istri saya dengan terharu. Saya juga mendapat perlakuan manis. Laila kelihatan sangat bahagia. Sambil nyuci ia menyenandungkan lagu Nike Ardila.

Tapi itu hanya berlangsung sebulan.

”Si Romeo itu memang kurang ajar!” teriak istri saya kemudian, ”Motor sudah digadaikan lagi, katanya nggak ada yang doyan nyewa motor bekas!”

Saya bengong. Dengan mata berkaca-kaca Laila minta maaf. Katanya, suaminya diancam akan dibunuh kalau tidak melunasi hutangnya setelah kalah taruhan bola.

Istri saya mencak-mencak. Tapi kemudian ia mendesak saya menebus motor itu dengan janji, Romeo dilarang menyentuhnya.

”Kamu saja yang boleh naik motor itu Laila! Yang lain-lain, haram!”

Sejak itu Laila masuk kerja menunggang motor. Mobilitasnya lebih rapih. Dia selalu datang tepat waktu. Anaknya bangga sekali duduk di boncengan. Meski para pembantu lain keki, menganggap nasib Laila terlalu bagus, tidak kami pedulikan. Yang penting, Laila tetap setia di posnya.

”PRT seperti Laila memang perlu punya motor, supaya tenaganya tidak terkuras di jalanan. Motor itu bukan untuk dia, tetapi untuk kepentingan kami juga,” kata istri saya kepada ibu-ibu tetangga.

Tak terduga argumen itu patah, ketika pada suatu hari Laila muncul tanpa motor. Hari pertama saya diam saja. Pada hari ketiga saya tidak kuat melihat dia pulang menggendong Arjuna sambil menenteng tas besar.

”Motor kamu mana, Laila?”

”Dipakai saudara misan saya, si Neli, Pak.”

”Kenapa?”

”Kerjanya lebih jauh, Pak.”

”Kenapa dia tidak naik angkot saja?”

”Nggak boleh sama suami saya, Pak.”

Saya bingung. Kemudian saya baru tahu, Neli saudara misan Laila sekarang tinggal bersama Laila satu rumah.

”Itu motor kamu Laila, tidak boleh dipakai orang lain!”

”Tapi suami saya bilang begitu, Pak. Saya harus mengalah sebab di pabrik tempat Neli kerja aturannya keras. Kalau datang telat bisa dipecat.”

”Kamu juga harus tepat waktu sampai di sini, Laila!”

”Betul, Pak.”

”Ambil motor itu kembali!!!!!!”

Besoknya Laila masuk kerja tepat waktu. Tapi dia naik ojek. Saya marah.

”Maksudku kamu tidak hanya datang tepat waktu, tapi harus pakai motor kamu! Kalau kamu datang ke mari naik ojek, lebih baik jangan kerja!”

Laila bingung. Dia tidak mengerti apa maksud saya. Istri saya mencoba menjelaskan. Tapi bukan menjelaskan kepada Laila, dia justru menerangkan kepada saya.

”Laila tidak berani minta motor itu karena takut digampar si Romeo.”

Saya bingung.

”Kenapa bangsat itu malah ngurus misannya, bukan istrinya?”

”Sebab misan Laila itu perempuan !”

”Gila! Istrinya juga perempuan!”

”Tapi perempuan itu lebih muda! Dan Romeo sudah mau menikahi si Neli!”

Saya megap-megap.

”Ya Tuhan! Kenapa Laila nerima saja dikadalin begitu?

Istri saya hanya mengangguk.

”Sekarang memang banyak orang gila!”

Langsung saya interogasi Laila di dapur.

”Kenapa kamu terus mengalah Laila? Suami kamu sudah kurang ajar. Jangankan mau menikahi misanmu, mengancam kamu membelikan pacarnya motor saja, sudah zolim! Kenapa?”

Laila tak menjawab.

”Kamu takut? Kalau perlu aku bantu kamu mengadu kepada LBH. Orang macam Romeo itu, maaf, bajingan. Dia harus dihajar supaya menghormati perempuan!”

Laila diam saja.

”Itu namanya kamu sudah kena pelet! Kamu yang cantik begini pantasnya sudah lama menendang Romeo. Apa kamu tidak sadar?!”

”Ya, Pak.”

”Kalau sadar kenapa tidak bertindak?”

”Saya ingin berbakti pada suami, Pak!”

”Itu bukan berbakti, tapi menghamba! Diperbudak! Dijadikan kambing congek si Romeo asu itu, tahu!?”

”Ya, Pak!”

”Ya apa?”

”Kata orangtua saya, sebagai istri saya mesti menghormati suami, saya tidak boleh membantah kata suami. Hanya orang yang baik dan sabar yang akan bisa masuk surga.”

”Kalau orangtua kamu masih hidup, dia tidak akan rela kamu disiksa begini?! Kamu ini cantik Laila!”

Mendengar dua kali menyebut kata cantik, istri saya muncul. Saya diberi isyarat supaya minggir. Lalu dia bicara dari hati ke hati dengan Laila. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi kemudian saya lihat dari jauh, Laila menghapus air matanya.

”Kita tidak bisa kehilangan Laila,” kata istri saya kemudian.

”Lho, memangnya dia minta berhenti?”

”Dia tidak bisa merebut motor itu dari si Neli.”

”Tapi itu kan haknya!”

”Kita tidak bisa memaksakan jalan pikiran kita ke otaknya. Tidak. Pokoknya tidak bisa.”

”Harus! Kita berkewajibkan mengajarkan dia berpikir logis!”

”Kalau terlalu didesak, bisa-bisa dia minta berhenti.”

”O ya, Laila bilang begitu?”

”Dia tidak bilang begitu, tapi pasti akan begitu.”

”Kenapa dia begitu ketakutan?”

”Sebab Neli sudah dikawini Romeo!”

Saya terpesona. Lama saya mencoba menghayati bagaimana perempuan yang secantik Laila bisa dikuasai Romeo tak beradab itu. Saya tak akan pernah bisa mengerti.

Sementara terus-terang, kami sangat bergantung pada Laila. Kalau dia tidak ada, rumah akan berantakan.

”Kita tidak mungkin kehilangan Laila,” kata istri saya.

”Tapi dia tidak boleh dibiarkan masuk kerja terlambat terus.”

”Karena itu dia harus punya motor!”

Saya tak menjawab. Istri saya yang harus menjawab. Jawabannya agak tidak masuk akal. Laila dibelikan motor baru. Laila tersenyum sambil meneteskan air mata haru mendengar keputusan itu. Arjuna juga tertawa.

Motor kedua Laila langsung dari dealer. Bodinya mulus, suaranya halus dan tarikannya kuat. Laila dan Arjuna selalu datang tepat waktu. Saya dan istri puas, merasa keputusan kami tepat.

Tapi tak sampai satu bulan, tiba-tiba Laila muncul kembali dengan motor bututnya yang lama. Waktu kedatangannya memang tepat. Wajahnya juga tidak berubah. Ia tetap cantik dan ceria. Hanya Arjuna yang kelihatan rewel. Dan istri saya ngamuk.

Tidak pakai pendahuluan lagi, Laila langsung digebrak.

”Laila, Ibu sudah bosan bicara! Kalau kamu masih saja datang pakai motor busuk ini, tidak usah kembali! Pulang! Ibu beli motor baru untuk kamu dan Arjuna bukan untuk lelaki hidung belang itu! Kalau motor itu dipakai oleh orang lain, kamu berhenti saja kerja sekarang! Kembalikan motor kamu!”

Laila gemetar. Saya pun tersirap. Belum pernah istri saya marah seperti itu. Tanpa berani membantah lagi. Laila menaikkan lagi Arjuna yang sudah turun dari motor, lalu segera pergi. Saya lihat mukanya pucat pasi.

Saya kira perempuan itu tidak akan pernah kembali lagi. Tapi saya keliru. Besoknya, terdengar suara motor yang halus masuk ke halaman. Saya cepat keluar dan kaget melihat Laila dengan motor barunya. Arjuna tertawa senang. Laila mengangguk dan menyapa saya dengan sopan.

”Laila kembali, tapi mungkin untuk pamit pergi,” bisik saya.

Istri saya menjawab acuh tak acuh.

”Sudah waktunya dia menghargai dirinya sendiri!”

Hari berikutnya, seminggu, sebulan dan seterusnya, Laila tetap bekerja. Ia selalu datang tepat waktu. Lewat dengan anak dan motor baru, memasuki halaman rumah kami ia kelihatan tegar. Tidak pernah menangis lagi. Rupanya terapi kejut dari istri saya sudah membuatnya menjadi orang lain.

Tapi kalau diperhatikan ada sesuatu yang hilang. Laila tidak pernah lagi menggumamkan lagu Nike Ardila. Kadang-kadang dia termenung dan kelihatan hampa.

Ketika gajinya dinaikkan, Laila tersenyum, mencium tangan istri saya, tapi tidak lagi meneteskan air mata. Saya jadi penasaran.

”Laila, kenapa kamu kelihatan tidak terlalu gembira?”

”Saya gembira gaji saya dinaikkan Ibu, terima kasih, Pak.”

”Kamu naik motor mulus yang membuat iri orang-orang lain. Anak kamu senang dan sehat. Saya dengar saudara misan kamu sudah tidak di rumah kamu lagi. Suami kamu juga sudah tidak berani lagi memukul dan berbuat semena-mena. Betul?”

”Betuk, Pak.”

”Tapi kenapa kamu kelihatan susah?”

Laila menunduk.

”Kenapa kamu sedih?”

”Ya, Pak, karena sekarang saya tidak akan bisa masuk surga.”

Oleh : Putu Wijaya

Jakarta, 12 Oktober 09

29 Oktober 2010 Posted by | Cerpen | Tinggalkan komentar

“Daun-daun Waru di Samirono”

Oleh : NH. Dini

 

Matahari bersinar lembut.

Tadi malam hujan yang mendadak menyiram bumi Mataram membikin orang-orang kaget namun berlega hati. Kemarau tiba-tiba terputus sejenak walaupun mungkin akan diteruskan selama dua atau tiga bulan mendatang. Seingat Mbah Jum, para tetangganya sering menyebut September karena berarti sumberé kasèp¹. Perempuan tua itu hanya mengenal nama-nama bulan Jawa melalui hitungan cahaya malam di langit: Jumadil Akhir, Ruwah…. Dia baru menyadari bahwa poso atau puasa sudah tampak di ambang waktu. Keluarga Bu Guru yang tinggal di rumah depan mengatakan bahwa hujan itu sebagai tanda
bumi Mataram berduka dengan terjadinya ontran-ontran² di Surakarta. Karena menurut dia, meskipun Kartosuro dan Mataram sudah terpisah menjadi dua kerajaan, sesungguhnya masih terjalin kental.

Bagaimanapun juga, setelah meninggalkan keramaian Pasar Ndemangan, ketika Mbah Jum tiba di tanjakan yang membelok, tubuhnya masih terasa segar karena matahari yang redup. Padahal kemarin sore, untuk ke sekian kalinya dia menerima hantaman keras di dada kirinya. Dia tidak terlalu mempersoalkan dari mana asalnya rasa ngilu tersebut. Hingga saat keluarga Bu Guru menyuruh pembantu memanggil dia supaya makan di dapur, Mbah Jum masih tergeletak di ambèn-nya. Selesai makan, dia mengerok sendiri leher, dada, dan bahunya. Merah nyaris ungu warna bilur-bilurnya. Rupanya dia memang menderita masuk angin.

Langit mendung. Tampaknya kemurungan masih akan berlanjut hari itu. Pengaruh kelakuan dan suasana batin para priyagung³ sangat besar, kata seorang dari cucu Bu Guru. Mbah Jum percaya itu. Ketika Ngerso Dalem4 yang sepuh dulu kondur5 ke alam langgeng, bersama warga kota raja, wanita itu menyaksikan sendiri bagaimana selama tiga malam, bulan berwajah cemberut di langit kelam, seluas dua depa pandangan mata dilingkari sapuan benang kabut.

Untunglah alam tidak terlalu mengubah kondisinya jika orang kecil seperti dirinya bersedih hati. Karena jika hal sebaliknya yang terjadi, betapa akan mawut6-nya suasana dunia. Sebab jumlah kawulo7 di kota raja saja jauh lebih banyak daripada kaum njeron bètèng8. Belum terhitung yang berada di tempat-tempat lain.

“Mana galahnya, Mak?” seseorang menegur, berteriak dari seberang ketika dia tiba di puncak tanjakan.

Jalan yang dulu hanya dilalui kereta kuda, becak dan sepeda itu kini bisa dimuati empat bahkan mungkin enam berjejeran dari masing-masing jenis kendaraan tersebut. Ujung selendang dia angkat ke tentangan dahi guna melindungi mata dari cahaya yang telah berubah, bersinar menyilaukan.

Sambil mengawasi dari jauh siapa yang berseru, otak perempuan itu sempat berpikir. Panggilan kepadanya dimulai dari Lik, Mak, kemudian berubah menjadi Mbah9 dari waktu ke waktu menuruti perubahan penampilan tubuh dan lebih-lebih warna rambutnya. Kali itu, sebutan Mak tentu diucapkan oleh seseorang yang sudah cukup lama mengenal dia.

Laki-laki yang duduk di bangku warung seberang jalan menggerakkan tangan kanan di tentangan kepala sebagai pemberitahuan bahwa dialah yang menegur.

Mak Jum berhenti, berdiri tepat di pinggir trotoar menghadap ke seberang. Dia berseru menjawab. Tetapi, suaranya ditelan kegaduhan mesin kendaraan roda empat maupun dua, dikacaukan oleh putaran angin yang membawa debu siluman yang terangkat dari gerakan setiap benda di sana. Setelah dua kali kerongkongannya menggembung oleh teriakan, akhirnya wanita itu terdiam. Tangannya menunjuk ke arah belokan terdekat di hadapannya.

Lelaki di seberang jalan mengangguk sambil sekali lagi mengangkat lengan kanan memberi isyarat bahwa dia sudah paham. Lalu pandangannya tertuju ke kelokan. Di pojok sedang dibangun sesuatu, tampak luas dan besar. Bagian tepi dikelilingi pagar dari seng, namun tepat di belokan muncul dahan-dahan pohon waru, berkilau dalam kehijauannya yang pekat. Setiap daun tampak segar. Nyata masing-masing merupa dalam bentuk jantung. Barangkali mereka gembira setelah mandi-mandi air hujan malam kemarin.

“Berangkat cari daun waru, Lik Jum?”

“Sudah mendapat banyak daunnya, Mbah Jum?”

“Mari saya bantu menghitung daun warunya ya Mak Jum!”

Semua orang mengenal dia. Hanya pendatang baru, misalnya anak-anak yang mondok di kos-kosan, pengontrak rumah pengganti penghuni lama yang akan bertanya: siapa Mak atau Mbah Jum itu?

Dia tidak tahu usianya yang pasti. Pak Dukuh10 memberinya tahun kelahiran yang dikira-kira saja. Waktu itu penduduk harus didata karena negara sudah teratur dan merdeka, kata Pak Bayan11.

Mbah Jum sendiri tidak begitu yakin dari mana asalnya. Seingatnya, dia selalu tinggal di bilik belakang rumah Bu Guru. Hingga saat kecelakaan bus yang menimpa hampir setengah warga kampung, dia selalu menyapu dan membersihkan pekarangan. Bila ledeng tidak mengalir, dia mengangsu12 dari sumur di tengah kampung. Di belakang kepalanya bercampur aduk selaksa kenangan yang tidak pernah jelas gambarannya. Paling menonjol adalah kata-kata mengungsi, diiringi penguburan bersama setelah Merapi meluluhkan desa-desa di lerengnya. Lalu dia dibawa Bu Guru ke kota raja. Dia hanya mampu mengikuti pelajaran hingga kelas 3 Sekolah Rakyat13. Untuk seterusnya dia turut mengasuh anak-anak Bu Guru hingga besar, hingga Bu Guru meninggal dan anak-anak bergiliran berumah-tangga. Sekarang, seorang dari cucu Bu Guru juga menjadi pengajar di salah satu sekolah tinggi. Mbah Jum sulit mengingat sebutan tepat untuk guru di sana.

Di usia KTP 78 tahun, dia menjadi nenek bagi seisi kampung. Apa pun yang dipanggilkan warga kepadanya, Mbah Jum selalu menoleh dan menanggapi.

Sejak tabrakan bus, sebelum Bu Guru meninggal, Mbah Jum tidak dapat mengerjakan apa pun yang membutuhkan kekuatan pundak, punggung, dan pinggulnya. Dia tetap menjadi bagian keluarga Bu Guru. Makanan tidak sulit, karena di mana-mana orang mengulurkan sepincuk nasi bersama lauk, segelas teh atau air. Sedangkan di dapur keluarga Bu Guru, dia mendapat sajian di atas papan rak. Nasi lengkap dengan masakan hari itu. Di dalam kardus di tentangan kepala ambèn, dia selalu mempunyai dua pakaian bersih dan cukup bagus untuk dikenakan buat réwang. Di saat-saat ada hajatan, penduduk kampung tidak melupakan bantuan Mak Jum. Karena dia masih bertenaga untuk mengupas, membersihkan atau mengiris sayur. Namun, pekerjaan tetapnya adalah mencari daun waru.

Pembuat tempe dan tahu berderet nyaris sepanjang kampung. Tetapi, yang mengerjakan tempe gembus hanya satu. Sejak dia disebut Lik sampai kini, Mbah Jum merupakan satu-satunya pemasok daun waru sebagai pembungkus tempe gembus spesial dari kampung tersebut. Daun pisang sudah lumrah digunakan. Tetapi harganya lebih mahal, karena tempe lebih bergengsi daripada ampas tahu. Apalagi jika dikemas di dalam daun pisang. Untuk mengurangi pengeluaran, seorang pedagang membungkus limbah tersebut dengan daun waru.

Beberapa tukang becak yang mangkal di kelokan jalan bergantian mengucapkan kalimat-kalimat ramah. Seorang dari mereka menarik sebatang bambu yang diselipkan di antara dahan pohon waru.

“Daunnya hari ini bersih-bersih, Mbah,” katanya sambil menyerahkan galah kepada perempuan berambut abu-abu itu.

“Nuwun, Mas, nuwun,”14 kata Mbah Jum sambil melepas selendang pengikat gendongan, lalu meletakkannya di dalam tenggok15 di tanah.

Tanpa menunggu, dia langsung menengadah, mengaitkan pisau di ujung galah ke ranting-ranting yang bisa dia gapai. Maka berjatuhanlah puluhan tangkai sarat dengan daun-daun waru. Benar, semuanya bersih. Bahkan yang terlindung dari pancaran matahari pagi masih mengandung titik-titik air bekas hujan semalam.

Dari sisi jalan belokan, Mbah Jum pindah ke sisi Jalan Colombo. Beberapa ranting tersangkut di pagar seng.

“Sebentar lagi panas terik, Mbah,” kata seorang kuli bangunan yang mengaduk pasir dan semen, “ini sedang ketigo16. Kalau yang nyangkut tidak diambil, sebentar lagi kering.”

“Biar nanti saya bantu mengambilnya, Mbah,” kata kuli yang lain.

Mbah Jum mendengar komentar itu, tetapi tidak peduli. Dia terus menengadah. Terus mengait dan ranting berdaun waru terus berjatuhan. Di sana, di dekat, tersangkut di pagar seng, lalu ada yang menimpa dirinya. Masih terus saja Mbah Jum menengadah. Untuk mendapatkan uang paling sedikit Rp 3.000, timbunan ranting harus menggunung setinggi lututnya. Selembar daun dihargai tiga puluh rupiah. Meskipun di bawah lipatan pakaian di kardus dia masih menyimpan beberapa ribu rupiah sisa upah membantu dapur kondangan lalu, tetapi dia harus menambah lagi. Lebaran mendatang dia ingin membeli kain bercorak parang yang sudah lama dia idamkan.

Dia harus memanfaatkan waktu. Pedagang tempe sekarang sudah hampir semua tidak menggunakan daun pisang lagi. Juragan tempe gembus bahkan berkata akan meniru orang-orang di lain kampung, menggunakan kantongan plastik ukuran kecil. Jika saat itu tiba, Mbah Jum akan kehilangan satu-satunya andalan pemasukan nafkahnya yang pasti.

Kadang kala semut-semut ngangrang merah menggandul dan merambat turut jatuh. Sekali-sekali Mbah Jum menebaskan tangannya ke tubuh untuk mengusir binatang-binatang itu dari pakaiannya. Kepalanya terasa basah oleh keringat. Udara panas menekan. Pelipis dan dahi dialiri peluh, menitik dan menetes masuk ke mata.

“Hari ini tidak bawa capingnya to Mbah?” kuli bangunan bersuara lagi.

Kali itu Mbah Jum menyahut,

“Sudah bolong-bolong dan jepitan pinggirannya lepas.”

“Harus beli lagi. Di Pasar Ndemangan ’kan ada!”

“Tidak, harus di Beringarjo kalau mau beli itu,” kuli lain membantah temannya.

“Ya jauh kalau dari Ndemangan,” kuli lain menggumam, seolah-olah kalimat itu ditujukan kepada dirinya sendiri.

Percakapan itu lamat-lamat sampai di telinga Mbah Jum. Mendadak terasa tusukan ribuan jarum di dada kirinya.

“Lho Mbah! Lho Mbah! Ada apa?”

Dua kuli mendekat, menggotong lalu membaringkan wanita itu di tempat yang datar.

“Di, lepaskan paculmu. Kemari!”

“Ini adukan kedua! Nanti mengering!”

“Gebyur air yang banyak. Cepat panggil tukang-tukang becak situ!”

“Ya, benar. Di antara mereka ada yang tahu rumah simbah ini, cepat, Di!”

Sayup-sayup Mbah Jum merasakan kain yang basah disentuhkan, digosokkan di leher, kemudian dikompreskan di dahinya. Dia sempat berpikir bahwa pasti itu adalah ujung selendangnya yang telah dicelup ke ember buat mengaduk semen.

Sesudah itu, dia tidak merasa apa pun. Tidak mendengar apa pun.

Sendowo September 2004

Catatan:
1. sumbernya terlambat, tidak ada hujan/air
2. kekacauan
3. bangsawan, petinggi
4. Yang Dipertuan
5. pulang
6. jungkir balik
7. rakyat biasa
8. orang-orang bangsawan
9. Lik, dari kata bulik = tante. Mbah dari kata simbah = nenek
10. Lurah, kepala kawasan
11. sekretaris kelurahan
12. menimba dan mengusung air
13. SD
14. terima kasih
15. wadah seperti keranjang bulat, terbuat dari anyaman bambu padat
16. musim kemarau

29 Oktober 2010 Posted by | Cerpen | Tinggalkan komentar

Lelaki dengan Bekas Luka di Jidatnya

Cerpen : Sunaryono Basuki Ks-
Lelaki yang duduk tepekur di atas kursi malas yang diletakkan di kebun bunga dengan halaman tertutup rerumputan hijau lembut itu adalah seorang pemburu yang terkenal mahir menggunakan senapannya. Tak ada suara anak-anak di rumah itu sebab mereka semuanya, kecuali si bungsu, sudah pergi meninggalkannya mencari rezeki di kota-kota yang jauh, bahkan di sebuah pengeboran minyak lepas pantai di wilayah Ceram.

Mereka adalah anak-anak yang dulunya sangat rajin belajar dan berhasil menyelesaikan studi mereka di universitas-universitas terkenal. Putut, yang tertua, yang dulunya bekerja di pengeboran minyak lepas pantai, sekarang bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan asing berukuran raksasa, dan dia tidak pernah tinggal di satu kota besar dalam tempo yang lama. Kegiatannya berterbangan dari satu bandara ke bandara internasional yang lain, memberikan konsultasi yang mahal harganya, beristirahat akhir pekan di pantai negeri jauh, dan hanya sekali-sekali singgah di Jakarta.
Tidak ada waktu untuk pulang ke Bali mengikuti berbagai upacara adat yang mengalir tak kering-keringnya dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Anggota keluarganya di desa selalu membicarakannya sebagai seorang sosok yang sangat dibanggakan oleh seluruh keluarga di kampung. Warga desa yang berhasil, seorang local genius yang sudah go international.

Bilamana mereka berkumpul di pura desa untuk sebuah upacara besar, sebuah piodalan , maka ketidakhadirannya dapat dimaafkan, sedangkan warga desa yang sudah merantau ke Denpasar atau bahkan ke Surabaya, bilamana tidak menghadiri upacara itu selalu dibicarakan.

“Berapa jauhkah Surabaya? Banyak bus malam yang melintasi desa kita, tetapi kenapa dia tak datang? Bukankah dia dapat menyisihkan waktu barang dua malam untuk pulang?”

Mungkin yang paling rajin pulang untuk menghadiri piodalan di desa maupun di sanggah keluarga adalah Dek Gung yang bekerja sebagai dosen Universitas Negeri Malang. Ada Bus Simpatik yang melayani penumpang dari Malang ke Singaraja, dan bilamana pulang, Dek Gung selalu menumpang bus itu, atau membawa mobil sendiri, datang dengan istri dan anak-anaknya. Dek Gung-lah yang paling mendapat pujian dari penduduk desa maupun dari keluarga, apalagi lelaki yang semasa mudanya itu aktif dalam kegiatan Teruna-Teruni di Banjar Bali di kota Singaraja sekarang sering memberikan dana punia untuk pembangunan desa maupun pura desa.

Mang Yul adalah anak ketiga, satu-satunya anak yang paling cantik dalam keluarganya sebab dialah anak perempuan satu-satunya. Adatnya santun sebagaimana diteladankan oleh ibunya. Dia sudah hidup bersama suaminya di Jakarta, dengan demikian tak banyak dibicarakan oleh orang sedesa karena dia sudah mengikuti keluarga suaminya yang berasal dari Badung.

Tut Sur adalah si bungsu, dan setelah itu tak ada lagi anak kelima. Bukan sebab lelaki itu mengikuti prinsip KB cara Bali, yakni beranak maksimum empat sebagaimana ditunjukkan oleh sistem penamaan anak-anak, tetapi karena Tut Sur membawa serta berita duka menyertai kelahirannya. Tut Sur-lah yang masih tinggal bersama lelaki tua yang dulu terkenal sebagai seorang pemburu yang mahir menggunakan senapannya itu, tetapi lelaki itu jarang berada di rumah walaupun tinggal bersama ayahnya.

Di rumah itu hanya tinggal tiga orang, lelaki itu bersama anaknya, seorang pembantu perempuan yang usianya sudah lebih dari enam puluh tahun, dan seekor anjing yang bertugas menjaga rumah di malam hari.

Ketika istrinya hamil anak keempat itu, permintaan yang mudah dikabulkan adalah seekor babi guling yang lezat, harus dimasak sendiri, dan harus berasal dari seekor babi hutan yang masih muda.
“Kalau itu urusan kecil,” kata lelaki itu.

Maka dia pun berangkat sendirian ke arah hutan lindung di Bali Barat, perbatasan antara wilayah Buleleng dan Jembrana, namun dia tidak berburu di sana. Di mulut hutan dia berbelok ke kanan menuju arah pantai. Di situlah tempat sebaik-baiknya berburu babi hutan sebagaimana teman-temannya sesama pemburu pernah katakan. Di sana dia mungkin akan bertemu sesama pemburu dan akan mengadakan perburuan bersama. Di hutan lindung, di wilayah dekat Desa Cekik, menurut teman-temannya tidak aman. Bukan lantaran polisi hutan sering berkeliaran, tetapi lantaran penjaga hutan dari alam gaib tidak selalu ramah pada orang yang datang memasuki wilayah ini. Banyak sekali pantangan yang harus dipatuhi bilamana orang memasuki wilayah ini. Yang pertama, tentu, hati mereka tidak boleh kotor. Lalu, mereka tidak diperkenankan membawa daging sapi. Lalu, tidak boleh mengucapkan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan penjaga hutan di situ.

Pernah terjadi serombongan siswa SMA berkemah di wilayah itu bersama beberapa guru pembimbing. Sebelum berangkat, kepala sekolah sudah memberi pesan agar mereka berhati-hati berada di wilayah itu, tidak berbuat yang tak senonoh, berkata kotor, berpikiran kotor, dan tidak membawa bekal yang berasal dari daging sapi. Tidak boleh ada dendeng sapi, abon daging sapi, atau apa pun.

Salah seorang gurunya berasal dari Jawa dan tidak terlalu percaya pada hal-hal yang dianggapnya tahyul. Celakanya, ketika berada di wilayah itu dia ungkapkan ketidakpercayaan itu dalam kata-kata.

Tidak terjadi apa-apa, dan bapak guru itu semakin berani dengan mengatakan, “Bapak kan boleh makan abon, ya?” Lalu dengan enaknya dia menyantap abon yang dibawanya dari rumah dengan nasi bungkus yang disediakan panitia.

Tidak terjadi apa-apa, dan yakinlah dia bahwa apa yang dikatakan orang tentang semua larangan itu hanyalah tahyul belaka.

Ketika jam tidur datang, anak lelaki berkumpul dengan anak lelaki, dan siswa perempuan berkumpul dengan siswa perempuan dalam kemah mereka sendiri. Mula-mula terdengar teriakan dari kemah siswa perempuan.
“Ada yang bebainan ,” teriak seorang siswa.

Ternyata bukan hanya seorang siswi yang bebainan, tetapi dua, tiga, lima. Sejumlah guru perempuan mencoba menolong, lalu guru lelaki ikut datang, lalu datang pula guru yang berbekal abon daging sapi itu, tergopoh hendak memberikan pertolongan.
“Aduh!” teriak lelaki itu, jatuh terkapar ke tanah, badannya kejang-kejang.
“Pak Man bebainan juga!” teriak para siswa panik.

Begitulah kisah teman-teman pemburu tentang Pak Man yang jatuh terkapar, dan ketika dicarikan dukun yang pandai, nyawanya ditebus dengan nasi kuning, bunga-bunga, dan sebaris doa.
“Kalau tidak, dia pasti mati. Nyawanya diminta oleh penjaga hutan.”

Itu cuma salah satu kisah yang dapat ditimba dari wilayah itu. Masih banyak kisah lain yang terjadi tetapi tak tercatat. Misalnya tentang berpuluh mahasiswa yang tiba-tiba sakit perut.
“Lebih baik kita berburu di wilayah yang aman,” kata pemburu itu.

Di langit tak ada bulan, hanya bintang yang bertebaran sampai memayungi laut. Dia menunggu dengan sabar sementara dari tadi dia tak bertemu seorang pun. Tiba-tiba dia mendengar suara semak-semak yang diterjang gerakan tubuh.
Dia pun bersiap-siap dengan senapannya.
“Ini pasti babi hutan,” pikirnya.

Dan ketika suara semak belukar yang bergerak itu makin keras maka meletuslah senapannya dan terdengar tubuh yang rebah ke tanah.

“Ah, babi hutan besar yang terkena tembakanku,” keluhnya, sementara istrinya minta seekor babi yang masih muda. Pelahan dia berjalan ke semak-semak itu, dan ketika dia menyorkan senternya ke arah bunyi rebah itu, dia tertegun tak berkata apa, tak bergerak.
“Tidak!!!”
Mematung beberapa saat lamanya, akhirnya dia lari meninggalkan tempat itu.
Kepada istrinya disampaikan warta bahwa semalaman tak dijumpainya babi hutan seekor pun.
“Mungkin mereka berpindah ke arah barat, tapi aku tak berani menginjak wilayah tenget itu,” katanya.

Menjelang pagi istrinya mengeluh lantaran kandungannya terasa sakit. Dengan sepeda motor dia melarikan istrinya langsung ke rumah sakit. Ketika fajar tiba istrinya melahirkan anak mereka yang keempat, Tut Sur, Ketut Surya yang lahir ketika surya telah terbit. Ibunya meninggal saat melahirkan bayi yang sehat itu.

Lelaki itu menangis, dan seminggu kemudian dia menyembunyikan tangis yang lain dan menuai was-was yang makin bertunas, ketika dia membaca berita di harian Bali Post tentang mayat seorang lelaki dengan luka tembakan di jidatnya, ditemukan sudah membusuk di tengah hutan di wilayah pantai ujung barat Pulau Bali.

Tut Sur yang jarang tinggal di rumah itu ternyata dari jam ke jam berada di sudut kota, bicara dengan banyak orang yang tak terlalu mempedulikannya. Kadang dia bicara pada rembulan, kadang pada jembatan beton Kampung Tinggi yang kokoh. Pada suatu sore dia kembali ke rumah, bau badannya tak terlukiskan dan pakaiannya kotor. Pemburu itu masih duduk tepekur di kursi malas di tengah kebun bunga halaman rumahnya.

Tut Sur tiba-tiba menubruk lelaki itu, bersimpuh di pangkuannya dengan pertanyaan seorang anak yang haus akan jawaban:
“Ayah, ayah, kenapa ada luka di jidatku ini?”
Luka itu sudah ada sejak dia dilahirkan, tetapi kenapa dia baru bertanya sekarang?

Lelaki pemburu itu memegang kepala anaknya dengan kedua belah tangan dan dikecupnya bekas luka di jidat anak itu seolah dia ingin menghisapnya supaya tertelan ke dalam perutnya.
“Ya, Hyang Widhi. Kenapa tidak kau lubangi saja kepalaku agar anakku ini tidak menjalani siksa seumur hidupnya?”

“Ayah, ayah, kenapa ada bekas luka di jidatku? Apakah aku anak durhaka? Apakah aku Prabu Watugunung yang durhaka? Atau, apakah aku putera Dayang Sumbi?”
“Ah, siapakah yang mendongeng padamu, anakku? Ibumu bukan?” ***

Singaraja, 3 Agustus 2003

29 Oktober 2010 Posted by | Cerpen | Tinggalkan komentar

Makna sebuah Titipan

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…


“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”
~ WS Rendra

29 Oktober 2010 Posted by | Puisi | Tinggalkan komentar

Wabah

Mula-mula tak ada seorang pun di rumah keluarga besar itu yang berterus terang. Masing-masing memendam pengalaman aneh yang dirasakannya dan curiga kepada yang lain. Masing-masing hanya bertanya dalam hati, “Bau apa ini?” Lalu keadaan itu meningkat menjadi bisik-bisik antar “kelompok” dalam keluarga besar itu. Kakek berbisik-bisik dengan nenek. “Kau mencium sesuatu, nek?”

“Ya. Bau aneh yang tak sedap!” jawab nenek.
“Siapa gerangan yang mengeluarkan bau aneh tak sedap ini?”

“Mungkin anakmu.”
“Belum tentu; boleh jadi cucumu!”


“Atau salah seorang pembantu kita.”
Ayah berbisik-bisik dengan ibu. “Kau mencium sesuatu, Bu?”

“Ya. Bau aneh yang tak sedap!” jawab ibu.
“Siapa gerangan yang mengeluarkan bau aneh tak sedap ini?”

“Mungkin ibumu.”
“Belum tentu; boleh jadi menantumu.”
“Atau salah seorang pembantu kita.”

Demikianlah para menantu pun berbisik-bisik dengan istri atau suami masing-masing. Anak-anak berbisik antarmereka. Para pembantu berbisik-bisik antarmereka. Kemudian keadaan berkembang menjadi bisik-bisik lintas “kelompok”. Kakek berbisik-bisik dengan ayah atau menantu laki-laki atau pembantu laki-laki. Nenek berbisik-bisik dengan ibu atau menantu perempuan atau pembantu perempuan. Para menantu berbisik-bisik dengan orang tua masing-masing. Ibu berbisik-bisik dengan anak perempuannya atau menantu perempuannya atau pembantu perempuan. Ayah berbisik-bisik dengan anak laki-lakinya atau menantu laki-lakinya atau pembantu laki-laki. Akhirnya semuanya berbisik-bisik dengan semuanya.

Bau aneh tak sedap yang mula-mula dikira hanya tercium oleh masing-masing itu semakin menjadi masalah, ketika bisik-bisik berkembang menjadi saling curiga antarmereka. Apalagi setiap hari selalu bertambah saja anggota keluarga yang terang-terangan menutup hidungnya apabila sedang berkumpul. Akhirnya setelah semuanya menutup hidung setiap kali berkumpul, mereka pun sadar bahwa ternyata semuanya mencium bau aneh tak sedap itu.

Mereka pun mengadakan pertemuan khusus untuk membicarakan masalah yang mengganggu ketenangan keluarga besar itu. Masing-masing tidak ada yang mau mengakui bahwa dirinya adalah sumber dari bau aneh tak sedap itu. Masing-masing menuduh yang lainlah sumber bau aneh tak sedap itu.

Untuk menghindari pertengkaran dan agar pembicaraan tidak mengalami deadlock, maka untuk sementara fokus pembicaraan dialihkan kepada menganalisa saja mengapa muncul bau aneh tak sedap itu.

Alhasil, didapat kesimpulan yang disepakati bersama bahwa bau itu timbul karena kurangnya perhatian terhadap kebersihan. Oleh karena itu diputuskan agar semua anggota keluarga meningkatkan penjagaan kebersihan; baik kebersihan diri maupun lingkungan. Selain para pembantu, semua anggota keluarga diwajibkan untuk ikut menjaga kebersihan rumah dan halaman. Setiap hari, masing-masing mempunyai jadwal kerja bakti sendiri. Ada yang bertanggung jawab menjaga kebersihan kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi, dan seterusnya. Sampah tidak boleh dibuang di sembarang tempat. Menumpuk atau merendam pakaian kotor dilarang keras.

Juga disepakati untuk membangun beberapa kamar mandi baru. Tujuannya agar tak ada seorang pun anggota keluarga yang tidak mandi dengan alasan malas. Siapa tahu bau itu muncul justru dari mereka yang malas mandi. Di samping itu, semua anggota keluarga diharuskan memakai parfum dan menyemprot kamar masing-masing dengan penyedap ruangan. Semua benda dan bahan makanan yang menimbulkan bau seperti trasi, ikan asin, jengkol, dan sebagainya dilarang dikonsumsi dan tidak boleh ada dalam rumah. Setiap jengkal tanah yang dapat ditanami, ditanami bunga-bunga yang berbau wangi seperti mawar, melati, kenanga, dan sebagainya.

Ketika kemudian segala upaya itu ternyata tidak membuahkan hasil dan justru bau aneh tak sedap itu semakin menyengat, maka mereka menyepakati untuk beramai-ramai memeriksakan diri. Jangan-jangan ada seseorang atau bahkan beberapa orang di antara mereka yang mengidap sesuatu penyakit. Mereka percaya ada beberapa penyakit yang dapat menimbulkan bau seperti sakit gigi, sakit lambung, paru-paru, dan sebagainya. Pertama-tama mereka datang ke puskesmas dan satu per satu mereka diperiksa. Ternyata semua dokter puskesmas yang memeriksa mereka menyatakan bahwa mereka semua sehat. Tak ada seorang pun yang mengidap sesuatu penyakit. Tak puas dengan pemeriksaan di puskesmas, mereka pun mendatangi dokter-dokter spesialis; mulai dari spesialis THT, dokter gigi, hingga ahli penyakit dalam. Hasilnya sama saja. Semua dokter yang memeriksa tidak menemukan kelainan apa pun pada kesemuanya.

Mereka merasa gembira karena oleh semua dokter –mulai dari dokter puskesmas hingga dokter-dokter spesialis– di kota, mereka dinyatakan sehat. Setidak-tidaknya bau aneh dan busuk yang meruap di rumah mereka kemungkinan besar tidak berasal dari penyakit yang mereka idap. Namun ini tidak memecahkan masalah. Sebab bau aneh tak sedap itu semakin hari justru semakin menyesakkan dada. Mereka pun berembug kembali.

“Sebaiknya kita cari saja orang pintar;” usul kakek sambil menutup hidung, “siapa tahu bisa memecahkan masalah kita ini.”
“Paranormal, maksud kakek?” sahut salah seorang menantu sambil menutup hidung.

“Paranormal, kiai, dukun, atau apa sajalah istilahnya; pokoknya yang bisa melihat hal-hal yang gaib.”
“Ya, itu ide bagus,” kata ayah sambil menutup hidung mendukung ide kakek, “Jangan-jangan bau aneh tak sedap ini memang bersumber dari makhluk atau benda halus yang tidak kasat mata.”

“Memang layak kita coba,” timpal ibu sambil menutup hidung, “orang gede dan pejabat tinggi saja datang ke “orang pintar” untuk kepentingan pribadi, apalagi kita yang mempunyai masalah besar seperti ini.”

Ringkas kata akhirnya mereka beramai-ramai mendatangi seorang yang terkenal “pintar”. “Orang pintar” itu mempunyai banyak panggilan. Ada yang memanggilnya Eyang, Kiai, atau Ki saja. Mereka kira mudah. Ternyata pasien “orang pintar” itu jauh melebihi pasien dokter-dokter spesialis yang sudah mereka kunjungi. Mereka harus antre seminggu lamanya, baru bisa bertemu “orang pintar” itu. Begitu masuk ruang praktik sang Eyang atau sang Kiai atau sang Ki, mereka terkejut setengah mati. Tercium oleh mereka bau yang luar biasa busuk. Semakin dekat mereka dengan si “orang pintar” itu, semakin dahsyat bau busuk menghantam hidung-hidung mereka. Padahal mereka sudah menutupnya dengan semacam masker khusus. Beberapa di antara mereka sudah ada yang benar-benar pingsan. Mereka pun balik kanan. Mengurungkan niat mereka berkonsultasi dengan dukun yang ternyata lebih busuk baunya daripada mereka itu.

Keluar dari ruang praktik, mereka baru menyadari bahwa semua pasien yang menunggu giliran ternyata memakai masker. Juga ketika mereka keluar dari rumah sang dukun mereka baru ngeh bahwa semua orang yang mereka jumpai di jalan, ternyata memakai masker.

Mungkin karena beberapa hari ini seluruh perhatian mereka tersita oleh problem bau di rumah tangga mereka sendiri, mereka tidak sempat memperhatikan dunia di luar mereka. Maka ketika mereka sudah hampir putus asa dalam usaha mencari pemecahan problem tersebut, baru mereka kembali membaca koran, melihat TV, dan mendengarkan radio seperti kebiasaan mereka yang sudah-sudah. Dan mereka pun terguncang. Dari siaran TV yang mereka saksikan, koran-koran yang mereka baca, dan radio yang mereka dengarkan kemudian, mereka menjadi tahu bahwa bau aneh tak sedap yang semakin hari semakin menyengat itu ternyata sudah mewabah di negerinya.

Wabah bau yang tak jelas sumber asalnya itu menjadi pembicaraan nasional. Apalagi setelah korban berjatuhan setiap hari dan jumlahnya terus meningkat. Ulasan-ulasan cerdik pandai dari berbagai kalangan ditayangkan di semua saluran TV, diudarakan melalui radio-radio, dan memenuhi kolom-kolom koran serta majalah. Bau aneh tak sedap itu disoroti dari berbagai sudut oleh berbagai pakar berbagai disiplin. Para ahli kedokteran, ulama, aktivis LSM, pembela HAM, paranormal, budayawan, hingga politisi, menyampaikan pendapatnya dari sudut pandang masing-masing. Mereka semua –seperti halnya keluarga besar kita– mencurigai banyak pihak sebagai sumber bau aneh tak sedap itu. Tapi –seperti keluarga besar kita–tak ada seorang pun di antara mereka yang mencurigai dirinya sendiri.

Hingga cerita ini ditulis, misteri wabah bau aneh tak sedap itu belum terpecahkan. Tapi tampaknya sudah tidak merisaukan warga negeri –termasuk keluarga besar itu– lagi. Karena mereka semua sudah terbiasa dan menjadi kebal. Bahkan masker penutup hidung pun mereka tak memerlukannya lagi. Kehidupan mereka jalani secara wajar seperti biasa dengan rasa aman tanpa terganggu. ***

Oleh : A. Musthofa Bisri

Rembang, 6 Juni 2003

29 Oktober 2010 Posted by | Cerpen | Tinggalkan komentar

Angin

angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari sudut ke sudut dunia ini pernah pada suatu hari berhenti ketika mendengar suara nabi kita Adam menyapa istrinya untuk pertama kali, “hei siapa ini yang mendadak di depanku?”
angin itu tersentak kembali ketika kemudian terdengar jerit wanita untuk pertama kali, sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh lagi
— sampai pagi tadi:

ketika kau bagai terpesona sebab tiba-tiba merasa scorang diri di tengah bising-bising ini
tanpa  Hawa
Oleh: Supardi Djoko Damono

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

29 Oktober 2010 Posted by | Puisi | Tinggalkan komentar

Air Selokan

“Air yang mengalir itu mengalir dari rumah sakit”,
katamu pada suatu hari minggu pagi. waktu itu kau berjalan-
jalan bersama istrimu yang sedang mengandung_ia hampir
muntah karena bau sengit itu.
Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya.
kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati

+
Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi
selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding
sesuatu: “Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu–
alangkah indahnya!” Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan
yang berkilau-kilauan di permukaan air yang anyir baunya
itu, sayang sekali.

Oleh:

Sapardi DJoko Damono

(Perahu Kertas. 1083:18)

29 Oktober 2010 Posted by | Puisi | Tinggalkan komentar

KANGEN

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku

menghadapi kemerdekaan tanpa cinta

kau tak akan mengerti segala lukaku

kerna luka telah sembunyikan pisaunya.

Membayangkan wajahmu adalah siksa.

Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.

Engkau telah menjadi racun bagi darahku.


Apabila aku dalam kangen dan sepi

itulah berarti

aku tungku tanpa api.

 

Oleh : WS. Rendra

(diambil dari buku : EMPAT KUMPULAN SAJAK, karya RENDRA, penerbit Pustaka Jaya, cetakan kedelapan, tahun 2003)

29 Oktober 2010 Posted by | Puisi | 2 Komentar

Guru

Cerpen:  Putu Wijaya

Anak saya bercita-cita menjadi guru. Tentu saja saya dan istri saya jadi shok. Kami berdua tahu, macam apa masa depan seorang guru. Karena itu, sebelum terlalu jauh, kami cepat-cepat ngajak dia ngomong.

“Kami dengar selentingan, kamu mau jadi guru, Taksu? Betul?!”
Taksu mengangguk.

“Betul Pak.”
Kami kaget.

“Gila, masak kamu mau jadi g-u-r-u?”
“Ya.”

Saya dan istri saya pandang-pandangan. Itu malapetaka. Kami sama sekali tidak percaya apa yang kami dengar. Apalagi ketika kami tatap tajam-tajam, mata Taksu nampak tenang tak bersalah. Ia pasti sama sekali tidak menyadari apa yang barusan diucapkannya. Jelas ia tidak mengetahui permasalahannya.

Kami bertambah khawatir, karena Taksu tidak takut bahwa kami tidak setuju. Istri saya menarik nafas dalam-dalam karena kecewa, lalu begitu saja pergi. Saya mulai bicara blak-blakan.

“Taksu, dengar baik-baik. Bapak hanya bicara satu kali saja. Setelah itu terserah kamu! Menjadi guru itu bukan cita-cita. Itu spanduk di jalan kumuh di desa. Kita hidup di kota. Dan ini era milenium ketiga yang diwarnai oleh globalisasi, alias persaingan bebas. Di masa sekarang ini tidak ada orang yang mau jadi guru. Semua guru itu dilnya jadi guru karena terpaksa, karena mereka gagal meraih yang lain. Mereka jadi guru asal tidak nganggur saja. Ngerti? Setiap kali kalau ada kesempatan, mereka akan loncat ngambil yang lebih menguntungkan. Ngapain jadi guru, mau mati berdiri? Kamu kan bukan orang yang gagal, kenapa kamu jadi putus asa begitu?!”

“Tapi saya mau jadi guru.”
“Kenapa? Apa nggak ada pekerjaan lain? Kamu tahu, hidup guru itu seperti apa? Guru itu hanya sepeda tua. Ditawar-tawarkan sebagai besi rongsokan pun tidak ada yang mau beli. Hidupnya kejepit. Tugas seabrek-abrek, tetapi duit nol besar. Lihat mana ada guru yang naik Jaguar. Rumahnya saja rata-rata kontrakan dalam gang kumuh. Di desa juga guru hidupnya bukan dari mengajar tapi dari tani. Karena profesi guru itu gersang, boro-boro sebagai cita-cita, buat ongkos jalan saja kurang. Cita-cita itu harus tinggi, Taksu. Masak jadi guru? Itu cita-cita sepele banget, itu namanya menghina orang tua. Masak kamu tidak tahu? Mana ada guru yang punya rumah bertingkat. Tidak ada guru yang punya deposito dollar. Guru itu tidak punya masa depan. Dunianya suram. Kita tidur, dia masih saja utak-atik menyiapkan bahan pelajaran atau memeriksa PR. Kenapa kamu bodoh sekali mau masuk neraka, padahal kamu masih muda, otak kamu encer, dan biaya untuk sekolah sudah kami siapkan. Coba pikir lagi dengan tenang dengan otak dingin!”

“Sudah saya pikir masak-masak.”
Saya terkejut.

“Pikirkan sekali lagi! Bapak kasi waktu satu bulan!”
Taksu menggeleng.
“Dikasih waktu satu tahun pun hasilnya sama, Pak. Saya ingin jadi guru.”

“Tidak! Kamu pikir saja dulu satu bulan lagi!”
Kami tinggalkan Taksu dengan hati panas. Istri saya ngomel sepanjang perjalanan. Yang dijadikan bulan-bulanan, saya. Menurut dia, sayalah yang sudah salah didik, sehingga Taksu jadi cupet pikirannya.

“Kau yang terlalu memanjakan dia, makanya dia seenak perutnya saja sekarang. Masak mau jadi guru. Itu kan bunuh diri!”
Saya diam saja. Istri saya memang aneh. Apa saja yang tidak disukainya, semua dianggapnya hasil perbuatan saya. Nasib suami memang rata-rata begitu. Di luar bisa galak melebihi macan, berhadapan dengan istri, hancur.

Bukan hanya satu bulan, tetapi dua bulan kemudian, kami berdua datang lagi mengunjungi Taksu di tempat kosnya. Sekali ini kami tidak muncul dengan tangan kosong. Istri saya membawa krupuk kulit ikan kegemaran Taksu. Saya sendiri membawa sebuah lap top baru yang paling canggih, sebagai kejutan.

Taksu senang sekali. Tapi kami sendiri kembali sangat terpukul. Ketika kami tanyakan bagaimana hasil perenungannya selama dua bulan, Taksu memberi jawaban yang sama.

“Saya sudah bilang saya ingin jadi guru, kok ditanya lagi, Pak,” katanya sama sekali tanpa rasa berdosa.
Sekarang saya naik darah. Istri saya jangan dikata lagi. Langsung kencang mukanya. Ia tak bisa lagi mengekang marahnya. Taksu disemprotnya habis.

“Taksu! Kamu mau jadi guru pasti karena kamu terpengaruh oleh puji-pujian orang-orang pada guru itu ya?!” damprat istri saya. “Mentang-mentang mereka bilang, guru pahlawan, guru itu berbakti kepada nusa dan bangsa. Ahh! Itu bohong semua! Itu bahasa pemerintah! Apa kamu pikir betul guru itu yang sudah menyebabkan orang jadi pinter? Apa kamu tidak baca di koran, banyak guru-guru yang brengsek dan bejat sekarang? Ah?”

Taksu tidak menjawab.
“Negara sengaja memuji-muji guru setinggi langit tetapi lihat sendiri, negara tidak pernah memberi gaji yang setimpal, karena mereka yakin, banyak orang seperti kamu, sudah puas karena dipuji. Mereka tahu kelemahan orang-orang seperti kamu, Taksu. Dipuji sedikit saja sudah mau banting tulang, kerja rodi tidak peduli tidak dibayar. Kamu tertipu Taksu! Puji-pujian itu dibuat supaya orang-orang yang lemah hati seperti kamu, masih tetap mau jadi guru. Padahal anak-anak pejabat itu sendiri berlomba-lomba dikirim keluar negeri biar sekolah setinggi langit, supaya nanti bisa mewarisi jabatan bapaknya! Masak begitu saja kamu tidak nyahok?”

Taksu tetap tidak menjawab.
“Kamu kan bukan jenis orang yang suka dipuji kan? Kamu sendiri bilang apa gunanya puji-pujian, yang penting adalah sesuatu yang konkret. Yang konkret itu adalah duit, Taksu. Jangan kamu takut dituduh materialistis. Siapa bilang meterialistik itu jelek. Itu kan kata mereka yang tidak punya duit. Karena tidak mampu cari duit mereka lalu memaki-maki duit. Mana mungkin kamu bisa hidup tanpa duit? Yang bener saja. Kita hidup perlu materi. Guru itu pekerjaan yang anti pada materi, buat apa kamu menghabiskan hidup kamu untuk sesuatu yang tidak berguna? Paham?”

Taksu mengangguk.
“Paham. Tapi apa salahnya jadi guru?”
Istri saya melotot tak percaya apa yang didengarnya. Akhirnya dia menyembur.

“Lap top-nya bawa pulang saja dulu, Pak. Biar Taksu mikir lagi! Kasih dia waktu tiga bulan, supaya bisa lebih mendalam dalam memutuskan sesuatu. Ingat, ini soal hidup matimu sendiri, Taksu!”

Sebenarnya saya mau ikut bicara, tapi istri saya menarik saya pergi. Saya tidak mungkin membantah. Di jalan istri saya berbisik.

“Sudah waktunya membuat shock therapy pada Taksu, sebelum ia kejeblos terlalu dalam. Ia memang memerlukan perhatian. Karena itu dia berusaha melakukan sesuatu yang menyebabkan kita terpaksa memperhatikannya. Dasar anak zaman sekarang, akal bulus! Yang dia kepingin bukan lap top tapi mobil! Bapak harus kerja keras beliin dia mobil, supaya mau mengikuti apa nasehat kita!”

Saya tidak setuju, saya punya pendapat lain. Tapi apa artinya bantahan seorang suami. Kalau adik istri saya atau kakaknya, atau bapak-ibunya yang membantah, mungkin akan diturutinya. Tapi kalau dari saya, jangan harap. Apa saja yang saya usulkan mesti dicurigainya ada pamrih kepentingan keluarga saya. Istri memang selalu mengukur suami, dari perasaannya sendiri.

Tiga bulan kami tidak mengunjungi Taksu. Tapi Taksu juga tidak menghubungi kami. Saya jadi cemas. Ternyata anak memang tidak merindukan orang tua, orang tua yang selalu minta diperhatikan anak.

Akhirnya, tanpa diketahui oleh istri saya, saya datang lagi. Sekali ini saya datang dengan kunci mobil. Saya tarik deposito saya di bank dan mengambil kredit sebuah mobil. Mungkin Taksu ingin punya mobil mewah, tapi saya hanya kuat beli murah. Tapi sejelek-jeleknya kan mobil, dengan bonus janji, kalau memang dia mau mengubah cita-citanya, jangankan mobil mewah, segalanya akan saya serahkan, nanti.

“Bagaimana Taksu,” kata saya sambil menunjukkan kunci mobil itu. “Ini hadiah untuk kamu. Tetapi kamu juga harus memberi hadiah buat Bapak.”

Taksu melihat kunci itu dengan dingin.
“Hadiah apa, Pak?”

Saya tersenyum.
“Tiga bulan Bapak rasa sudah cukup lama buat kamu untuk memutuskan. Jadi, singkat kata saja, mau jadi apa kamu sebenarnya?”

Taksu memandang saya.
“Jadi guru. Kan sudah saya bilang berkali-kali?”

Kunci mobil yang sudah ada di tangannya saya rebut kembali.
“Mobil ini tidak pantas dipakai seorang guru. Kunci ini boleh kamu ambil sekarang juga, kalau kamu berjanji bahwa kamu tidak akan mau jadi guru, sebab itu memalukan orang tua kamu. Kamu ini investasi untuk masa depan kami, Taksu, mengerti? Kamu kami sekolahkan supaya kamu meraih gelar, punya jabatan, dihormati orang, supaya kami juga ikut terhormat. Supaya kamu berguna kepada bangsa dan punya duit untuk merawat kami orang tuamu kalau kami sudah jompo nanti. Bercita-citalah yang bener. Mbok mau jadi presiden begitu! Masak guru! Gila! Kalau kamu jadi guru, paling banter setelah menikah kamu akan kembali menempel di rumah orang tuamu dan menyusu sehingga semua warisan habis ludes. Itu namanya kerdil pikiran. Tidak! Aku tidak mau anakku terpuruk seperti itu!”

Lalu saya letakkan kembali kunci itu di depan hidungnya. Taksu berpikir. Kemudian saya bersorak gegap gembira di dalam hati, karena ia memungut kunci itu lagi.

“Terima kasih, Pak. Bapak sudah memperhatikan saya. Dengan sesungguh-sungguhnya, saya hormat atas perhatian Bapak.”
Sembari berkata itu, Taksu menarik tangan saya, lalu di atas telapak tangan saya ditaruhnya kembali kunci mobil itu.

“Saya ingin jadi guru. Maaf.”
Kalau tidak menahan diri, pasti waktu itu juga Taksu saya tampar. Kebandelannya itu amat menjengkelkan. Pesawat penerimanya sudah rusak. Untunglah iman saya cukup baik. Saya tekan perasaan saya. Kunci kontak itu saya genggam dan masukkan ke kantung celana.

“Baik. Kalau memang begitu, uang sekolah dan uang makan kamu mulai bulan depan kami stop. Kamu hidup saja sendirian. Supaya kamu bisa merasakan sendiri langsung bagaimana penderitaan hidup ini. Tidak semudah yang kamu baca dalam teori dan slogan. Mudah-mudahan penderitaan itu akan membimbing kamu ke jalan yang benar. Tiga bulan lagi Bapak akan datang. Waktu itu pikiranmu sudah pasti akan berubah! Bangkit memang baru terjadi sesudah sempat hancur! Tapi tak apa.”

Tanpa banyak basa-basi lagi, saya pergi. Saya benar-benar naik pitam. Saya kira Taksu pasti sudah dicocok hidungnya oleh seseorang. Tidak ada orang yang bisa melakukan itu, kecuali Mina, pacarnya. Anak guru itulah yang saya anggap sudah kurang ajar menjerumuskan anak saya supaya terkiblat pikirannya untuk menjadi guru. Sialan!

Tepat tiga bulan kemudian saya datang lagi. Sekali ini saya membawa kunci mobil mewah. Tapi terlebih dulu saya mengajukan pertanyaan yang sama.
“Coba jawab untuk yang terakhir kalinya, mau jadi apa kamu sebenarnya?”

“Mau jadi guru.”
Saya tak mampu melanjutkan. Tinju saya melayang ke atas meja. Gelas di atas meja meloncat. Kopi yang ada di dalamnya muncrat ke muka saya.

“Tetapi kenapa? Kenapa? Apa informasi kami tidak cukup buat membuka mata dan pikiran kamu yang sudah dicekoki oleh perempuan anak guru kere itu? Kenapa kamu mau jadi guru, Taksu?!!!”

“Karena saya ingin jadi guru.”
“Tidak! Kamu tidak boleh jadi guru!”

“Saya mau jadi guru.”
“Aku bunuh kau, kalau kau masih saja tetap mau jadi guru.”

Taksu menatap saya.
“Apa?”

“Kalau kamu tetap saja mau jadi guru, aku bunuh kau sekarang juga!!” teriak saya kalap.
Taksu balas memandang saya tajam.

“Bapak tidak akan bisa membunuh saya.”
“Tidak? Kenapa tidak?”

“Sebab guru tidak bisa dibunuh. Jasadnya mungkin saja bisa busuk lalu lenyap. Tapi apa yang diajarkannya tetap tertinggal abadi. Bahkan bertumbuh, berkembang dan memberi inspirasi kepada generasi di masa yanag akan datang. Guru tidak bisa mati, Pak.”

Saya tercengang.
“O… jadi narkoba itu yang sudah menyebabkan kamu mau jadi guru?”

“Ya! Itu sebabnya saya ingin jadi guru, sebab saya tidak mau mati.”
Saya bengong. Saya belum pernah dijawab tegas oleh anak saya. Saya jadi gugup.

“Bangsat!” kata saya kelepasan. “Siapa yang sudah mengotori pikiran kamu dengan semboyan keblinger itu? Siapa yang sudah mengindoktrinasi kamu, Taksu?”

Taksu memandang kepada saya tajam.
“Siapa Taksu?!”

Taksu menunjuk.
“Bapak sendiri, kan?”
Saya terkejut.

“Itu kan 28 tahun yang lalu! Sekarang sudah lain Taksu! Kamu jangan ngacau! Kamu tidak bisa hidup dengan nasehat yang Bapak berikan 30 tahun yang lalu! Waktu itu kamu malas. Kamu tidak mau sekolah, kamu hanya mau main-main, kamu bahkan bandel dan kurang ajar pada guru-guru kamu yang datang ke sekolah naik ojek. Kamu tidak sadar meskipun sepatunya butut dan mukanya layu kurang gizi, tapi itulah orang-orang yang akan menyelamatkan hidup kamu. Itulah gudang ilmu yang harus kamu tempel sampai kamu siap. Sebelum kamu siap, kamu harus menghormati mereka, sebab dengan menghormati mereka, baru ilmu itu bisa melekat. Tanpa ada ilmu kamu tidak akan bisa bersaing di zaman global ini. Tahu?”

Satu jam saya memberi Taksu kuliah. Saya telanjangi semua persepsinya tentang hidup. Dengan tidak malu-malu lagi, saya seret nama pacarnya si Mina yang mentang-mentang cantik itu, mau menyeret anak saya ke masa depan yang gelap.

“Tidak betul cinta itu buta!” bentak saya kalap. “Kalau cinta bener buta apa gunanya ada bikini,” lanjut saya mengutip iklan yang saya sering papas di jalan. “Kalau kamu menjadi buta, itu namanya bukan cinta tetapi racun. Kamu sudah terkecoh, Taksu. Meskipun keluarga pacarmu itu guru, tidak berarti kamu harus mengidolakan guru sebagai profesi kamu. Buat apa? Justru kamu harus menyelamatkan keluarga guru itu dengan tidak perlu menjadi guru, sebab mereka tidak perlu hidup hancur berantakan gara-gara bangga menjadi guru. Apa artinya kebanggaan kalau hidup di dalam kenyataan lebih menghargai dasi, mobil, duit, dan pangkat? Punya duit, pangkat dan harta benda itu bukan dosa, mengapa harus dilihat sebagai dosa. Sebab itu semuanya hanya alat untuk bisa hidup lebih beradab. Kita bukan menyembahnya, tidak pernah ada ajaran yang menyuruh kamu menyembah materi. Kita hanya memanfaatkan materi itu untuk menambah hidup kita lebih manusiawi. Apa manusia tidak boleh berbahagia? Apa kalau menderita sebagai guru, baru manusia itu menjadi beradab? Itu salah kaprah! Ganti kepala kamu Taksu, sekarang juga! Ini!”

Saya gebrakkan kunci mobil BMW itu di depan matanya dengan sangat marah.
“Ini satu milyar tahu?!”
Sebelum dia sempat menjawab atau mengambil, kunci itu saya ambil kembali sambil siap-siap hendak pergi.

“Pulang sekarang dan minta maaf kepada ibu kamu, sebab kamu baru saja menghina kami! Tinggalkan perempuan itu. Nanti kalau kamu sudah sukses kamu akan dapat 7 kali perempuan yang lebih cantik dari si Mina dengan sangat gampang! Tidak perlu sampai menukar nalar kamu!”

Tanpa menunggu jawaban, lalu saya pulang. Saya ceritakan pada istri saya apa yang sudah saya lakukan. Saya kira saya akan dapat pujian. Tetapi ternyata istri saya bengong. Ia tak percaya dengan apa yang saya ceritakan. Dan ketika kesadarannya turun kembali, matanya melotot dan saya dibentak habis-habisan.

“Bapak terlalu! Jangan perlakukan anakmu seperti itu!” teriak istri saya kalap.
Saya bingung.

“Ayo kembali! Serahkan kunci mobil itu pada Taksu! Kalau memang mau ngasih anak mobil, kasih saja jangan pakai syarat segala, itu namanya dagang! Masak sama anak dagang. Dasar mata duitan!”

Saya tambah bingung.
“Ayo cepet, nanti anak kamu kabur!”

Saya masih ingin membantah. Tapi mendengar kata kabur, hati saya rontok. Taksu itu anak satu-satunya. Sebelas tahun kami menunggunya dengan cemas. Kami berobat ke sana-kemari, sampai berkali-kali melakukan enseminasi buatan dan akhirnya sempat dua kali mengikuti program bayi tabung. Semuanya gagal. Waktu kami pasrah tetapi tidak menyerah, akhirnya istri saya mengandung dan lahirlah Taksu. Anak yang sangat mahal, bagaimana mungkin saya akan biarkan dia kabur?

“Ayo cepat!” teriak sitri saya kalap.
Dengan panik saya kembali menjumpai Taksu. Tetapi sudah terlambat. Anak itu seperti sudah tahu saja, bahwa ibunya akan menyuruh saya kembali. Rumah kost itu sudah kosong. Dia pergi membawa semua barang-barangnya, yang tinggal hanya secarik kertas kecil dan pesan kecil:

“Maaf, tolong relakan saya menjadi seorang guru.”
Tangan saya gemetar memegang kertas yang disobek dari buku hariannya itu. Kertas yang nilainya mungkin hanya seperak itu, jauh lebih berarti dari kunci BMW yang harganya semilyar dan sudah mengosongkan deposito saya. Saya duduk di dalam kamar itu, mencium bau Taksu yang masih ketinggalan. Pikiran saya kacau. Apakah sudah takdir dari anak dan orang tua itu bentrok? Mau tak mau saya kembali memaki-maki Mina yang sudah menyesatkan pikiran Taksu. Kembali saya memaki-maki guru yang sudah dikultusindividukan sebagai pekerjaan yang mulia, padahal dalam kenyataannya banyak sekali guru yang brengsek.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Saya seperti dipagut aliran listrik. Tetapi ketika menoleh, itu bukan Taksu tetapi istri saya yang menyusul karena merasa cemas. Waktu ia mengetahui apa yang terjadi, dia langsung marah dan kemudian menangis. Akhirnya saya lagi yang menjadi sasaran. Untuk pertama kalinya saya berontak. Kalau tidak, istri saya akan seterusnya menjadikan saya bal-balan. Saya jawab semua tuduhan istri saya. Dia tercengang sebab untuk pertama kalinya saya membantah. Akhirnya di bekas kamar anak kami itu, kami bertengkar keras.

Tetapi itu 10 tahun yang lalu.
Sekarang saya sudah tua. Waktu telah memproses segalanya begitu rupa, sehingga semuanya di luar dugaan. Sekarang Taksu sudah menggantikan hidup saya memikul beban keluarga. Ia menjadi salah seorang pengusaha besar yang mengimpor barang-barang mewah dan mengekspor barang-barang kerajinan serta ikan segar ke berbagai wilayah mancanegara.

“Ia seorang guru bagi sekitar 10.000 orang pegawainya. Guru juga bagi anak-anak muda lain yang menjadi adik generasinya. Bahkan guru bagi bangsa dan negara, karena jasa-jasanya menularkan etos kerja,” ucap promotor ketika Taksu mendapat gelar doktor honoris causa dari sebuah pergurauan tinggi bergengsi. ***

Oleh : Putu Wijaya

Mataram, Jakarta, 22-10-01
Jakarta, 31-12-01

27 Oktober 2010 Posted by | Cerpen | Tinggalkan komentar

Sang Primadona

Cerpen A. Mustofa Bisri

Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing.
Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil.

Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah– kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak kecil aku sudah menjadi “primadona” keluarga. Kedua orang tuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.

Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun –alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara.

Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi.

Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang, seperti sering aku lihat dalam film. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba foto model. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Kuliahku pun tidak berlanjut.

Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini, aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan; diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial; menjadi host di tv-tv; malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminar-seminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. Yang terakhir ini, boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar, aku tak peduli.

Soal kuliahku yang tidak berlanjut, aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku, “Ah, belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan, tak mengapa; bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Materi cukup.”

Memang sebagai perempuan yang belum bersuami, aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orang tua. Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Sementara banyak kawan-kawanku yang sudah lulus kuliah, masih lontang-lantung mencari pekerjaan.

Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua, aku mengundang mereka dari kampung. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu, kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. Yang masih selalu ibu ingatkan, baik secara langsung atau melalui surat, ialah soal ibadah.

“Nduk, ibadah itu penting. Bagaimana pun sibukmu, salat jangan kamu abaikan!”

“Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu, agar tidak hilang.”

“Bila kamu mempunyai rezeki lebih, jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim.”

Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Mula-mula memang aku perhatikan; bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu, tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku, lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja.

Sebagai artis tenar, tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. Tidak. Ia tidak sekadar mengidolakanku. Dia menyintaiku habis-habisan. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil; ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. Tidak itu saja. Hampir setiap hari, bila berjauhan, dia selalu telepon atau mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen.

Di antara mereka yang mengagumiku, lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. Dia seorang pengusaha yang sukses. Masih muda, tampan, sopan, dan penuh perhatian. Pendek kata, akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Aku berhasil dipersuntingnya. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan.

Begitulah, di awal-awal perkawinan, semua berjalan baik-baik saja. Setelah berbulan madu yang singkat, aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Suamiku pun tidak keberatan. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar mengubah jalan hidupku.

Beberapa bulan setelah Ragil, anak keduaku, lahir, perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. Kami, terutama suamiku, tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya berubah sama sekali. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya juga tidak seperti dulu, kini terasa sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu jarang keluar malam, hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah lagi bertanya.

Untung, meskipun agak surut, aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Sehingga, dengan sedikit menghemat, kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. Sepertinya apa saja yang aku lakukan, salah di mata suamiku. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari.

Mula-mula, aku mengalah. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka bertengkar. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka; sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. Masya Allah. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang tua mereka.

Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. Apakah ini sekadar pelarian ataukah –mudah-mudahan– memang merupakan hidayah Allah. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majelis pengajian. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam, baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat, tentang kematian dan amal sebagai bekal, maupun ketika mengajak jamaah berdzikir.

Setelah itu, aku jadi sering merenung. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian; bukan hanya yang diselenggarakan kawan-kawan artis, tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RT-ku. Tidak itu saja, aku juga getol membaca buku-buku keagamaan.

Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Selain pekerjaanku sebagai artis, aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi “asisten”-nya. Bila dia berhalangan, aku dimintanya untuk mengisi pengajian. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. O ya, aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku, sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. Malah jilbabku kemudian menjadi tren yang diikuti oleh kalangan muslimat.

Ringkas cerita; dari sekadar sebagai artis, aku berkembang dan meningkat menjadi “tokoh masyarakat” yang diperhitungkan. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga, aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro konsultasi yang kami namakan “Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona”. Aku pun harus memenuhi undangan-undangan –bukan sekadar menjadi “penarik minat” seperti dulu– sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan bahkan politik. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekadar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini.

Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi, kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan, tentu semakin terabaikan. Aku sudah semakin jarang di rumah. Kalau pun di rumah, perhatianku semakin minim terhadap anak-anak; apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. Dan terus terang, gara-gara suami, sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri.

Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. Suatu hari, tanpa sengaja, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di kamar suamiku, aku menemukan lintingan rokok ganja. Semula aku diam saja, tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Mula-mula dia seperti kaget, tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya.

Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. Ketika aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan, sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: “Ini milik siapa, Bu?”

“Apa itu?” tanyaku tak mengerti.
“Ini barang berbahaya, Bu,” sahutnya khawatir, “Ini ganja. Bisa gawat bila ketahuan!”
“Masya Allah!” Aku mengelus dadaku. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini sudah keterlaluan.

Setelah aku musnahkan barang itu, aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok, tak akan lagi menyentuh barang haram itu. Tapi seperti sudah aku duga, setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Aku sempat berpikir, jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu akibat kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak.

Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja, demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Namun seiring maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis, banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar –dan pasti akan mendengar– idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. Aku bingung.

Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku, ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!***

Cerpen A. Mustofa Bisri

27 Oktober 2010 Posted by | Cerpen | Tinggalkan komentar

Desaku Membangun

Minggu pagi,,,,tubuh yang terasa berat seakan terikat berton-ton beban di pundak, kelopak mata tarasa terus menempel enggan untuk kubuka, mungkin efek rutinitas kemarin yang tiada seperti biasa meski hanya bersantai dan numpang di atas kendaraan, perjalanan_ Jepara-Pati-Solo-Pati-Jepara-Purwodadi_ begitu terasa pagi ini. namun kokok ayam dan kumandang adzan shubuh seakan memaksaku untuk segera bangun, kudengar seorang tua yang sudah terbangun demi mengajak kami semua untuk menghadap ke haribaan-Nya suara tuanya membuat hatiku tercekik di mana semangat generasi-generasi muda jiwa-jiwa yang masih segar untuk bangun lebih awal,,,ah akupun demikian begitu teganya aku hingga membiarkan mereka yang renta terkikih.

pagi2 buta terdengar suara yang tak asing lagi di telingaku mungkin karena waktu berada di rumah setiap hari aku bercengkerama, bercanda, kadang saling mengejek juga senantiasa berbagi tentang semua pengetahuan yang kami miliki “keakraban” suara itu, pagi-pagi menggembar-gembor laksana komandan memerintah kopral-kopralnya seorang perempuan namun tegas dan lugas, mengintruksikan pada seluruh warga desa untuk “gugur gunung” membangun jalan. sebuah desa terpelosok bagitu terpencilnya hingga tiada lagi perbatasan desa sekelilingnya kecuali sungai dan sawah namun yang membuat aku besar hati, desaku memiliki masyarakat yang smangat untuk membangun desanya.. kali ini desaku memperoleh satu kesempatan menjadi salah satu desa diantara hanya beberapa desa yang mendapatkannya melalui program P2KP dan PNPM memperoleh bantuan untuk memperbaiki sarana dan prasarana.

belum juga jam dinding menunjuk jam tujuh pagi, antusiasme warga begitu mencolok mataku. laki laki-perempuan, tua-muda, bapak-bapak-ibu-ibu, juga remaja berhamburan seperti sudah terkoordinir dengan rapih. mereka telah memegang apa yang menjadi tugas mereka, pakde sarwi bagian pengukuran, kang jo bagian penataan pondasi,  lek woto cs di bagian mesin pengaduk, lek dikin dkk di bagian roli, ibu2 di bagian pengisian ember2 “pasir, koral” tenaga muda bagian pengangkatan, pemecah batu-batu, terpancar begitu terangnya keceriaan dalam wajah-wajah mereka meski keringat bercucuran, terik mentari yang begitu terasa…akupun merasakannya sendiri, pagi ini seakan tiada lagi beban dalam tubuhku, berbaur dengan mereka semua.,,,,ah aku memang payah baru berapa menit memecah batu keringat sudah bercucuran dari kepala dan tubuhku,, saat membawa adukan dalam roli ada yang sedikit tertumpah, aku malu pada diriku sendiri,,,tapi tetap sekuat tenaga aku melakukan sebisaku, membantu ini dan itu, sembari kulihat semangat mereka semuanya… aku merindukan suasana seperti ini.

terbayar sudah semua lelahku, suasana desa kelahiranku yang begitu asri, udara yang masih segar untuk hidung, hamparan padi, sawah dan pohon-pohon yang sedap terasa tertangkap lensa mataku, tetangga kiri dan kanan yang bergantian menyapa, gotong-royong, kebersamaan dan juga kepedulian yang begitu kentara. ya… suasana seperti ini yang senantiasa menambatkan  hati dan pikiranku membuat kerinduanku saat aku jauh darinya. hampir lima tahun aku berada di kota lain meski cukup dekat, dan tak jarang tetap berusaha memberikan sedikit kontribusi, namun hati ini tak tenang rasanya selalu timbul keinginan menetap di sana berusaha memberikan kontribusi maksimal untuk tanah kelahiranku, pernah aku mencoba untuk merapatkan diriku namun lagi-lagi aku terlempar ke kota lain, kali ini bertambah cukup jauh.

ah,,, mungkin belum saatnya, “pasti akan ada saat dan waktu yang tepat”,,,salah satu kutipan dari seseorang yang masih terselip di memoriku. benar, mungkin diri ini belum matang untuk bermasyarakat, benar juga banyak pelajaran yang aku dapat ketika di kota tetangga. belajar tentang bergaul, bermasyarakat serta seambrek tetek bengeknya, memperkaya khazanah keilmuwanku “belajar tidak hanya di sekolah, pengalaman merupakan guru yang berharga, jadilah pribadi yang terbaik dan jadilah orang yang bermanfaat untuk apa saja dan siapa saja yang ada di sekitarmu” kata-kata itu yang senantiasa melecut smangatku. benar aku harus bermanfaat untuk smua yang ada di sekelilingku,,,,desaku, smoga aku dapat memberikan sesuatu untukmu,,, desaku teruslah membangun, semoga semakin membaik prasarana juga hati dan jiwa masyarakatnya, termasuk aku :)

aku merindukanmu

 

Minggu, Oktober 2010

Oleh: KangFuad

 

 

20 Oktober 2010 Posted by | Cerpen | 2 Komentar

Kesalehan Total


4 Juli 2006 17:39:53
Oleh: A. Mustofa Bisri

Akhir-akhir ini sering kita mendengar dari kalangan kaum muslim, sementara orang yang mempersoalkan secara dikotomis tentang kesalehan. Seolah-olah dalam Islam memang ada dua macam kesalehan: “kesalehan ritual” dan “kesalehan sosial”.

Dengan “kesalehan ritual” mereka menunjuk perilaku kelompok orang yang hanya mementingkan ibadat mahdlah, ibadat yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan untuk kepentingan sendiri. Kelompok yang sangat tekun melakukan sholat, puasa, dan seterusnya; namun tidak perduli akan keadaan sekelilingnya. Dengan ungkapan lain, hanya mementingkan hablun minallah.

Sedangkan yang mereka maksud dengan “kesalehan sosial” adalah perilaku orang-orang yang sangat peduli dengan nilai-nilai Islami, yang bersifat sosial. Suka memikirkan dan santun kepada orang lain, suka menolong, dan seterusnya; meskipun orang-orang ini tidak setekun kelompok pertama dalam melakukan ibadat seperti sembayang dan sebagainya itu. Lebih mementingkan hablun minan naas.

Boleh jadi hal itu memang bermula dari fenomena kehidupan beragama kaum Muslim itu sendiri, dimana memang sering kita jumpai sekelompok orang yang tekun beribadat, bahkan berkali-kali haji misalnya, namun kelihatan sangat bebal terhadap kepentingan masyarakat umum, tak tergerak melihat saudara-saudaranya yang lemah tertindas, misalnya. Seolah-olah Islam hanya mengajarkan orang untuk melakukan hal-hal yang dianggapnya menjadi hak Allah belaka. Sebaliknya juga, sering dijumpai orang-orang Islam yang sangat concern terhadap masalah-masalah ummat, sangat memperhatikan hak sesamanya, kelihatan begitu mengabaikan “ibadat pribadinya”.

Padahal semuanya tahu tentang hablun minallah dan hablun minan nas. Semuanya membaca ayat, “Udkhuluu fis silmi kaffah !” tahu bahwa kesalehan dalam Islam secara total !” Masak mereka ini tidak tahu bahwa kesalehan Islam pun mesti komplit, meliputi kedua kesalehan itu.

Dan bagi mereka yang memperhatikan bagaimana Nabi Muhammad saw. Berpuasa,dan saat beliau memberi petunjuk bagaimana seharusnya orang melaksanakan puasa yang baik, niscaya tak akan ragu-ragu lagi akan ajran yang memperlihatkan kedua aspek tersebut sekaligus. Dengan kata lain, takwa yang menjadi sasaran puasa kaum Muslim, sebenarnya berarti kesalehan total yang mencakup “kesalehan ritual” dan “kesalehan sosial”. Kecenderungan perhatian sesorang terhadap salah satunya, tidak boleh mengabaikan orang lain.

20 Oktober 2010 Posted by | Catatan Gus Mus | Tinggalkan komentar

Dia, Saya dan Taqwa

Kedatangannya hari itu ke rumah saya merupakan kejutan. Pada waktu berkenalan di Jakarta pertama kali beberapa tahun yang lalu, dia kelihatan seperti tidak begitu mengacuhkan saya, sampai saya merasa tidak enak sendiri. Mereka telah mengusiknya. Sekarang, tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba dia datang ke gubug saya. Saya gembira sekali.

Dia datang menjelang maghrib dan shalat bersama para santri di surau saya yang tidak ada mihrabnya. Waktu wiridan dia sempat saya perhatikan. Dia yang mengenakan celana jeans dan gundulan, keliatan begitu mencolok di tengah para santri yang bersarung dan berpeci. Tapi mencolok lagi kekhusyukan yang wajar. Dan entah mengapa tiba-tiba saya teringat hadist, “ Al-Muslimu miraatu-l-muslimin.” Orang Islam adalah cermin orang Islam yang lain. Dan saya ingin bercermin pada diri tamu saya yang khusus ini.

Dalam banyak hal dia keliatan sangat kontras dengan saya. Dia halus, bicaranya halus. Wajahnya sedap dipandang. Namanya Jawa dan sederhana, nama saya Arab dan banyak embel-embel. Dia dari pedalaman, saya dari pesisir. Mungkin dia dibesarkan dilingkungan priyayi, sedangkan saya sejak kecil hidup di kalangan santri. Dia berpendidikan umum dan menurutnya buta huruf Arab. Sementara saya selamanya dipesantren dan akrab dengan bahasa Al Qur’an. Kenalan dia bongso Goethe, Leonardo da Vince, Van Gough, Cezanne, Monet, Gauguin, Picasso, Kafka, Sartre, Camus, Chekov, Klee, Zola, Kandinsky, dan entah siapa lagi. Sedangkan kenalan saya bongso as-Syafi’y, ar-RAafi’y, an-Nawawy, Ibnu Hajar, Romly, Ibnu Malik, al-Khalil, Abu Nawas, Al-Bushiry, Al-Ghazaly, Juneid, Zakaria, al-Anshary…Dia dikenal sebagai seniman sementara orang-orang disekeliling saya menyebut saya kiai.

Dari segi kegiatan, yang saya ketahui urusannya yaitu seputar seni berseni. Dia pelukis dan sastarawan berhasil. Disamping menulis, dia sering membuat ilustrasi di majalah – majalah san mendekor panggung untuk keperluan suatu pementasan. Sementara saya, disamping mengajarkan kitab – kitab kuning di pesantren, sering di undang memberikan ceramah keagamaan atau pengajian umum. Dalam organisasi keagamaan, saya mempunyai kedudukan yang cukup tinggi.

Dari gambaran perbandingan sekilas di atas barangkali mudah orang menarik kesimpulan, di bidang agama tentu saja saya lebih hebat daripada dia. Di lihat dari predikatnya saja, dia seniman dan saya kiai. Apalagi bila diingat kenyataan bahwa di banyak kelangan, khususnya masyarakat awam, seniman sering diidentikan dengan orang yagn hidup urakan. Sebaliknya, kiai hampir-hampir dianggap Nabi. (Apalagi banyak “kiai” yang sering sengaja menyitir hadis, “Al-Ulama waratsatu-l- anbiyaa,’ dengan pengertian : Para kiai adalah pewaris kedudukan Nabi – nabi!). Tentunya saya lebih saleh dan lebih dekat dengan Tuhan daripada dia. Bagaimana kiai yang kerjanya memberi pengajian agama tidak lebih takwa dari seniman ketoprakan?.

Tapi benarkah saya lebih takwa daripada dia, yang berarti saya lebih mulia di sisi Tuhan ? Karena, bukankah “Inna akramakumm ‘indahallahi atqaakum’? (sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa ).

Ternyata nilai takwa seseorang tidak semudah yang dilakukan orang awam. Takwa sendiri oleh banyak ulama dirumuskan dalam banyak definisi. Ada yang mengatakan bahwa takwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Da pula yang mengatakan bahwa takwa adalah berlindung pada taat Allah dari hukuman – Nya. Yang lain merumuskan : takwa adalah menjaga diri dari apa saja yang mengundang hukuman Alllah. Takwa ialah menghindari segala tata karma syariat. Takwa pada ketaatan berarti ikhlas, dan pada maksiat berarti tidak melakukannya. Dan masih banyak lagi definisi-definisi yang lain.

Allah sendiri di awal Al-Qur’an menyifatkan orang – orang yang bertakwa (al-Muttaqien) sebagai : “Mereka yang beriman kepada yang ghaib (percaya kepada yang maujud yang tak dapat ditangkap pancaindera, karena adanya dalil yang menunjukan kepada adanya), yang mendirikan salat(menunaikannya dengan teratur sesuai aturan-aturannya), yang menafkahkan sebagian rezeki yang Ia anugerahkan kepada mereka, dan mereka beriman kepada Al- Qur’an yang diturunkan kepada Rasullah saw. Dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya serta meyakini adanya hari akhir.” (Q.S. Al- Baqarah:2-4)

Sedangkan di surat Ali Imran : 135-5, Allah memberikan al-Muttaqien sebagai “Mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik diwaktu luang maupun sempit, mereka yang menahan amarahnya dan mamaafkan orang lain, mereka yang apabilamelakukan perbuatan keji atau melalimi diri sendiri segera ingat Allah lalu memohon ampun tehadap dosa-dosa mereka — dan siapa lagi yang mengampuni dosa-dosa kecuali Allah?— dan mereka tidak ngotot meneruskan apa yang mereka lakukan itu, sedang mereka mengetahui.”

Ternyata sepanjang yang saya ketahui tentang takwa yang menjadi patokan kemuliaan di sisi Tuhan itu, kesenimanan dan kekiaian tidak termasuk kriterium. Jadi sepanjang menyangkut soal ketakwaan, saya tidak bisa sekadar mengukurnya dari kesenimannya dan kekiaian saya. Apalagi Rasullah sendiri pernah berkata, sambil menunjuk dada, “at-Taqwa ha hunaa.” ( Takwa itu di sini ).

Tapi saya tidak sedang mengukur takwa siapa-siapa. Saya sedang bercermin pada diri kawan saya yang seniman dan saya melihat beberapa hal yang dapat saya manfaatkan untuk diri saya.

Saya melihat kekhusyukan tidak dalam salat dan wiridannya saja. Saya melihat nya juga pada saaat dia bicara atau mendengarkan tentang Tuhan, bahkan tentang ciptaan-Nya. Dia menyimak dan merekam segala sesuatu yang dapat mendekatkannya kepada Allah. Atau bahkan dia menyimak dan merekam-Nya pada segala sesuatu.

Orang mungkin menganggapnya muallaf, tapi dia salat di awal waktunya. Dia tahallul dari ihram hajinya dengan mencukur gundul rambutnya yang indah itu; tidak sekedar menggunting beberapa helai. Ketika orang Demak menceritakan kepadanya tentang pokok kayu yang bertahun-tahun tergolek terlantar —- karena dulu waktu datang menumpang air bah untuk melamar jadi bahan bangunan mesjid Demak, dia “tidak diterima” sebab para wali sudah selesai membangun mesjid agung itu — dia tampak begitu iba dan berjanji, kalau dia punya rezeki, dia akan mengangkat pokok kayu itu dan menjadikannya tempat ibadat, sesuai “keinginan” nya. Ketika dia menulis tentang masjid-masjid, dia mewajibkan dirinya untuk salat Jum’at dan beri’tikaf di mesjid yang bersangkutan . Ketika dia saya ajak bersilaturrahim ke tempat kiai dusun yang hidupnya diabadikan kepada masyarakat, dia begitu bersemangat. Barangkali sama dengan semangat saya seandainya di Jakarta dia mengajak saya ke Ancol. Lebih dari itu, dia secara intens merekam dan meng-gepok-tular-kan pengalaman batinnya kepada Allah lewat ceramah dan buku-bukunya untuk menambah kekayaan batin orang lain.

Walhasil saya benar-benar memperoleh manfaat dari kehadirannya.
Mungkin anda sudah mengenalnya, atau bahkan lebih mengenalnya daripada saya. Dialah saudara saya, Danarto.

 
8 Juni 2006 21:51:21
Oleh: A. Mustofa Bisri

16 Oktober 2010 Posted by | Catatan Gus Mus | Tinggalkan komentar

Selamat Tinggal “Maafkan Aku”

selamat tinggal kawan,,,

mungkin ini yang terakhir dariku

selama ini banyak kesalahan yang telah Q lakukan padamu, pada kalian

kawan, tolong maafkan aku

aku harus pergi

mungkin kita takkan bersapa kembali

selamat tinggal kawan

selamat tinggal semua

maafkan aku

 

Jepara, 07/10/10

kang Fuad

7 Oktober 2010 Posted by | Goresan | Tinggalkan komentar

SURAT DARI KEKASIH


Untukmu yang selalu Kucintai,

Saat kau bangun di pagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepadaKu., bercerita, meminta pendapatKu, mengucapkan sesuatu untukKu walaupun hanya sepatah kata.

Atau berterima kasih kepadaKu atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu pada tadi malam, kemarin, atau waktu yang lalu….

Tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja…

Tak sedikitpun kau menyedari Aku di dekat mu.

Aku kembali menanti saat engkau sedang bersiap,

Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKu, tetapi engkau terlalu sibuk…

Di satu tempat, engkau duduk tanpa melakukan apapun.

Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu.

Aku berfikir engkau akan datang kepadaKu, tetapi engkau berlari ke telefon dan menelefon seorang teman untuk sekadar berbual-bual.

Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti dengan sabar sepanjang hari. Namun dengan semua kegiatanmu Aku berfikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.

Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang ke sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKu, itulah sebabnya mengapa engkau tidak sedikitpun menyapaKu.

Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKu dengan lembut sebelum menjamah makanan yang kuberikan, tetapi engkau tidak melakukannya…..

Ya, tidak mengapa, masih ada waktu yang tersisa dan Aku masih berharap engkau akan datang kepadaKu, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.

Setelah tugasmu selesai, engkau menghidupkan TV, Aku tidak tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak, hanya engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati siaran yang ditampilkan, hingga waktu-waktu untukKu dilupakan.

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menikmati akananmu tetapi kembali engkau lupa menyebut namaKu an berterima kasih atas makanan yang telah Kuberikan.

Saat tidur Kufikir kau merasa terlalu lelah.

Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, au melompat ke tempat tidurmu dan tertidur tanpa epatahpun namaKu kau sebut. Tidak mengapa kerana mungkin ngkau masih belum menyedari bahawa Aku selalu hadir untukmu.

Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sedari.

Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat menyayangimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata darimu, ungkapan isi hatimu, namun tak kunjung tiba.

Baiklah….. engkau bangun kembali dan kembali Aku enanti dengan penuh kasih bahawa hari ini kau akan memberiKu sedikit waktu untuk menyapaKu…

Tapi yang Kutunggu … ah tak juga kau menyapaKu.

Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan

Subuh lagi kau masih tidak mempedulikan Aku.

Tak ada sepatah kata, tak ada seucap doa, tak ada pula harapan dan keinginan untuk sujud kepadaKU….

Apakah salahKu padamu …? Rezeki yang Kulimpahkan,

kesihatan yang Kuberikan, Harta yang Kurelakan, makanan yang Kuhidangkan , Keselamatan yang Kukurniakan, kebahagiaan yang Kuanugerahkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepadaKu ???

Percayalah, Aku selalu mengasihimu, dan Aku tetap berharap suatu saat engkau akan menyapaKu, memohon perlindunganKu, bersujud menghadapKu … Kembali kepadaKu.

Yang selalu bersamamu setiap saat,

Tuhanmu….

-: Khalil Gibran :

6 Oktober 2010 Posted by | Karya Kahlil Gibran | Tinggalkan komentar

RAHASIA JODOH

Berpasangan engkau telah diciptakan
Dan selamanya engkau akan berpasangan
Bergandingan tanganlah dikau
Hingga sayap-sayap panjang nan lebar lebur dalam nyala
Dalam ikatan agung menyatu kalian

Saling menataplah dalam keharmonisan
Dan bukanlah hanya saling menatap ke depan
Tapi bagaimana melangkah ke tujuan semula

Berpasangan engkau dalam mengurai kebersamaan
Kerana tidak ada yang benar-benar mampu hidup bersendirian
Bahkan keindahan syurga tak mampu menghapus kesepian Adam

Berpasangan engkau dalam menghimpun rahmat Tuhan Ya, bahkan bersama pula dalam menikmatinya
Kerana alam dan kurniaan Tuhan
Terlampau luas untuk dinikmati sendirian

Bersamalah engkau dalam setiap keadaan
Kerana kebahagiaan tersedia, bagi mereka yang menangis
Bagi mereka yang disakiti hatinya, bagi mereka yang mencari,
bagi mereka yang mencuba
Dan bagi mereka yang mampu memahami arti hidup bersama
Kerana mereka itulah yang menghargai pentingnya
orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupan mereka

Bersamalah dikau sampai sayap-sayap sang maut meliputimu
Ya, bahkan bersama pula kalian dalam musim sunyi
Namun biarkan ada ruang antara kebersamaan itu
Tempat angin syurga menari-nari diantara bahtera sakinahmu

Berkasih-kasihlah, namun jangan membelenggu cinta
Biarkan cinta mengalir dalam setiap titisan darah
Bagai mata air kehidupan
Yang gemerciknya senantiasa menghidupi pantai kedua jiwa
Saling isilah minumanmu tapi jangan minum dari satu piala
Saling kongsilah rotimu tapi jangan makan dari pinggan yang sama..

Menyanyilah dan menarilah bersama dalam suka dan duka
Hanya biarkan masing-masing menghayati waktu sendirinya
Kerana dawai-dawai biola, masing-masing punya kehidupan sendiri
Walau lagu yang sama sedang menggetarkannya
Sebab itulah simfoni kehidupan

Berikan hatimu namun jangan saling menguasainya

Jika tidak, kalian hanya mencintai pantulan diri sendiri
Yang kalian temukan dalam dia
Dan lagi, hanya tangan kehidupan yang akan mampu merangkulnya

Tegaklah berjajar namun jangan terlampau dekat
Bukankah tiang-tiang candi tidak dibina terlalu rapat?
Dan pohon jati serta pohon cemara
Tidak tumbuh dalam bayangan masing-masing?

-.:Khalil Gibran.:

6 Oktober 2010 Posted by | Karya Kahlil Gibran | 1 Komentar

CINTA (II)


Mereka berkata tentang serigala dan tikus

Minum di sungai yang sama

Di mana singa melepas dahaga

Mereka berkata tentang helang dan? hering

Menjunam paruhnya ke dalam bangkai yg sama

Dan berdamai – di antara satu sama lain,

Dalam kehadiran bangkai – bangkai mati itu

Oh Cinta, yang tangan lembutnya

mengekang keinginanku

Meluapkan rasa lapar dan dahaga

akan maruah dan kebanggaan,

Jangan biarkan nafsu kuat terus menggangguku

Memakan roti dan meminum anggur

Menggoda diriku yang lemah ini

Biarkan rasa lapar menggigitku,

Biarkan rasa haus membakarku,

Biarkan aku mati dan binasa,

Sebelum kuangkat tanganku

Untuk cangkir yang tidak kau isi,

Dan mangkuk yang tidak kau berkati

(Dari ‘The Forerunner))

-: Kahlil Gibran :

6 Oktober 2010 Posted by | Karya Kahlil Gibran | Tinggalkan komentar

LOVE OS UNSEEN


Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?

ketika kita menangis?

ketika kita membayangkan?

Ini karena hal terindah di dunia TIDAK TERLIHAT…

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan..

Ada orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan…

Tapi ingatlah…melepaskan BUKAN akhir dari dunia..

melainkan awal suatu kehidupan baru..

Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis,

Mereka yang tersakiti,

mereka yang telah mencari…

dan mereka yang telah mencoba..

Karena MEREKALAH yang bisa menghargai betapa

pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan

mereka…

Gibran

6 Oktober 2010 Posted by | Karya Kahlil Gibran | Tinggalkan komentar

CINTA yang AGUNG


Adalah ketika kamu menitikkan air mata

dan MASIH peduli terhadapnya..

Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH

menunggunya dengan setia..

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain

dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku

turut berbahagia untukmu’

Apabila cinta tidak berhasil…BEBASKAN dirimu…

Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya

dan terbang ke alam bebas LAGI ..

Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan

kehilangannya..

tapi..ketika cinta itu mati..kamu TIDAK perlu mati

bersamanya…

Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu

menang..MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika

mereka jatuh

6 Oktober 2010 Posted by | Karya Kahlil Gibran | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.